AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 84


Rena menghempas tangan Roy yang memeganginya.


"Roy kamu yang punya rencana ini kan.. Aku gak masalah kok nikah sama Hery. Selama ini juga Hery yang jaga aku, kamu jaga aja Eyang kamu sama Debora istri kamu itu, aku kan bukan siapa siapa. Tapi gak lama lagi aku akan jadi nyonya Hery Krisnata." Ledek Rena dan setelah itu ia langsung keluar dari kamar itu.


Rena masuk dalam kamarnya memengangi dadanya yang berdetak dengan sangat cepat.


"Semoga aja yang kita yang kita lakukan barusan betul... Kita akan masuk hidup baru Nak... Kamu suka uncle Hery kan.." Rena mengelus perutnya.


"Hery Rena baru saja bilang apa..?" Roy menguncang Hery dengan begitu kencang.


"Aku juga gak tahu Roy, tapi mungkin aku yang salah dengar.." Hery juga begitu terkejut mendengar ucapan Rena.


"Hery.. Aku.. Aaah" Roy terduduk di lantai.


"Roy.." Hery memegangi bahu Roy.


"Sudah aku bilang Her.. Katakan yang sebenarnya pada Debora, aku yakin Debora juga berhenti kalau tahu yang sebenarnya Her.." Roy terus merengek.


"Sudah gak ada gunanya, semua itu gak akan bisa rubah apa yang sudah terjadi, Eyang yang sangat sayang Debora, Rena yang aku hamili, pernikahan kami.. Dan yang paling gak bisa di ubah, cinta yang kamu pernah beri untuk Debora. Yang buat Debora semakin menjadi jadi... itu gak bisa di ubah Roy. Pahami..." Hery benar benar tidak ingin membicarakan hal ini.


***


"Eyang apa untuk aku gak ada?"


"Eeemm kamu minta aja sama Roy.. Inikan semua milik Roy. Dan Eyang kira kalau ini milik Roy, berarti ini milik kamu juga, tinggal kamu yang bilang sama Roy kalau kamu mau juga.." Eyang terus membuka buka foto foto rumah megah itu.


Debora mencibik, "Eeemm ya udah Debora naik ke kamar dulu ya Eyang..." pamit Debora.


"Eeeemm.." Eyang sangat sibuk melihat lihat dan hanya menjawab sebisanya.


Debora masuk dalam kamarnya dan ingin sekali ia berteriak sekencang kencangnya. Tak terima Rena terus menang darinya, mulai dari kasih sayang Roy, dan apalagi masalah harta benda. Debora sangat tak terima.


"Rena.. Kamu... Kenapa kamu selalu ambil apa yang harusnya jadi punya aku.. Liat aja nanti kalau kamu sudah nikah sama Hery.. Aku buat kamu lebih menderita... Aku akan ambil alih perusahaan Roy dan pecat calon suami kamu itu dah deh.. Kalian melarat... Hahahaa.." Debora tersenyum puas, itu adalah rencana selanjutnya Debora.


***


"Rena.." Hery mengetuk pintu kamar Rena.


"Ya.." Rena pun membuka pintunya dan pura pura baik baii saja.


"Aku mau ke kantor dulu sebentar aja ya.. 2 jam aja abis itu aku balik lagi ke sini.. Kamu jangan ke mana mana ya.." Pinta Hery penuh kasih sayang. Roy sudah keluar terlebih dahulu dari unit Rena.


"Ya Her.. Aku gak ke mana mana kok... Kamu sama Roy ya..?" Rena melihat sekeliling tapi tak melihat adanya Roy.


"Eeemm gak aku ada keperluan lain.." Seperti biasanya Hery bicara seadanya.


"Ooohh ya.. Hati hati ya.." Rena tersenyum pada Hery.


Senyum itu sangat manis di mata Hery sudah lama juga ia tidak melihat senyum indah itu. Hery pun maju lalu berjongkok dan mengecup perut Rena dengan lembut.


"Uncle jalan dulu ya.. Jangan nakal ya sama mama.." Hery lanjut mengelus elus perut Rena.


"Makasih Ren.. Aku jalan dulu ya.." Hery mengelus puncak kepala Rena dengan lembut.


