
Rena dan Hery sudah tiba di hotel yang Hery sewa untuk tempat resepsi pernikahan mereka nanti. Rena terpukau melihat kemegahan hotel itu yang di hias secantik mungkin untuk acara besok.
"Her.. Ini.. Pernikahan Kita?" Rena tak percaya dengan yang ia lihat.
"Iya Memangnya siapa lagi yang mau nikah...?" Hery memeluk Rena dari belakang.
"Waaahh... Cantiknya.." Pandangan Rena menyapu seluruh ruangan yang sudah di hias dengan kelap kelip indah, bunga d8 mana mana, ruangan yang di padu warna biru samudra dan putih itu sangat menawan.
"Aku sengaja pilih warna ini untuk pernikahan kita sayang... Putih, cinta aku untuk kamu seputih dan tak bernoda. Biru laut, lautan itu sangat luas, dalam, dan banyak juga kehidupan di sana. Gitu juga cinta aku sama kamu, luas, dalam, dan akan banyak Kehidupan baru nanti.." Hery mengelus elus perut Rena sambil tersenyum nakal.
Rena sangat tersipu mendengarnya. Hery benar benar pandai membuatnya malu malu tapi mau.
"Hery.. Kamu gak tahu seberapa gemesnya aku sama kamu.." Ingin sekali Rena menciumi seluruh wajah nakal itu tadi.
"Aku tahu.. Makanya aku nakal terus biar makin gemes.." Hery memeluk Rena lagi dan meletakan dagunya di bahi Rena.
"Kita akan menikah di geraja, aku harap juga kamu suka ya.. Kemarin aku minta Gerejanya di cat baru dan sedikit Renovasi gitu. Karna itu gereja sudah lama, dulu aku di baptis di sana. Dan aku mau aku nikah di sana juga, tapi pas liat gerejanya sudah tua dan warnanya sudah pudar aku berinisiatif untuk sedikit Renovasi dan salurkan bantuan sama para pengurus Gerejanya... Dan hari ini juga mereka selesai. Kita ke sana mau? Abis itu baru kita liat baju.." Ajak Hery.
"Gak cuma mempersatukan kita tapi dengan pernikahan ini banyak kabaikkan yang kita bagi, ayo kita liat gerejanya..." Rena sangat senang mendengar cerita Hery tentang Gereja itu, tempat bersejarah untuk Hery dan akan bersejarah untuk mereka berdua.
"Ayo sayangku.. Eh nanti dulu.. Kita selfi dulu..." Hery mengeluarkan ponselnya dan mengambil foto selfi bersama Rena dengan sangat mesranya bahkan ada di salah satu foto Hery mencium Rena.
Setelah selesai barulah Mereka berdua berangkat ke tempat Hery titipkan baju pengantinnya.
***
"Hery.. Ini bajuku..?" kata pertama yang di ucapkan Rena ketika melihat bajunya.
"Iya ini baju kamu.. Ya aku hanya kira kira saja ukura kamu yang sekarang.." Ucap Hery berkacak pinggang melihat gaun itu.
"Kamu tahu dari mana ini ukuran aku..?" Rena menatap Hery.
"Ya kan kamu tidurnya aku peluk, ya aku taulah ukurannya..." Jawab asal saja dia, padahal Hery sempat melihat ukuran BH, Cd, baju, celana, rok, kaos Rena yang ada di apartemen untuk membuat gaun pengantin ini. Dan saat itu Hery tidak bisa berpikir jernih karna terganggu dengan dua barang berbahaya itu, ya yang itu, yang paling mengganggu mata Hery.
"Ya kah tapi kok bisa pas gini.. Sama baby juga pas banget..?" Rena masih tak percaya, gaun itu sekarang ia pakai dan tak ada kekurangan sama sekali pada gaun itu.
"Iya sayang.. Pas aku peluk kan ada rasanya semua.." Rena membulatkan matanya mendengar ucapan Hery yang satu itu.
"Semua...?" Hery langsung salah tingkah mendengar kata "Semua" yang Rena ucapkan.
"Aaaa.. Sayang..." Hery tidak tahu ingin menjawab apa, buntu pikirannya.
Rena pun menganga dan menggelengkan kepalanya, "Ini calon suamiku..?" isi hatinya penuh dengan pertanyaan seksi.
"Semua??" Rena mengulangi pertanyaannya.
"Sayang.." Hery tidak dapat menahan tawanya.
"Semua...???" Masih terus mengulang.
"Hahaha.." Hery maju dan memeluk Rena.
