AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 129


Roy sedang menulis beberapa dokumen tentu saja terkejut dengan kedatangan Hery yang tak biasa.


Biasanya Hery datan dengan tata krama yang baik, mengetuk dan meminta izin terlebil dahulu untuk masuk, meskipun itu Ruangan Roy yang terbilang masih anak Buah Hery.


"Apa?" Roy menatap Roy di ambang pintu ruangannya.


"Debora ke rumahku..." Roy membulatkan matanya dan juga ikut panik seperti Hery, grusak grusuk mencari kunci mobil.


Hery sudah terlebih dahulu turun menuju parkiranya.


"Hoooo.. Mobilku di mana ya..?" sangkin paniknya Hery lupa di mana mobilnya di parkirakan.


"Roy.. Mobil aku di mana..?" Roy tiba juga di parkiran.


"Hah..?" Roy juga jadi ikut pusing.


"Eh mobilku di mana juga ya..?" Roy ikut celingak celinguk seperti Hery.


"Eeehhh ini kayak apa sih..? Hery semakin panik.


"Dah lah.. Aku pinjam motor satpam..." Hery berlari keluar dan mencari pak satpam yang berjaga.


"He.. Hery tunggu..!!" Roy pun ikut naik di atas motor yang di pinjam Hery.


***


"Debora bisa tolong ambil kan aku semangka.." Pinta Rena pada Debora, kini keduanya sedang di dapur. Debora membantu Rena membuat es Buah.


"Di mana semangkanya.. Kok gak ada di kulkas...?" Debora tak menemukan Semangka yang Rena maksud.


"Ya kan karna gak ada di kulkas.. Hery taruh di gudang.." Debora menganga mendengar ucapan Rena.


"Gudang..?" ulang Debora.


"Iya Gudang... Hery Gak bolehin aku angkat yang berat berat kayak semangka, melon dan buah yang berat lainnya." Debora mengelengkan kepalanya.


"Oke.." Debora dan Rena menuju gudang.


"Ini dia.." Mereka sampai di depan pintu gudang.


"Astaga..!" Debora melihat banyak sekali tumpukan buah buahan dan yang lainnya di simpan di sana.


"Ya ini semua ulah Hery.. Dia bilang aku gak boleh bawa yang berat berat.. Katanya nanti baby sakit.. Haaahh padahal kayak apel ini, apa beratnya..." Protes Rena sambil bercurhat dengan Debora.


"Ya udah ayo kita bawa ke dapur semangkanya.." Ajak Debora.


Debora membawa Semangka itu dan Rena menutup lagi pintu gudang.


Mereka sangat cepat akrab, Debora bahkan tidak pernah terpikirkan akan berteman dengan Rena semudah ini tapi karna Rena adalah orang yang Welcom maka tak sulit untuk mereka dekat dalam waktu singkat.


"Aku campurkan susu kamu yang potong semangka ya.." Ucap Rena.


"Sip deh, aku sudah belajar sama Bibi kemarin.. Sekarang aku tes kebolehan aku, maaf kalau gak bagus ya.." Debora merengangkan jari jemarinya.


"Gak masalah bagus jeleknya, aku juga gak terlalu pintar potong buah, apalagi belakangan ini aku jarang pegang pisau, misalnya iris bawang, potong buah, potong daging, semuanya gak boleh sama Hery. Yang di sisain itu cuma pisau itu." Rena menunjuk pisau plastik yang di bolehkan Hery untuk Rena kenakan.


"Gak apa, tapi bisa di pakai untuk belah semangka..".Debora memperhatikan pisau itu.


"Coba aja..." Saran Rena.


Debora mencobanya dan ternyata bisa, ia pun melanjutkan membelah semangkanya.


"Rena...?" Hery masuk terburu buru.


"Eeemm???" Rena mentapa Hery yang berkeringat dan nafasnya memburu. Dadanya kembang kempis, kemejanya berantakan. Ada kancingnya yang sedikit terbuka, rambutnya acak acakan karna menggunakan helm.


"Sayangggg.." Hery segera menuju Rena dan menariknya masuk peluknya hingga menyentuh dadanya.