Hangat namun lembutnya tangan Hery sangat sangat nyaman untuk Rena. Perhatian yang seharusnya Roy berikan malah di berikan laki laki lain untuknya. Rena sangat rindu di perlakukan seperti itu.


Hery pun pergi Rena mengantarnya sampai pintu depan unitnya.


"Makasih Hery.. Kamu beri aku dan anakku kasih sayang yang berlimpah. Semoga nanti setelah jadi istri kamu aku bisa balas semua kebaikan kamu..." Rena sangat bersyukur akan keberadaan Hery untuknya.


***


Seperti yang di katakan Hery ia tidak bersama Roy. Ia pergi sendiri mengurus pekerjaan barunya, yaitu mengatur persiapan pernikahannya dan Rena. Hery ingin pernikahan yang sedarhana tapi nyaman untuk Rena yang sedang dalam kondisi mengandung.


Flashback on


Roy semakin pasrah diri. Rena bahkan tidak ingin mendengar penjelasannya. Dan bahkan Rena bahkan sudah siap menikah dengan Hery.


"Hery.. Aku sudah gak ada harapan Her.. Kalau memang itu yang Rena mau.. Maka aku gak akan bisa nolak. Tapi Hery, kamu harus janji sama aku... Jaga Rena dan Anaknya dengan baik. Jika nanti sudah lahir.. Izinkan aku yang pertama gendong dia. Dan beri nama.." Roy bangkit dari duduknya dan hendak pergi.


"Roy tanpa kamu minta pun aku akan jaga Rena dan anaknya. Aku juga gak berhak larang ayah dan anaknya saling ketemu satu sama lain... Dan satu lagi, coba kamu perbaiki hubungan kamu sama Debora. Aku lihat belakangan ini kamu dan Debora lebih akur... Berarti ada harapan kan.." Hery mengatakan apa yang ia lihat.


"Cih.. Mimpi.. Sudah ya aku pulang dulu... Dan maaf aku gak bisa ke kantor hari ini..." Roy lesu tapi tetap tak mau mendengar masalah Debora.


"Aku juga kok ada hal yang lain mau aku selesaikan.. Kamu gak mau ikut kah..?" Tawar Hery pada Roy.


"Kamu mau kemana..?" Roy malah bertanya.


"Karna kamu dan Rena sudah setuju, berarti aku harus urus persiapan pernikahan kami.. Apa kamu mau ikut, aku rasa harus ada kamu juga." Hery merasa yakin.


"Maaf Her.. Aku gak ikut. Kali ini aku lepas tangan dan semuanya kamu aja yang urus. Kamu seorang kristiani, berarti pernikahannya di geraja ya..?" Perbadaan agama antara keduanya tapi sejak sekolah hingga sekarang tidak ada masalah dengan itu.


"Ya.. Akan di adakan di gereja..." Hery mengangguk.


"Baguslah... Jujur aku suka melihat pernikahan kristen. Tapi entah aku akan datang atau gak nanti Her.. Aku kasih tahu kamu dari sekarang Her, semoga itu bukan masalah untuk kamu ya.."


"Eeeem itu bukan masalahku tapi masalah kamu dan Eyang pastinya..." Ucapan Hery ada benarnya juga.


"Kamu selalu tahu Her.. Kamu seperti cenayang.. Sudahlah.. Aku pulang.." Roy keluar dari kamar Hery dan hanya menoleh sebentar ke kamar Rena mengingat kamar itu adalah kamarnya dan Rena dulu. Kamar yang menjadi saksi bisu cinta mereka yang sekarang membuahkan hasil.


Flashback off


Hery melihat hiasan hiasan indah yang di pasang pekerjannya. Senyumnya semakin mengembang bila membayangkan itu terjadi. Hari di mana ia dan Rena akan berdampingan dan menjadi pasangan.


Tak pernah terpikirkan Hery jika ia akan menikahi wanita bosnya yaitu Roy. Dan bahkan dalam kondisi mengandung pula. Tapi karna rasa cinta yang Hery punya untuk Rena juga ia siap menerima Rena apa adanya.


"Tuan Hery.. Ini baju yang anda pesan.." Seorang wanita berpakaian rapi datang dan membawa pakaian penganting yang Hery pesan. Senyum Hery semakin lebar


"Baju yang cantik untuk wanita yang cantik pula.." Gumamnya melihat baju serba putih itu.


Off say.. Like donk.. Ramaikan..