AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 223


Adel menoleh pada Bisma. "Ya dan kamu kan kakaknya.. Jadi kamu juga harus berani kayak Hery donk.. Hery sudah berusaha atasi masalah ketakutannya selama ini, nah kamu..?" Adel meletakan buah apel di dalam piring.


"Aku..?" Bisma menunjuk dirinya sendiri.


"Ya.. Kamu.. Siapa lagi.." Adel lanjut mengupas jeruk dengan tangannya.


"Eemm ya.. Nanti sore ya.." Bisma sangat manis, mengedipkan matanya berkali kali pada Adel.


"Awas kamu.." Adel jengkel dengan Bisma yang hanya bisa terus berjanji sore nanti sore nanti dan sore nanti.


Beberapa hari ini Bisma istirahat total di rumah dan di rawat Adel dengan baik, sejak kemarin Hery sudah mengatakan kalau Bisma harus mengontrolkan dirinya pada Psikiaternya, Adel pun setuju dengan Hery tapi Bisma terus beralasan seperti mengantuk, sakit kepala, sakit perut dan yang paling membuat Adel jengkel adalah Bisma mengatakan kalau ia lapar dan ingin makan ini dan itu, jika yang ia inginkan sudah di dapatkan, bukannya segera bersiap, Bisma malah makan dengan sangat lambat, hingga jam berangkat pun terlewatkan.


Kata Bisma biasanya kalau sedang makan lambat "Lagi nikmati.. Kalau gak pelan pelan, bukan nikmati namanya.."


Itu yang paling tak di sukai Adel. Bisma hanya mengulur waktu agar tak pergi ke Psikiater.


***


Sarah juga menonton berita di televisi. Rasa takut saat melihat Roy di layar televisi membuat Sarah segera mengganti chanelnya.


"Kamu kuat Sarah kamu kuat.." Gumamnya.


Sarah menatap langit langit kamarnya, setelah itu ia menatap sekeliling kamarnya.


"Coba ada benar Wol.. Pasti aku bisa menyulam.." Sarah melihat tangannya yang polos itu. Biasanya Sarah menghabiskan waktu dengan menyulam kain dengan berbagai bentuk yang ia suka, seperti bunga, daun, dan lebih banyak lagi sulaman yang ia bisa. Itu adalah hobi tersembunyi Sarah.


"Apa aku pergi beli aja kali ya..?" Sarah berpikir sejenak.


"Aduh.. Aku mau banget nyulam.." gumam Sarah lagi.


Sarah sudah meminta Hery untuk tidak membeberakan masalahnya dan Roy, cukup awak media tahu kalau Roy melakukan pelecehan saja, tanpa mengetahui siapakah yang menjadi korbannya.


Jadi Sarah masih aman jika keluar dari unitnya. Sarah melihat hiruk piruk kota ini. Banyak orang orang seperti biasa, Sarah memilih satu toko pernak pernik untuk ia singgahi. Biasanya di toko ini Sarah bisa mendapatkan benang Wol yang ia cari.


"Hai.." Sapa Seorang penjaga toko itu.


"Halo.. Eemm ada benang Wol kah.. Seperti biasa aja.." Sarah sudah terbiasa berbelanja di toko ini.


"Oohhh sebentar ya.." wanita itu masuk ke biliknya dan mencari yang Sarah minta.


"Pasti mau sulam lagi kan..? Eemm aku suka sulaman kamu kemarin, coba kamu pajang di sini pasti ada yang tertarik sama sulaman kamu.." Ucap Penjaga itu.


"Hah.. Mana ada yang mau.. Sulaman pemula kayak aku gak ada bagusnya.." Sarah rendah hati.


"Tapi aku suka.. Nanti bisa sulam nama aku kah..? Nanti aku beli.." Tawar penjaga itu.


Sarah berpikir. "Eemm boleh juga.. Oke nanti aku buatkan.. Elda kan..?"


"Ya.. Warna pink ya benangnya.. Nih bonus.." Elda menambahkan satu gulung benang wol untuk Sarah.


"Waaah makasih.." Sarah sangat senang melihat benang benangnya yang banyak ini.


Sarah pulang dengan hati riang tak ia sangka cukup melihat benang wol sebanyak ini membuatnya senang. Tapi tanpa di sadarinya ada seseorang yang mengikutinya dari belakang.


"Wanita ini sepertinya aku mengenalnya.." Gumam seseorang itu.


Sarah..