
Penjaga butik itu tersipu malu melihatnya. Apalagi ia seorang wanita. Pemandangan yang sungguh mengganggu.
Adel membulatkan matanya, Bisma melakukan itu padanya du tempat umum.
"Maaf.. Aku terlalu cinta sama kamu.." Cicit Bisma.
Mata yang awalnya membulat pun mereda. Jantung Adel serasa berhenti berdetak mendengar penuturan Bisma. Bisma mengakui cintanya bahkan di tempat umum lagi.
"Makasih.." Adel mengusap dada Bisma.
Bisma merangkul Adel dan mengecup puncak kepala Adel. Banyak pasang mata yang melihatnya, bukan hanya sekedar penjaga butik yang melayani Adel dan Bisma.
Mereka ikut hanyut dalam kemesraan Adel dan Bisma. Banyak yang senyum senyum sendiri melihatnya.
"So Sweet..." Komentar yang lainnya.
"Itu baru suami yang berani.. Di mana aja berani." Cicit seorang wanita pada pasangannya.
Adel dan Bisma menghiraukannya saja, anggaplah dunia ini milik mereka berdua.
Mereka melanjutkan memilih lagi. Tiba tiba Bisma teringat akan pesan Hery yang menyarankannya untuk membeli cincin untuk Adel.
Bisma melirik jari jari Adel. Tak ada satupun barang berkilau seperti wanita bersuami pada umumnya. Adel tidak mengenakan cincin pernikahannya.
Hati Bisma bergejolak, ingin ia segera berlari dan mencari cincin untuk istrinya ini.
"Sayang. Abis ini kita ke toko perhiasan bentar ya.." Ajak Bisma langsung.
"Hah..? Kan kita belum selesai pilih pilih.." Cicit Adel "Kamu belum ketemu baju yang pas untuk pasangan gaun aku.." Adel masih sibuk memilih.
"Gak yang ini aja sudah cukup.. Ini pasti cocok.. Ini kan memang pasangan gaun kamu.. Kita beli yang ini ya sayang.." Rengek Bisma.
"Oh ya ampun.." Adel menepuk keningnya.
"Tapi kamu belum coba.." Alasan Adel.
"Gak usah di coba.. Langsung besok aja sekalian pakai pas mau pergi undangan.." Bisma memberikan pilihan mereka pada penjaga butik itu lagi.
"Kami beli semuanya.." Adel membulatkan matanya.
"Bisma itu ada gaun yang bukan untuk ke unda.."
"Kan kamu di rumah juga harus pakai baju Del.." Potong Bisma.
"Sepatu itu tadi aku belum pilih.."Cicitnya lagi.
"Gak usah.. Percaya sama aku.. Itu pilihan aku, jadi pasti pas di kaki kamu.." Bisma mencolek dagu Adel.
Bisma melakukan pembayaran. Nominal yang di sebutkan membuat Adel geleng geleng kepala.
"Bisma itu.. Kurang.."
"Panggil apa tadi..?" Bisma menoleh dan melotot pada Adel.
"Aa. Eemm sayang itu gak kebanyakkan kah...?" Adel memeluk lengan Bisma.
"Emang kenapa.. Kan buat kita berdua juga.." Bisma mengambil paperbagnya.
"Ayo kita pergi.." ajak Bisma lagi.
"Sudah..?" Adel linglung.
"Sudah sayang.. Ayo cepat.. Aku hampir lupa tadi.." Bisma menarik paksa Adel agar lebih cepat.
Adel dan Bisma masuk ke dalam mobilnya, Bisma mendekat pada Adel dan mengecup bibir Adel sekilas. Lalu ia memasangkan seat belt Adel.
"Sayang.. Kamu mau beli apa di toko perihiasan..?" Adel mulai bercicit.
"Ada aja.. Ikut aja.." Bisma mengedipkan matanya.
.
.
.
.
.
"Oke kita tinggal tunggu kedua pasangan baru.." Dion selesai membereskan sisa sisa pekerjaannya.
"Hmmm itu sangat oke.." Rena sedang melakukan panggilan video dengan Hery.
"Iya.. Dion mengerjakannya sendiri.." Puji Rena.
"Heh.. Kalau suami kamu gak sibuk kerja, pasti suami kamu ini yang kerjakan semua itu.. Jangan sering puji Dion.. Nanti dia besar kepala.." Dion mendengar dengan jelas yang Hery katakan dari panggilan Video Rena.
"Hahahahahahahahahaha... Pinta kali kamu ya.." Cicit Dion.
"Boleh aku duduk di sini..?" Tanya Dion pada Debora yang sedang duduk dengan baby Elf.
Debora..