"Semua sayang....?? Ada rasanya.???" Rena memeluk Hery juga.
"Sayang jangan bikin aku malu..." Mereka pun tertawa bersama sama.
***
"Apa itu Eyang..?" Roy pun penasaran.
Eyang di kamarnya dan tak sengaja saat Roy lewat Eyang pun bergumam, Roy masuk ke dalam kemar Eyangnya.
"Ini Roy.. Hery sama Rena.. Mereka dua kayaknya lagi ngecek ngecek persiapan pernikahan mereka... Ini fotonya. Ada Hery kirim ke Eyang.."
"Ya kah..?" Roy pun terkejut bukan main.
Roy minta lihat juga foto itu, dan benar saja mata Roy sampai hampir keluar karna melihat kemersraan Hery dan Rena meski hanya di dalam foto saja. Roy rasanya kecewa, putus asa, sedih, kesal, semuanya menjadi satu tempat yaitu di hatinya.
"Aaahh Eyang sangat suka kalau liat anak muda jaman sekarang lagi kasmaran, romantis banget.. Coba dulu, aahh paling main surat suratan.. Sekarang ya mau tinggal cium.. Ck ck ck.." Roy sudah tak tahan lagi dengan yang ia rasa di hatinya. Ingin ia melampiaskannya pada sesuatu.
"Permisi Eyang.." Berusaha tampak biasa dan berpamitan pada Eyang.
"Iissshh irilah itu, liat temannya romantis romantisan sama pasangannya.." Eyang pun kembali memainkan ponselnya tanpa gangguan.
"Aaaarrrhhhhh..." Roy membanting pintu kamarnya.
"Roy..?" Debora juga ada di sana sedang beristirahat.
"Kamu kenapa Roy..?" Debora pun turun dari tempat tidur dan menghampiri Roy.
Debora mengelus elus dada Roy yang kembang kempis itu. "Sabar Roy.." Pintanya lagi. Debora akan berusaha sebisanya untuk mendapatkan Roy lagi. Meski ia akan di lukai pun ia tak masalah.
"Minggir Debora..!" Roy malah memarahi Debora yang berusaha menenangkannya.
"Roy kamu kenapa..?" Debora Benar benar tidak tahu apa yang terjadi pada Roy.
"Hery...!" Rasanya Roy sangat marah ketika melihat Hery mengecup bibir Rena dengan sangat mesra di foto tadi.
"Hery..?" Debora mencoba memikirkan apa yang mungkin Saja terjadi pada Hery sehingga bisa membuat Roy semarah ini.
"Pasti Hery dan Rena makin dekat makanya Roy marah gini..." sepertinya paling mudah mencari tahi isi hati Roy.
"Roy aku kan sudah bilang.. Hery itu memang punya niat ambil Rena dari kamu.. Atau yang kayak aku bilang kemarin, itu bukan anak kamu Roy.. Itu anaknya Hery.. Pasti pas kamu ke kantor, nah Hery yang datang terus mereka ya buat apa yang seharusnya mereka buat.." Debora mungkin sudah bertobat untuk menghianati Roy tapi rasa bencinya pada Rena dan Hery sepertinya tidak akan hilang.
"Heryyyyyyy..!!!" Ingin rasanya Roy menghajar Hery saat ini juga.
"Berani sakali kamu ya...??!" Roy membayangkan seperti yang Debora katakan tentang Rena dan Hery.
"Biarlah Roy.. Jangan di terus kan lagi. Mereka dua kan mau nikah ya udah biar aja nikah... Toh kan Hery yang tanggung jawab juga, udah ya Roy sayangku..." Debora duduk di samping Roy dan mengelus elus dada Roy.
Debora tak ingin jika anak yang di kandung Rena mendapatkan sepeser pun harta milik Roy, dan jika Roy menganggap itu adalah anaknya maka pasti Roy akan memberikan semua hartanya pada sang anak. Maka apa yang Debora dapatkan, oleh karna itu sebisa mungkin Debora memfitnah Rena dan Hery.
Cup.. Berusaha mengumpulkan keberanian Debora mengecup bibir Roy. "Sudah ya sayang..." Debora juga melembutkan suaranya. Roy tak memperdulikannya karna kini yang ia pikirkan hanya tentang Hery dan Rena.
Apa mungkin yang di katakan Debora itu salah, tapi melihat dari semua ini, sepertinya yang di katakan Debora itu benar. Itu yang terus berputar putar di kepala Roy.
Off dulu guys.. Like Donk..