AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 122


Hery langsung membuka matanya dan menoleh pada Rena.


"Aku lebih sayang sama kalian berdua, gak ada yang bisa kalahkan cinta aku untuk kalian berdua." Rena sangat terkejut. Ia kira Hery sudah tertidur tapi ternyata Hery masih bisa mendengar ucapannya.


"Sayang kamu gak tidurkah dari tadi itu.?" Hery memperbaiki posisinya.


"Aku tidur, tapi kalau menyangkut kamu dan Baby aku langsung bangun.." Hery bermanja manja di pangkuan Rena.


"Sayang tidur lagi ya.. Kamu semalam itu gak tidur loooo.." Rena mengingatkan.


"Ya tapi aku mau teman sama Baby.. Dia gerak gerak bawa aku main..." Hery mulai mengecup perut Rena sambil terus berbicara.


"Jangan ganggu aku dan anak aku yang lagi sayang sayangan ya..!" Hery menggoda Rena.


"Ya ampun... Ck ck ck.."


***


Debora pulang dari kantor Rpy dengan mobil, senyumnya tak henti henti di bibirnya. Ia terus mengingat senyum Roy saat menyantap es krim buatannya tadi.


"Pak nanti kita lewat minimarket dulu ya.. Ada yang mau saya beli." Debora berencana membeli banyak parian rasa Es krim dan ia simpan di rumah, jadi kalau kalau Roy mau di bikinkan Es krim lagi, Debora sudah punya bahannya.


"Kta singgah di sini aja pak.." Debora pun turun dan masuk ke dalam minimarket.


Debora membeli beberapa parian rasa Es krimnya, selain rasa coklat tapi ada rasa yang lain juga. Setelah itu, Debora membeli banyak sekali pudding coklat, mengingat Roy yang sangat suka puddingnya tapi hanya yang rasa coklat.


"Hemmmm.. Apa lagi ya..?" Debora terus menyusuri rak rak di minimarket itu. Berharap Ada yang ia temukan lagi untuk Roy.


"Eeehh bumbu balado..?" Debora menemukan bumbu balado bubuk.


"Kayaknya Enak bikin kayak punya Mika kemarin. Eeemm coba ah nanti tanya lagi bi Mila." Gumam Debora dan mengambil beberapa rasa selain rasa balado.


"Cukuplah.." Debora melakukan pembayaran di kasir.


"Semuanya 200 ribu..." Ucap kasir yang melayani Debora.


"Oohh ya.." Debora mencari dompetnya tapi ia tidak menemukannya.


"Eh mana dompet aku..?" Debora langsung panik.


Debora mengingat ingat lagi, sepertinya dompetnya di dalam kamar di lemarinya.


"Oohh ya ampun.." Debor menepuk keningnya.


"Kalau gak ada uang kas, bisa pake kartu ATM bu.." Debora mendengarnya dan mencari lagi di dalam tasnya.


"Wah selamat ada.." Debora menemukan kartu ATMnya.


"Tapi bukannya ini.." Debora teringat kartunya sudah di blokir oleh Roy.


"Eeemm coba aja deh mbak.." Debora menyerahian kartu itu.


Kasir melakukan transaksi, Debora sangat takut kartu itu tidak bekerja semestinya karna telah di blok Roy.


"Ini bu.. Sudah.." Kasir mengembalikan kartu Debora dan Debora bingung sekali.


"Sudah bisa, apa Roy sudah gak Blokir kartu aku... Berarti kartu aku sudah bisa di pake lagi..?" penuh tanda tanya di otak Debora.


"Nanti akan aku tanya sama Roy.." Ucapnya dan membawa belanjaannya.


***


"Gak sebelum kamu bilang apa yang pernah kamu mau dulu waktu belum sama aku..!" Hery melipat tangnya di dada.


"Oohh ya ampun suamiku sayang.." Rena menepuk keningnya. "Aku sudah lupa sayang.." tolak Rena.


"Sayang.. Aku ini suami kamu.. Wajar kalau aku mau bahagiakan kamu..." Hery terus memohon.