"Kamu kok cepat pulang... Ini aja belum jam makan siang.." Ucap Rena dari balik peluk Hery.


"Tapi.." Hery menatap Debora yang sedang menyendokan semangka ke dalam wadah.


Hery menatap Rena lagi yang sedang memegang centongan untuk mengaduk es buahnya.


"Kalian...?" Hery menatap Rena dan Debora bergantian.


Roy juga masuk "Debora..?!" Debora lagi yang terkejut melihat Roy juga ada di sini dan mencarinya.


"Hah..?" Hanya itu jawab Debora.


"Kamu ngapain di sini.. Kamu..?" Roy melihat semangka yang sedang Debora sendokan.


Roy juga menoleh pada Rena yang sedang di peluk Hery. Kadang Hery juga mengecup Rena. Rena masih setia memegangi centongannya. Roy juga melihat teko besar yang berisi buah buahan dan sudah di campur sirup dan juga susu.


"Kalian sedang apa..?" Roy menanyakan pada Debora.


"Kami lagi bikin Es buah.." jawab Debora dan Rena menganggukkan kepalanya kepada Hery.


"Kamu sama Debora bikin Es Buah..?" Hery mengulangi ucapan Debora.


"Iya aku gak bisa ambil semangka di gudang, kamu kan larang aku jadi mumpung ada Debora ke rumah jadi aku minta tolong Debora ambil semangka dan belah semangkanya, ini es buahnya dikit lagi selesai, tinggal tunggu semangka Debora aja deh.." Rena melepas peluk Hery dengan perlahan dan kembali mengaduk es buahnya.


"Ini.." Debora menyerahkan semangka, Rena dan Debora mencampurkan semangka itu kedalam campuran sirup dan susu itu.


Roy dan Hery sama sama terdiam. Hery menoleh pada Rpy dan begitu sebaliknya.


"Kalian..?" Roy dan Hery bersamaan.


"Ya..?" Debora dan Rena bersamaan.


Rena dan Debora saling melempar tatapan. "Debora aku yakin kedua laki laki polos di depan kita ini gak paham apa apa.. Kamu kasih tahu deh, aku sajikan dulu di mangkuk.." Rena meninggalkan Debora di hadapan Roy dan Hery.


Rena memilih mangkuk yang cantik cantik penuh denyan ornamen bunga yang beberapa hari lalu di belinya secara online.


Debora menatap Roy dan Hery bergantian. "Haaaa.... Aku ke sini untuk minta maaf sama Rena, dia sudah maafkan aku..." Debora berhenti sejenak dan melihat ekspresi kedua laki laki itu.


"Lalu aku bawa Debora untuk bikin Es Buah karna aku gak bisa banyak gerak, semua perlatan dan bahannya di simpan suami tercinta... Untung sih ada Debora, jadi juga ini Es buahnya.." Rena memberikan masing masing satu mangkuk Es buah ada Roy dan Hery.


"Debora.." Rena juga memberikan satu mangkuk untuk Debora.


"Haaaahh..?" Hery tak percaya yang ia dengar ini.


"Hah.. Hah.. Kamu larang aku ambil ini ambil itu.. Kayak apa mau senang tinggal di rumah..." Dumel Rena. Hery hanya nyengir kuda.


"Maaf sayang.. Itu demi kamu dan Baby." alasan yang tak pernah berubah.


"Ya lah itu.. Cobalah es buahnya seger looo.." Ucap Rena lagi dan langsung menikmati es buahnya.


Hery dan Roy masih terdiam seribu kata. Debora juga begitu ia menikmati es buahnya bersama Rena seperti teman dekat. Mereka berdua mengobrol yang mereka inginkan tanpa memperdulikan Roy dan Hery.


"Jadi mereka..." Roy telah salah sangka pada Debora.


"Haaahhh.." Hery menghela nafasnya.


Ponsel Hery begetar di dalam sakunya.


Itu dari satpam yang bekerja di kantor Hery, sebelum pergi tadi Hery meminta tolong untuk mencari mobilnya yang entah di mana.


Off dulu kawan.. Hahaha.. Yang lucu dulu ya.. Regangkan otot wajah dulu.. Senyum dulu...