
Hery tahu Rena belum bisa mempercayainya.
"Sayang.. Aku cuma sayang kamu.. Kamu dan anak anak adalah hidup aku.. Apa lagi yang aku cari selain kalian..?" Heey mencoba meyakinkan Rena lagi.
"Aku percaya sama aku.. Tapi.." Rena masih ragu.
"Makanya aku sudah bilang.. Jangan dengarkan omongan orang yang gak ada gunanya itu. Cuma buat kamu kepikiran gini kan. Jujur sayang.. Aku lebih gak rela kamu kepikiran yang mereka bicarakan tadi, itu cuma anggappan mereka aja.. Kamu kepikiran gini.. Nanti baby juga kepikiran.. Aku gak mau sayang.. Kalau memang kamu gak mau aku turun ke kantor.. Aku kerja dari rumah aja. Jadi gak ada yang kamu takutkan. Gak ada cewek yang dekatin aku.. Gimana mau..?" Hery memilih untuk mengalah saja. Hery tahu itu yang lebih baik.
"Yang betul kamu mau..? Mau kerja dari rumah..?" Rena sepertinya tertarik.
"Ya sayang kalau itu yang kamu mau maka itu yang aku lakukan.. Karna bos dari seorang bos adalah istri.." Hery memeluk Rena lagi.
"Ya udah kalau gitu.. Mulai besok kerja dari rumah aja.." Rena memeluk balik Hery.
Seperti yang di perkirakan Hery, Rena akan setuju dengan idenya. Menjaga emosi dan kondisi Rena saat ini adalah yang terpenting.
Jika dulu Rena menjadi sosok yang tegar, tapi kini saat mengandung untuk yang ke dua kali ini Rena lebih sensitif dan mudah cemburu juga. Oleh karna itu Hery harus lebih berhati hati dalam melakukan segala sesuatu.
***
Bisma menunggu pesanannya dan Adel tiba, Adel sangat menikmati saat saat mandinya, apalagi Adel termasuk wanita yang menghabiskan waktu berjam jam di kamar mandi hanya untuk mandi, memakai sabun, mengenakan shampo, membersihkan wajah dengan busa yang banyak, ya itu yang paling Adel nikmati.
Ting tong..
Bell berbunyi. "Bisma.. Buka pintunya..!" Teriak Adel dari kamar mandi.
"Ya ya.. Cerewet.." Bisma bangkit dari duduknya dan membuka pintu.
"Terima kasih ya.. Ini uangnya.." Bisma masuk kembali ke dalam rumah dan membuka bungkusan bungkusan makanan cepat saji itu.
"Del ini sudah siap.. Mana kamu..?" Terdengar suara ribut dari kamar.
"Mana punya aku.." Adel berlari.
"Uuuyyyyy.. Apa kamu.. Haaaaa..?" Bisma terkejut.
"Kenapa..?" Adel langsung mencari pesanannya.
"Del pake baju dulu..!" Adel datang dengan menggunakan handuk di tubuhnya dan rambut yang masih basah hingga menetes.
"Iissshh biasanya juga gak pake baju.." Adel menemukan pesanan sotonya dan langsung mengambil mangkuk dan memakannya dengan tenang.
Bisma masih menganga menatap Adel, "Del.. Jelalatan nyamuk liat kamu.." Ucap Bisma.
"Hah apanya..?" Adel asik dengan makanannya.
"Ck Sudahlah.." Bisma pasrah. Tapi handuk itu mengganggu matanya.
"Bisma kamu kenapa sih.. Biasanya baik baik aja liat Adel gini.." Lagi lagi Bisma merasa aneh sendiri. Apakah ia akan segera pulih. Jika itu benar maka akan tercipta pasangan baru.
***
"Di sudah mulai.. Al.. Bisakan..?" Stuart membuka kemeja putih yang ia kenakan.
"Setelah Adel kamu dapatkan, jangan larang larang aku lagi untuk berhubung sama teman teman aku..!" Perjanjian Albert dan Stuart.
"Oke.. Aman. Aku gak akan ganggu kamu dan dunia kamu.. Karna aku juga akan punya dunia sendiri.. Adelku.. Aku mau tidur lagi sama dia.. Gak akan aku lewatkan lagi kesempatan emas itu.. Memang seharusnya malam itu aku langsung hantam aja ya.." Stuart tersenyum jahat.
Pria tampan dengan lesung dagu itu benar benar mengincar Adel untuk menjadi miliknya. Ia merasa ia yang paling serasi dengan Adel, maka ia ingin menyingkirkan Bisma dengan menggunakan Albert si adik nakalnya.
***