AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 89


"Dia..." Hery ragu mengatakannya pada Rena.


"Kenapa sih Her..?" Rena makin penasaran.


"Dia Nini.. Bibi yang temani Eyang ke restoran.. Kalau dia ada di sini berarti.." Hery bisa menyimpulkan sendiri apa yang membuat Roy ada di sini dan mengatakan kalau masalahnya belum selesai.


"Bibi yang sama Eyang..?" Rena menatap Hery dan Hery menatapnya.


"Apa kata Dokter Roy..?" Hery juga khawatir dengan Eyang.


"Dia syok, tekanan darahnya juga naik, dan harus di rawat intensif di sini.." Roy menjawabnya dengan lesu. Matanya tertuju pada Rena.


"Seandainya ini gak terjadi.." Gumam Roy.


"Apanya..?" Hery cepat tanggap dengan ucapan Roy yang satu ini.


"Kamu nyesal sudah gugurkan kandungan Debora dan buat Eyangmu jadi sakit gini..? Seharusnya kamu ke tempat Rena dan lakuin ini sama Rena dan Rena yang terbaring kayak Debora di dalam itu dan..." Nafas Hery sudah tak teratur.


"Hery bisa gak kamu gak ikut campur dan buat semuanya semakin hancur gini...!" Roy bangkit dari duduknya.


"Tuh kan.. Kamu marah berarti yang aku bilang itu betul kan..?" Hery semakin yakin.


"Aku bilang jangan ikut campur.." Roy mendorong tubuh Hery karna emosi.


"Roy.. Aku gak akan biarkan Rena dan anaknya kenapa kenapa.." Hery bukanya mendorong Roy tapi ia malah menarik kerah Roy dan menatapnya dengan kejam.


"Hery.. Roy..." Rena berusaha melerai mereka.


"Rena itu milikku.. Terserah aku.." Roy semakin menantang.


Bugh..


Tanpa aba aba Hery meninju Roy dengan telaknya.


"Hery..!?" Rena terkejut.


Hery menole pada Rena, tampak raut wajah Rena yang seperti mengkhawatirkan Roy yang ia tinju itu. Tiba tiba rasa salah juga melanda Hery. Ia pun berlalu dari hadapan Rena dan Roy.


"Rena... Aku.." Rena malah melihat Hery yang pergi meninggalkannya.


Rena juga malah mengikuti Hery pergi dari hadapan Roy tanpa berbicara sedikitpun. Roy hanya bisa memandangi punggung Rena yang semakin menjauh.


Hery duduk di kursi yang ada di tempat parkiran. Wajahnya berbeda dari sebelumnya. Rasa salahnya juga masih melanda.


"Aku kenapa.. Sudah tahu mereka saling cinta tapi masih juga aku mencoba... Harus aku buang semua rasa ini..." Rena juga tiba di sana, Hery hanya menatap tanah dan tak melihat kedatangannya.


"Her.." Panggil Rena ada Hery.


"Ya..?" Tidak ada lagi Senyum indah Hery seperti biasanya kalau Rena memanggilnya seperti itu.


"Ayo kita pulang.." Ajak Rena. Hery mengangguk dan beranjak dari dudunya tanpa mengucapkan satu kata pun pada Rena.


Melihatnya Rena menjadi canggung dan tak tahu harus bicara apa pada Hery yang seperti itu. Hery mengantar Rena ke apartemennya. Selama perjalan tak ada percakapan di antara mereka hanya bunyi deru mobil yang terdengar.


Mobil Hery masuk area parkiran apartemen, Hery masih tidak bicara.


"Aku turun dulu.." Hanya kata itu yang bisa Rena katakan.


Hery tetap diam dan tak bersuara. Rena turun dan menutup pintu mobil. Menunggu Hery mengatakan sesuatu mungkin.


"Aku pulang dulu. Kamu juga masuk.. Ini sudah hampir malam.." Ucap Hery tanpa melihat Rena dan setelah itu langsung memundurkan mobilnya dan berlalu dari tempat itu.


Keanehan melanda Rena tak biasa di diamkan Hery seperti itu membuatnya binggung.


"Mungkin Hery terlalu marah pada Roy makanya dia juga marah padaku.." duga Rena, ia pun masuk lift dan naik ke unitnya.


Malam sudah berlalu, pagi ini hari baru. Rena membuka matanya, mandi, dan mencari sarapan yang cocok untuknya pagi ini.


