
Hery menatap tajam Roy dan Nur. Nur juga awalnya terkejut tapi ia berusaha untuk tenang lagi karna ia rasa ia tak melakukan kesalahan sama sekali.
Nur ke kantor ini karna ingin menemui suaminya saja, siapa yang akan mempermasalahkan itu. Pikir Nur.
"Sjdah selesai Roy..?" Tanya Hery. Pertanyaan yang sangat tajam untuk Roy. Bahkan lebih tajam dari silet.
"Hery ini.. Aku.." Roy gugup untuk menjawab takut malah membuatnya makin tampak bersalah.
"Kamu juga bukannya kata Roy kamu jadi istri malamnya aja, kenapa siang siang gini sama Roy juga..? Kurang puas kamu malam tadi..?" sindir Hery lagi untuk Nur.
"Maaf ya tuan Hery.. Tapi bagaimana pun juga aku ini istrinya Roy, Debora juga pernah curi waktu malam aku dan Roy. Jadi apa salahnya gantian kan.. Bukankah itu adil tuan Hery yang bijaksana...?" Ledek Nur lagi.
"Dan ya.. Suami aku ini hany berusaha untuk adil pada istri istrinya.. Kalau dia habisan waktu malam dengan istri pertama berarti dia juga harus menghabiskan waktu siang dengan istri keduanya sebagai tanda keadilannya. Suami kalau punya istri dua kan harus bisa adil. Ya inilah yang sedang di terapkan Roy.. Menjadi suami yang adil pada istri istrinya. Kalau tuan mau coba aja sendiri.. Biar tahu rasanya punya istri dua dan belajar adil juga.." Hery memutar matanya jengah.
Tanpa bicara lagi Hery pergi dari hadapan Roy dan Nur.
Flashback off.
Rena menutup mulutnya tak percaya yang di ceritakan Hery padanya.
"Makanya aku sangat kesal sama Roy sore ini tadi. Terus pas sebelum pulang ke sini dia minta aku untuk gak bilang dan cerita apa apa sama Debora dengan alasan kesehatan Debora yang lagi hamil yang harus di jaga. Aku tadinya gak mau ikuti permintaan Roy tapi pas sampai di rumah, aku juga jadinya gak tega untuk bilang sebenarnya sama Debora.. Kasian dia.. Dia beberapa hari ini senang banget sama Roy." Jelas Hery lagi.
"Kamu tenang aja Sayang.. Tapi aku juga minta kamu pantau terus Roy sama Nur ya.. Jangan sampai terlalu sering atau nanti Debora bisa tahu dengan sendirinya, kasian Deboranya... Debora juga lagi hamil besar itu.. Kita gak bisa salah bertindak Sayang.." Saran Rena.
Hery mengangguk setuju.
***
Di tempat lain seorang wanita tengah asik menonton aksi panasnya. Entah rencana apa yang tengah ia buat lagi. Tapi senyumnya terus bermekaran.
"Ini indah sekali.. Ck ck ck.. Ooo.. Indahnya bodi.. Gerakan yang bagus juga.." Nilainya di video itu.
***
Pagi ini Ro bangun lebih awal. Ia melirik Nur tapi Nur masih tertidur. Akhirnya ia memilih untuk pindah kamar saja ke kamar Debora.
Kamar Debora tak di kunci, Roy pun masuk.
"Debora..?" Roy menyapu seluruh ruangan tapi ia tak menemukan Debora.
Roy melirik jam di dinding, memang sudah jam 6 pagi.
"Mungkin Debora sudah bangun.." Ucapnya. Roy memilih mandi saja dan setelah itu bersiap siap ke kantor.
Roy turun dan akhirnya melihat Debora sedang bersama Eyang di depan televisi. Dalam hati Roy bertanya tanya, kenapa Sang Eyang mau berdekatan dengan Debora.
"Eyang.. Debora.." Sapanya.
"Eeehh Roy udah mau berangkatkah..? Gak sarapan dulu..?" Tanya Eyang sangat perhatian pada Roy.
"Eeemm gak usah Eyang.. Eyang lagi apa nih..?" Sebenarnya itu yang paling ingin di ketahui Roy.
"Eyang tadi cuma tanya tanya tentang kandungan aku kok.. Eyang juga kasih saran saran yang bagus buat aku.." Roy melihat Debora yang ceria seperti biasnya lalu setelah itu Roy melirik Eyangnya.
"Kan itu cicit Eyang kok.. Makanya mau tahu." Setelah mengatakan itu Eyang bangkit dan berlalu ke kamarnya. Eyang masih menjaga jarak dengan Debora.
Roy..