
Debora membuka matanya cepat. "Khilaf apanya..?" Debora menepuk pipi Dion pelan.
"Ya apalagi..?" Dion seolah biasa saja.
"Iissssshh otak.." Sarkas Debora.
"Sayang.. Kalau seorang laki laki liat perempuan di depannya pejamkan mata. Satu aja yang terlintas di otaknya."
"Apa..?" Debora ingin tahu.
"Berarti.. Perempuan itu minta di cium.." Dion mendekatkan wajahnya dan wajah Debora. Hingga hanya beberapa senti lagi maka kedua bibir mereka bertemu.
"Dion..!" Debora mendorong wajah Dion. Tapi Dion nekad bertahan.
Debora mengalah dan ingin melihat kenekatan Dion sampai mana.
Alhasil...
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAA..." Debora berteriak.
"Debora..?" Rena datang terburu buru.
"Eh Dion.. Di sini..? Bukanya tadi..?" Rena kira Dion sudah pulang.
"Sayang..!" Hery langsung memanggil Rena.
"Ooohh lanjut kan..!" Rena menyengir dan meninggalkan kedua pasangan itu.
"Di.. Dion.. Ka.. Kamu..!?" Debora malu dan pipinya memerah.
"Aku sudah Bilang... Aku bisa bisa Khilaf.. Aku juga laki laki biasa... Laki laki normal yang bisa suka dengan lawan jenisnya, apalagi yang kayak kamu." Debora masih terpaku dengan perbuatan Dion barusan. Matanya tak bisa lepas dari iris mata Dion.
"Aku pulang.. Jaga dirimu.. Dan Baby.. Besok ingat.. Aku jemput... Aku gak mau ada penolakkan karena kamu sudah setuju tadi.. Oohhh kalau mual minta bibi di dapur buatkan susu.. Meski gak seenak buatan aku.." Dion tetap tak bisa menahan dirinya.
"Huuussssshhhh.." Dion menghembuskan nafas pelan.
"Aku sebenarnya.. Belum mau pulang.. Aku masih mau godain kamu.. Tapi.. Masih ada besok dan besok dan besoknya lagi.." Dion bangkit dan berjalan keluar dari kamar Debora.
Ada gejolak luar biasa di hatinya saat akan meninggalkan Debora yang sama masih menatapnya.
Dion memilih untuk kembali dan berjongkok di depan Debora.
"A.. Apa..?" Debora kaku.
"Aku gak mau pulang.. Boleh gak..?" Pipi Debora merona.
"Pulang.. Kata kamu tadi adikmu rindu kamu..!" Sebisa mungkin Debora menahan malu yang teramat.
"Oke.." Dion lesu.
Dion mengangkat dagu Debora dan membuat mata mereka saling bertemu.
"Sebelum jam 3 aku sudah di sini.." cicit Dion.
Beberapa menit kemudian. Debora ingin berteriak lagi. Tapi di bungkam Dion cepat.
Setelahnya, barulah Dion bangkit. Tapi Tiba tiba, ia berjongkok lagi.
"Maaf.. Ada yang ketinggalan..!" Debora tak bisa mencerna lagi yang Dion maksud.
Dion menangkup kedua pipi Debora.
Cup....
Bibir lembut itu membuai Debora. Kecupan itu tidaklah sebentar. Debora memejamkan matanya menikmati setiap detiknya.
Jika anaknya di kandungan bisa protes maka ia akan protes, kenapa rasa ini sangat nyaman..?
"Aku betul betul gak mau pulang.. Laranglah aku pulang.." Dion memelas pada Debora.
"K... Kok aku..?" Debora mendelik.
"Kan kalau kamu bilang sama Rena dan Hery kamu gak bolehkan aku pulang kan aku bisa tetap tinggal di sini.." Debora memutar matanya.
"Biar aja kamu pulang.. Takut aku.." Debora memegangi dadanya.
"Takut apa..?" Dion memiringkan kepalanya.
"Takut kamu..!" Cicit Debora.
"Oooo.. Takut aku.." Dion memeluk dan merangkul Debora.
"Issshhh.." Debora selalu mendapat sport jantung di buat Dion.
Ting.. Ting..
"Astaga..!" Dion semakin lesu.
"Tuh.. Pasti pesan dari adik kamu.. Dia kangen kamu tuh.. Pulang sana..!" Titah Debora.
"Awas aja nanti kamu gak bisa tidur gak ada aku.. Aku yakin satu malam ini kamu gak akan bisa tidur karena pikirin aku dan bibirku.." Dion menjelerkan lidahnya.
"Iisshhh pd sekali kamu.." Debora melipat tangan di dadanya.
"Haaahhhh.. Ya udah. Aku pulang.. Nanti makin gak mau pulang aku.." Dion merapilan bajunya.
"Iya sudah tiga kali kamu bilang, mau pulang, mau pulang dan mau pulang tapi gak jadi jadi.." Cicit Debora.
"Iya kan karena kamu.." Goda Dion lagi.
"Ck.. Sudah sana.." decak Debora.
"Antarin gitu... Say goodbye gitu.. Cium gitu.." Debora melirik Dion.
"Cium..? Dari tadi emangnya kamu ngapain..?" Dion terkekeh.
"Iya iya.. Ampun.. Dadaaahh.." Dion melambaikan tangannya pada Debora.
"Hati hati.." ucap Debora sangat lembut.
"Aaaahhh" Dion memegangi dadanya. "Cepat Dion pulang.. PULANG.." Dion bicara sendiri.
.
.
.
.
.
.
Sementara itu..