AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 120


Debora bersorak kegirangan. Ia baru saja tahu kalau Roy sangat menyukai Gado gado. Ia bahkan tak memperdulikan Bi Mila yang menatapnya dan sedsri tadi berada di sampingnya.


"Segembira itu Nyonya..?" Gumam Mila, padahal sudah bertahun tahun menikah dengan Roy tapi Debora tidak mengetahui apa saja makanan yang di gemari Roy.


"Ya aku akan belajar dengan baik untuk besok.. Aku akan masak Gado gado yang enak untuk Roy.." Debora bertekad sangat kuat.


"Nyonya itu adonan es krimnya belum selesai.." Ucap Mila membuyarkan khayalan Debora.


"Eeehh iya Bi.. Hehehehe.." Debora jadi malu sendiri.


***


Alar sangat menganggu tidur Roy, "Jam berapa ini.. Siapa yang bikin alarm..?" Roy bangun dan melihat ponsel Debora menyala dan menunjukan alarm yang sudah tiba waktunya.


"Ini dia mau bangunkan aku atau memang ganggu aku tidur, atau dianya yang mau bangun pagi..?" Roy mematikan alarm Debora.


"Debora bangun.. Tuh alarm kamu bunyi terus.. Bangun..!" Roy mengguncang guncang tubuh Debora.


"Eeemm?" Debora hanya berdehem tapi matanya masih terpejam.


"Apa Roy..?" Debora menoleh pada Roy.


"Bangun... Tuh alarm kamu bunyi lagi..!" alarm Debora berbunyi lagi.


"Ooohh sudah pagi ya..?" Debora makin membuat Roy kesal.


"Debora matiin itu alarm kamu.. Berisik, ini baru jam 4 subuh.. Aku masih mau tidur." Roy sangat geram karna ia masih ingin tidur.


"Oohh ya ya.." Debora mematikan alarm di ponselnya.


"Eeemm tidurlah lagi.." Debora turun dari tempat tidur, dan keluar dari kamar.


"Kemana dia?" Roy masih di tempat tidurnya.


**


"Pagi Bi.." Sapa Debora pada Bi Mila.


"Pagi Nya.. Wah jadi juga bangun paginya.." Bi Mila salut.


"Iya Bi tapi agak lambat soalnya gak ingat suara alarm padahal dah keras banget." Curhat Debora.


"Hehe.. Bibi juga gitu dulu, kalau ibu bangunin Bibi perlu tenaga ekstra, karna kalau di panggil aja gak mempan harus di guncang guncang. Tapi lambat laun, bibi belajar dan selalu berdoa sebelum tidur, agar di bangunkan atau setidaknya bisa mendengar kalau ibu manggil, dan sempe sekarang bibi bisa bangun tanpa alarm dan di bangunin Ibu. Pas udah masuk jam 4 3 subuh udah bangun, bibi bersih bersih dulu terus Sholat subuh dulu sebelum beraktifitas." Cerita Bi Mila juga yang terasa seperti teman Debora sekarang.


"Wah oke tuh Bi.. Aku juga mau coba nanti. Debora juga harus bisa kayak bibi bangun subuh dan siap siap masak untuk Roy.." Debora mendapat pelajaran baru dengan berteman dengan sang Bibi.


"Ya Nya, ayo bantu bibi dikit..." Ajak Bi Mila.


"Banyak juga gak apa apa Bi.. Debora harus bisa tunjukan ke Roy kalau Debora itu sudab tahu berubah, dan bisa jadi istri yang baik untum Roy..." Debora sudah pernah juga menjelaskan Pada sang bibi kenapa ia ingin belajar memasak.


Sang Bibi maklum dengan tekad Debora ini. Dan siap membantu Debora sebisanya. Merek pun mulai menyiapkan sarapan.


"Nyonya cuci sayur sama ikan yang itu ya.. Saya bikin rempahnya. Nanti saya kasih tahu apa aja rempah rempahnya juga." Ucap Bi Mila dan Debora setuju.


Debora langsung melakukan aa yang Bi Mila perintahkan padanya. Debora membasuh, mencuci sayuran yang sudah di siapkan dan di pilih Bi Mila untuk sarapan nanti.


"Nya nanti kalau bersihkan ikanya sampai ke perut perutnya juga ya, takutnya ada kotoranya ketinggalan nanti rasanya jadi pahit Nya.." Saran Bi Mila dan bisa menjadi pelajaran baru untuk Debora.