"Ya sayang cukup kamu ada untuk aku dan Baby, aku sudah sangat senang, kamu jadikan aku ratumu aku sudah sangat senang.. Aku dapat cinta yang gak pernah aku dapatkan, semuanya dari kamu dan buat aku bahagia, aku gak pernah nyangka bisa sebahagia ini. Di mulai dari hubungan yang kacau, jadi hubungn cinta yang indah. Aku dulu cuma wanita simpanan sekarang jadi yang paling di sayang. Aku sudah bahagia Hery.. Ya gitu aku dulu panggil kamu, hanya Hery.. Sekarang jadi sayang.. Dulu kamu panggil aku Rena sekarang kamu panggil aku Sayang.. Aku senang banget. Dulu kita pernah tidur sama sama, aku tenang kalau tidur sama kamu... Kamu peluk aku dan aku bangun langsung liat kamu, aku dulu takut liat wajah kamu waktu baru bangun tidur, soalnya kamu ganteng banget kalau lagi tidur.. Aku jadi malu sendiri.. Makanya sekarang kalau aku bangun tidur maunya liat kamu dulu..." Hery menarik Rena ke dalam pelukannya.


"Makanya manja terus ya..?" Pipi Rena memerah karna baru saja ia jujur dengan Hery tentang apa yang ia rasakan dulu saat bersama Hery tanpa status.


"Aku juga dulu gitu.. Aku malu juga sama kamu, malu banget lagi.. Awal kamu sama Roy, aku malu malu juga, bahkan kenalkan diri aja aku malu. Aku antar dompet yang Roy minta itu karna terpaksa. Karna aku takut juga kamu kekurangan, aku temani kamu makan malam itu juga aku berusaha sebisa mungkin keliatan Stay cool. Padahal gemetaran. Kita tidur di rumah aku, itu yang paling buat aku malu.. Astaga.. Kalau aku ingatnya aku malu banget.. Hehehe.." Hery dan Rena jadinya bernostalgia dengan yang mereka lalui dulu.


"Apa yang buat kamu malu?" Rena sangat menikmati cerita ini.


"Hehehee.. Aku malu pas..." Hery ragu memberitahunya.


"Bilang sayang..!" pinta Rena


"Ya sayang.. Kan kita tidur sama sama tu tempat tidur itu.. Nah.. Aku itu.. Aku.." Hery malu sekali.


"Sayang...!" Rena sudah di ujung penasarannya.


"Ya sayang. Aku malu...Eeemm gimana ya bilangnya.." Hery berpikir sejenak.


"Sayang tinggal bilang aja kok.. Bukannya kita dua sudah..." yang ingin Rena katakan itu memang benar, dan Hery memahaminya.


"Ya sayang.. Tapi aku tetap malu.. Aku kan laki laki normal, aku... Pagi itu... Seorang laki laki itu.. Bangun.. Apa kamu tahu..?" Adakah yang paham yang Hery katakan? Ya dia sangat malu mengatakanya walupun mereka sudah melakukannya.


"Hery..?" Rena sangat terkejut mendengarnya. Lalu ia tertawa sesukanya.


"Ahahahhahahahahahhahahahaa...." Rena sangat suka cerita ini.


"Sayang...!" Hery jadi malu semalu malunya.


"Ya ampun.. Syaangku ini... Memang limited edition." Rena memeluk Hery.


"Tapi kenapa kamu malu sayang... Kan wajar..?" Rena mendongak.


"Ya kan kayaknya kena kamu sayang.. Apa pagi itu kamu gak rasa gitu, ada yang keras gitu...?" Semakin dalam pembicaraan ini.


"Hahahahahhahahahahahaaa..." tentu saja Rena merasakannya pagi itu. Bahkan Rena juga sampai malu saat pagi itu.


"Ya sayang aku rasa juga kok.. Ya kan wajar laki laki.." Rena membuat Hery makin malu.


"Ya gitulah.. Aku rasa malu aja, main nempel aja.." Keduanya sama sama tertawa dengan apa yang mereka bicarakan ini.


***


Roy masih du kantornya, rasa masakan Debora hari ini Sangat enak, tapi tiba tiba ada rasa yang tak beres dengan gigi Roy. Rasa sakit mendera di gigi Roy.


Roy...


Off dulu say..