
Hery luluh dengan ucapan Rena. Ia benar benar tak bisa lama merajuk pada istri tercinta.
Dengan cepat Hery memeluk Rena lagi. Merentangkan tangannya dan menerima Rena di pelukkannya.
"Aku akan selalu cinta kamu Rena.. Maaf kalau aku keterlaluan.. Tapi itu karna aku gak mau kehilangan kamu.." Rena mengecup dada Hery yan telrihat dari baju tidurnya.
"Makasih sayang.." Rena menghirup aroma tubuh Hery.
"Untuk apa..? Bukannya aku tadi.. Aku terlalu posesif sama kamu.." Hery justru takut Rena akan marah padanya.
"Makasih sudah titip Alf dan Elf sama aku malam itu.." Bisik Rena lagi.
"Hah..?" Hery melirik Rena.
"Ya.. Kalau gak.. Mungkin wanita lain yang akan kamu sayang sayang sampai cemburu buta kayak tadi.." Rena mengelus pipi Hery.
"Mungkin ada wanita yang akan beruntung dapat kamu dan menjadi Mama Alf dan Elf.. Tapi karna malam itu.. Aku yang dapat kamu.." Pipi Hery merona merah semu.
"Sayang jangan ingatkan aku malam itu.. Aku malu.. Aku terlalu.." Hery menunduk dan memasukkan kepalanya ke dalam baju Rena.
"Aku sembunyi di sini aja.." Hery sangat malu.
Rena mengelus rambut Hery. Mencium aroma wanginya dan menikmati waktu bersama.
"Aaahh..?" Rena menegakkan badannya tiba tiba.
"Sayang." pekik Rena tak nyaman.
"Sayang.. Aahh.."
Hery sepertinya mulai nakal dari balik baju itu.
***
Bisma naik ke tempat tidur dengan merangkak. Di liriknya Adel yang sudah terlelap. Sepertinya hari ini Adel kelelahan sekali hingga langsung tertidur pulas seperti ini.
Bisma mengamati wajah Adel. Wajah yang selalu ceria dan membuat Bisma sering merasa lebih baik dengan keberadaannya.
Kecerewetan Adel juga sangat di rindukan Bisma saat ini, biasnya keduanya akan berebutan bantal guling. Tapi karna Adel sudah terlelap, jangankan bertengkar dengan Bisma masalah bantal guling, bantal guling itu saja tak di peluknya.
Bisma mengambil bantal itu dan meletakkannya di bawah kaki Adel.
Bibir kecil tapi seksi itu berdecap kecil karna merasa ada yang mengganggu.
Seketika ingatan Bisma seperti di putar. Ia melihat Stuart mengecup Bibir kecil seksi ini dengan lembut bahkan seakan tak ingin melepeskan pengutannya.
Rasa marah di hati Bisma mencuat. Tanpa ia sadari ia mengecup Adel juga sama seperti yang di lakukan Stuart hari itu. Bisma sangat menikmati Bibir Adel, sensasi yang tak pernah ia rasakan sama sekali.
"Bibirnya sangat manis.. Sangat lembut.. Jadi begini rasanya.." Gumam Bisma dan menatap lagi bibir itu nakal.
"Aku mau lagi.." Lirihnya.
Cup..
Bisma mengulanginya lagi hingga ia puas. Tak sampai di situ saja, Bisma juga mengangkat kepala Adel agar barbaring di lengannya.
"Aku ingin begini dulu Del.. Jangan marah ya pas bangun nanti" Bisma mengelus rambut Adel.
Saat mengelus rambut Adel, Bisma menemukan ikat rambut Adel masih di sana.
"Dia tidur gak buka ikatan rambutnya.. Nanti sakit.." Bisma sedikit bangkit dan menarik perlahan ikat rambut Adel.
Adel merasa ada yang menganggu, tapi rasanya ia benar benar mengantuk, ia pun memeluk erat guling yang ada di depannya ini.
Bisma terkesiap meraskan pelukkan Adel.
"Apa dia bangun..?" Bisma berbisik sendiri.
"Enggak.." Bisma merasa lega. Ia lanjut menguraikan rambut Adel lagi dan barulah Bisma tidur dengan nyenyak sambil memeluk Adel. Tapi entah kenapa Bisma merasa ada yang kurang juga.
Cup
Bisma mengecup kening Adel sedikit lama. Menyalurkan kedinginan bibirnya di kening hangat Adel.
Itu sangat romantis tapi sayangnya Adel tidak mengetahuinya. Bisma juga tak yakin dengan apa yang ia rasakan ini. Berharap saja ada keajaiban untuk mereka berdua.
Maaf ya agak telat upnya.. Tadi malam lupa ngetik karna ada musyawarah di rumah.. Jadi baru setor siang gini.. Tapi tetap 4 bab kok.. Seperti biasa..
Dukung karya ini ya dengan Like, koment dan Fav serta kalau berminat Vote juga boleh.. Makasih ya.. I love you Readers...