
Tiba tiba...
Ceklek.
Pintu Bisma ada yang membuka. Terlihat dari balik pintu itu adalah Aiko dengan gaya khasnya.
"Hai.. Bisma sayang.. Lagi apa..?" Sapa Aiko sok baik.
Bisma menggeleng lemah. Kembali ia mengingat perlakukan tak senonoh Aiko padanya beberapa hari yang lalu. Mungkinkah Aiko akan malakukannya lagi malam ini?
Rafa belum juga kembali membuat hati Bisma di landa panik, seandainya ada Rafa, Bisma pasti tak di godai Aiko seperti ini.
"Ini malam yang indah kan?" Aiko berjalan ke arah jendela kamar Bisma dan langsung menutupnya.
"Sayang.." Panggil Aiko lembut bahkan sangat lembut.
Bisma mendelik dan memundurkan tubuhnya. Hingga punggungnya bertemu dengan headboard tempat tidurnya.
"Papa.. Cepat pulang dan temani Aiko berkerja.. Bisma gak bisa.." cicit hati dan itulah yang terbayang oleh Bisma.
Aiko semakin mendekat, dan ia berhasil memegangi paha Bisma. Dirabanya dan di terawang terawang dengana mata sipitnya itu.
"Hai manis.." Aiko sangat nakal dan menggangu ketenangan suatu benda.
"Sssttt.." Bisma berdesih dalam hati.
"Wanita bodoh.. Lepaskan.. Lepaskan..!" Titah hati Bisma.
"Aku sudah bilang.. Aku belum puas kalau belum lihat.."
"Eeeemmmm" Bisma berhasil mengeluarkan suaranya.
"Oohhh kamu sudah bisa mengeram ya.. Waahhh kemajuan pesat ya.. Kalau gitu..?" Aiko tanpa ragu membuka celana Bisma.
Bisma membulatkan matanya tapi seperkian detik setelahnya Bisma menutup matanya erat erat.
***
Rafa masih asik di pestanya. Banyak kolega kolega yang masih ingin berkcengkrama dengannya. Inilah alasan kenapa Rafa tak membawa serta Aiko dengannya ke pesta, karena rata rata kolega bisnis Rafa mengenal Marry adalah istri Rafa.
Kadang Rafa melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan jam larut. Tapi ia tidak bisa sembarangan pulang karena banyak yang harus ia bincangkan dengan kolega tentang bisnis dan Bisnis. Untuk semakin membesarkan perusahaannya tentunya.
Rafa mengirim pesan singkat pada Aiko mengatakan kalau ia akan pulang dengan sangat terlambat.
***
Oleh karena itu di sinilah Aiko. Bersama Bisma di dalam kamar Bisma sendiri.
"Ssttt... Lepas.. Lepas.. Ini aneh.." Ronta hati Bisma.
"Hmmmmmm kamu rupanya sudah dewasa... Mana ada anak kecilnya kalau sudah begini.."
Tok tok tok..
Keduanya menoleh ke arah pintu. "Tuan.. Ini vitamin tuan dari dokter Lou.." Terdengar suara Maid Bisma.
"Eeeeeeeeemmmmm!" Bisma menggeram lagi berusaha meminta Maid itu untuk masuk saja dan bantu Bisma memarahi Aiko.
"Aahh mengganggu saja.." Ucap Aiko. Ia kemudian memperbaiki bajunya, Celana Bisma, dan tempat tidur itu.
"Bye.. Bye..." Aiko membuka pintu dan terlihatlah Maid Bisma menunggu di luar kamar. Aiko berlenggang keluar.
"Tuan.. Tuan gak apa apa..?" Maid itu mendekati Bisma. Wanita yang sepertinya sudah berkepala 4 itu bertanya pada Bisma.
Bisma memeluk maidnya itu. Ingin ia mengadu pada Maidnya apa yang di lakukan Aiko padanya.
"Tenang tuan.. Tenang. Tuan mau Maid temani malam ini..?" Maid itu sangat lembut pada Bisma sama seperti Marry padanya.
Bisma mengangguk setuju. Maid itu tersenyum padanya. "Baiklah.. Saya ambil selimut dulu ya.." Pamit Maid sejenak.
Maid itu kembali lagi dengan selimut dan bantalnya, ia menaruh bantal dan selimutnya di lantai.
Sepertinya Maid itu tahu apa yang terjadi pada Bisma saat bersama Aiko. Ia ingin melindungi Bisma dari perlakukan tak senonoh Aiko.
Bisma tiba tiba merindukan Marry. Ingin rasanya ia pulang ke Jerman dan memeluk Marry. Karena Marry saja yang bisa ia percaya saat ini.
Bisma menoleh pada Maidnya seakan ingin bertanya apa yang di lakukan Aiko itu wajar padanya.
"Tuan..? Tuan.. Nanti kalau terjadi sesuatu pada tuan, tuan harus keluarkan suara agar saya atau yang lainnya bisa mendengar suara tuan.. Tuan paham kan..?" Ternyata benar dugaan Bisma. Maid itu paham kondisinya.
Bisma menangis dan turun dari tempat tidurnya. Ia memeluk maidnya itu lagi dalam sedih.
"Sudah tuan.. Cup cup cup.. Ada saya di sini tuan.. Saya akan lindungi tuan." Bisma terharu dan terus memeluk maidnya.
Bisma...