
Rena mencoba membuka pembicaraam juga dengan Mbok Sari. "Mbok ini anaknya..?" Rena menunjuk gadis di samping Mbok.
"Iya, ini anak saya.. Dulu temannya nak Hery.. Namanya Nina. Mereka dulu kalau pulang tiap minggu barengan.. Nak Hery adalah satu satunya teman Nina pulang pergi dulu.." Tutur Mbok Sari membuat Rena membulatkan matanya tak percaya.
"Siapa tadi namanya..?" Nara mengulangi pertanyan itu lagi.
"Nina.." sahut gadis itu.
"Ooohhh Nina.." Rena mencubit lengan yang sedang di gandengnya.
"Eeemmm" Hery hanya berdehem.
Rena memperhatikan gadis itu, dari atas hingga bawah, takxada yang kurang dari gadis itu, cantik iya, manis iya, berkulit putih dan mulus iya, dan yang paling di perhatikan Rena adalah body wanita itu. Tubuh itu sangat menonjol di mata Rena, bentuk tubuhnya terlihat jelas.
Bagi kaum laki laki bentuk seperti itu yang paling di incarnya. Rena yakin itu, mulai dari dada hingga bawah bawahnya.
Dengan susah payah pun Rena menelan salivanya membayangkan Hery bersama wanita ini dulu.
"Nak Hery.. Mbok sama Nina mau ke sawah dulu ya.. Si Nina pengen cari belut katanya.. Kayak dulu gitu.." Kekeh si Mbok.
"Iya Mbok.. Hati hati.." Sahut Hery pada si Mbok, tanpa melirik Nina sama sekali.
Hery membawa Rena kembali melanjutkan jalannya begitu pula Mbok dan Nina. Rena masih terpaku dan membayangkan wanita tadi bersama hari setiap minggu.
Rena mengkhayalkan kalau Nina menyatakan cintanya pada Hery dengan lugasnya dan pastinya tubuh itu, tubuh yang membuat Rena menciut karena ia yakin kalau dirinya bukanlah apa apa di banding Nina.
Belum lagi Nina yang masih tergolong gadis, sedangkan dirinya hanyalah wanita bekas laki laki lain saat bersama Hery.
Hery melihat jelas mata Rena yang tak fokus ke depan. Ia mencoba membuyarkan pikiran Rena.
"Sayang.. Cintaku.." Panggilnya lembut.
"Sayang.. Hei.. Mama" Sebut Hery lagi.
"Emmmm?" Barulah Rena tersadar dari lamunannya yang bernostalgia tentang pertemuannya dengan Hery.
"Kamu mikir apa lagi..?" kelas Hery yang tahu apa yang sedang di pikirkan Rena.
"Haaahh.. Aku memang gak suka dia Sayang.. Mau gimana lagi.. Masa paksa aku cinta dia.. Ya gaklah.. Mungkin.. Mungkin kalau aku dulu nafsuan.. Mungkin.. Tapi gak Sayang.. Aku tahu yang kamu pikir.. Kamu liat tubuhnya bagus gitu kan.. Kamu pasti pikir kalau aku pernah dekat, pernah liat pernah berpikir kotor di dekat dia gitu, aku yakin kamu pikir gitu.. Tapi maaf, Hery yang ada di hadapan kamu ini bukan semacam laki laki di luar sana yang baru liat yang kinclong kinclong gitu langsung berliuran.. Gak..!" Tekan Hery lagi. Ia sudah bosan melihat Rena yang terus kepikiran.
"Sayang.." Panggil Rena yang melihat suaminya mulai merajuk.
"Apa..?" Hery berusaha mengendalikan emosinya.
"Aku sayang kamu.." Rena memeluk dan melingkarkan tanganya di pinggang Hery.
Semakin membuatnya gemas saja dengan tingkah Rena, Hery pun meraup bibir kecil itu dan meresapnya.
Entah itu di jalan atau ada yang melihatnya, Hery tak peduli lagi.
Nina menoleh jauh ke belakang, ia melihat Hery yang sedang melakukan kemesraannya bersama sang istri.
Satu senyum manis Nina saat melihatnya. "Andai itu aku.. Aku akan jadi wanita paling bahagia di dunia.."
Isi hati gadis muda itu yang hingga kini tak pernah dekat lagi dengan seorang laki laki mana pun selain Hery dulu.
Dan mungkin tetap Hery yang ia ingat sebagai laki laki sejati. Ada tempat tersendiri untuk Hery di hati Nina sampai sekarang.
Dalam kepercayaan Nina, mencintai orang itu bukanlah dosa. Tidak ada yang bisa melarangnya mencinta orang yang ia cintai saat ini.
Saat melewati rumah Hery, saat itu juga Olin keluar dengan kedua balita cantik dan tampan pula. Nina dan Mbok tertarik melihat kedua balita imut itu.
"Ini anaknya kak Hery Mbok.. Ini kakaknya Alf.. Dan ini adiknya Elf.." Olin mengenalkan kedua ponakannya.
"Waahhh kembar toh.." Mbok meneliti wajah Alf dan Elf bergantian.
"Iya.."
"Astaga yang perempuan mirip sekali Hery.." Guman Hati Nina lagi.
"Hery begitu bahagia dengan kehidupannya sekarang.. Mungkin saatnya aku membebaskan rasa ini.. Dan mencoba membiarkan orang lain mengisi tempat itu"
tbc