Di susu kota ada tulisan "Minum aku aku sehat looo.."


Di kotak makanan Sayur bayam, "Aku sangat bergizi..." Ada tanya Smile juga di samping tulisan itu.


lanjut yang lainnya seperti kata "Aku donk aku.. Manis tapi sehat.."


"Hangat hangat baik untuk malam.."


"Aku kecil tapi penuh nutrisi..."


Dan masih banyak lagi tulisan dan pesan yang di tinggalkan Hery untuk Rena di kotak makannya. Rena menoleh ke arah kompor dan meja makannya. Biasanya ada Hery yang tengah memasak atau menyajikan sarapan pagi untuknya, dan tak lupa senyum manisnya.


Rasa yang berbeda membuat Rena hanya menuangkan susu dan meneguknya. Tidak ada rasa ingin memakan makan yang sudah ada di dalam kulkasnya, entah mengapa nafsu makannya hilang.


Waktu berlalu begitu saja tapi tidak ada lagi informasi yang Rena terima, kabar dari Hery pun tidak ada. Rena sangat kesepian di unitnya seorang diri. Rena juga sudag bosan berkeliling unitnya untuk mencari kegiatan atau apa pun yang bisa ia kerjakan.


***


Tiga sudah berlalu, Rena masih seorang diri di unitnya. Tidak ada orang yang menemuinya, Hery masih tidak ada kabarnya. Rasa yang kini mendera Rena membuatnya bahkan tidak makan sama sekali, susu pun tak ia sentuh.


Rena melihat ponselnya siapa tahu ada pesan atau panggilan tak terjawab olehnya tapi tidak ada sama sekali hanya menunjukan wkatu sekarang yang sudah menunjukan pukul 17.00, Rene menyandarkan kepalanya di sofa.


"Semua orang kemana.. Kenapa aku rasanya di jauhi..." Tak terasa airmata Rena mengalir bebas di pipinya.


***


Jauh dari apartemen Rena, seorang laki laki sedang menikmati minumannya yang entah sudah berapa gelas.


Para pekerja dan pemilik bar itu juga bingung harus melakukan apa. Mereka tidak bisa melarangnya tapi tidak Bisa membiarkannya juga karna hampir tiap malam laki laki ini datang dan menim dengan sangat banyak.


Dengan susah payah para wanita yang ada di sana menemaninya dan diam diam mencari nomer yang bisa mereka hubungi, mereka menemukan nomer favorit sangĀ  laki laki.


Ponsel Rena tiba tiba bergetar dan berbunyi. Dengan cepat ia menerima panggilan itu mungkin saja penting menurutnya.


"Haloo?"


"Halo nona Rena.. Apa ini nomer anda..?"


Suara wanita tak di kenal Rena yang terdengar dari sebrang telpon itu. Tentu saja pikiran Rena sudah kemana mana.


"Ya ini nomer saya..." Rena memelankan suaranya yang tadi bersemangat.


"Eeemm ini kami dari Bar Stephian, ini ada laki laki yang minum dengan berlebihan. Kami larang maka ia marah nona. Tapi nama anda yang tetera di nomer favoritnya.


"Siapa itu..?" Rena tak mengenalinya karna hanya di jelaskan seperti itu.


"Eeemm kami juga tidak tahu namanya nona. Itu privasi para pengunjung, kadang mereka menggunakan nama samaran." terang wanita itu lagi.


"Eemmm apa ciri cirinya..?" Rena sungguh penasaran siapa yang sedang minum minum itu, apalagi ia sedangm mencari kabar dari Hery dan Roy. Mungkin saja laki laki itu adalah salah satu dari mereka.


"Eeemm laki laki berpakaian bagus, rambut yang rapi, tampan... Eeemm apa lagi ya..?" wanita itu juga bingung menjelaskannya.


"Itu dia punya tahi lalat di atas bibir.." Ucap seorang wanita lain yang ada di sana juga.


"Hery...?" Rena sangat terkejut sekaligus marah.


"Kayak apa kamu bisa tahu kalau dia punya tahi lalat di atas bibir...?" Tiba tiba Rena sangat emosi mendengarnya.


"Eeemmm itu kemarin pas aku tuang minumannya aku liat... Ganteng banget..." Centil dan manjanya wanita penghibur itu membuat Rena semakin emosi.


"Kirim lokasinya..!" Rena langsung bangkit dan bersiap menuju tempat itu.


Off dulu guys.. Likenya donk...