Roy tak bisa kembali tidur karna sudah terlanjur bangun tadi. Belum lagi ia penasaran kenapa Debora tak kembali ke kamar lagi setelah keluar dari kamar tadi.


"Dia ngapain ya.. Kok gak balik lagi..?" Mulai berprasangka buruk.


"Aku sudah gak tahan lagi.." Roy keluar dari kamarnya juga mencari keberadaan Debora.


Menuruni tangga tapi tidak melihat siapapun di ruang tengah, lanjut ke teras juga tidak ada orang.


Roy lanjut menuju ruang makan. Tidak ada siapa pun di sana hanya terdengar suara memasak dari arah dapur.


"Gak mungkin kan kalau Debora masak sepagi ini...?" Roy mencoba mengintip.


Debora sedang membantu Bibi memasak sayur di kompor, karna hanya sayur yang di tumis maka Debora bisalah mengaduk aduk tumisan itu.


"Debora betul betul masak kah jam segini..?" Roy tak percaya.


"Bi ini sudah matang belum..?" Tanya Debora pada sang bibi.


"Ya Nya, coba dulu.. Pake sendok yang lain jangan pake spatulanya." Saran Bi Mila lagi.


"Oohh ya Bi.." Debora mengikuti semua intruksi Bi Mila.


"Eeemm enak Bi.." Ucap Debora.


Rpy memperhatikan dari jauh, dia terkesan rupanya Debora membuat alarm tadi itu agar bisa memasak sarapan untuk pagi ini.


"Dia berusaha, akan aku lihat sampai akhir, apa dia mampu.." Roy tersenyum. Lalu kembali ke kamarnya dan memilih untuk membersihkan tubuhnya.


***


"Rena sayang.. Selamat pagi.. Bangun kita sarapan bersama, aku masak makanan istimewa untuk kamu." Bisik Hery ditelinga Rena.


Sama seperti Debora yang bangun pagi pagi untuk menyiapakan makanan, Hery juga bangun pagi untuk menyiapkan sarapan untuk Rena.


"Sayang kok kamu udah bangun, kamu tinggalkan aku lagi ya tadi..?" Rena membuka matanya.


"Ya sayang aku tadi bangun duluan, maaf ya tapi kau bangun untuk buatkan kamu sarapan dengan harapan kamu mau coba. Ini kan masakan aku, kata kamu enak.. Mau kan..?" Ajak Hery.


"Ya kamu selamat karna aku gak ingat kalau kamu pergi.. Kalau aku ingat gak ada ampun untuk kamu.." Rena menoel noel hidung Hery.


"Eeemm yalah itu, paling juga kalau aku nakal dikit.." Tangan Hery mulai berkelana.


"Eeemm sayang..." Rena menahan tangan Hery yang nakal itu.


"Tuh kan di maafkan langsung di panggil sayang..." Hery balik yang mencolek Hidung Rena.


"Ya kan aku sayang kamu.." Rena memeluk Hery.


"Ya sudah dulu manja manjanya kita sarapan dulu..." Hery langsung mengendong Rena ala Bridal style. Membawanya langsung ke meja makan.


"Hery... Ini semua...?" Rena terkejut melihat yang ada di hadapannya saat ini.


Masakan masakan khas Bali yang terkenal enak enak sudah siap santap di meja makan.


"Kamu suka?" Hery menatap Rena.


"Tentu aku suka, dulu aku cuma Bisa Khayal aja bisa makan makanan Bali ini semua, bahkan di Bali langsung." Rena mengingat masa masa sulitnya dulu.


Banyak keingina Rena yang sulit tercapai yang menurut orang lain sangat mudah, tapi menurut Rena sangat sulit.


"Ooh ya.. Lalu apa lagi yang kamu inginkan?" Hery sangat ingin tahu. Matanya membulat dan sangat gencar.


"Eeemmm apa lagi ya..?" Rena berpikir.


"Sayang mulai sekarang kasih tahu aku apa aja yang dulu kamu gak bisa dapat, suami kamu ini akan cari biar pun ke ujung dunia yang kamu mau itu..." Hery mengenggam erat tangan Rena.


"Emangnya di ujung dunia ada apa..?" Hery mengangkat bahunya juga tidak tahu.


Rena mengelengkan kepalanya.


Off dulu ya..