AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 70


"Aaahhkkkk..." Debora tidak bisa menahannya lagi semua yang ia rasakan ia keluarkan saja.


Sungguh malam ini Debora sangatlah puas. Semua yang ia inginkan dapatkan, bahkan baru saja Roy yang mengambil alih permainannya dan membuat kepuasan Debora semakin memuncak.


"Terima kasih Roy..." Nafas Debora masih terengah engah.


Roy merebahkan tubuhnya di samping Debora dan Debora langsung memeluknya. Roy juga sangat letih setelah permainannya dan memilij untuk langsung tidur.


***


Rena di dalam kamarnya memperbaiki bantalnya yang kurang empuk menurutnya. Ia memukul mukul bantalnya agar empuk.


Blup...


Lampu di ruangannya mati "Aaaaa" Teriak Rena di dalam kamar itu.


"Ooohh jangan mati lampu lagi... Aku gak suka.." Rena memeluk bantal tadi dan tidak bisa bergerak ke mana mana.


Hery baru saja menarik tuas pemandaman listrik di apartemen Rena agar terjadi mati lampu. Hery tersenyum penuh makna.


Inilah rencananya, Hery memadamkan listrik agar Rena ketakutan di kamarnya dan ia akan kembali ke kamar Rena dan pasti Rena malarangnya untuk pulang dan meminta Hery untuk menemaninya.


Hery tidak ingin lebih, ia hanya ingin menemani Rena saja. Memandangi wajah Rena yang sedang tertidur dan mengelus elus perut Rena saja yang Hery inginkan.


"Maaf Rena kamu harus takut dulu seperti ini..." Hery segera meninggalkan tempat itu dan berlari menuju unit Rena.


Ting ting...


Bunyi bell di unit Rena, Renatidak nisa kemana mana di dalam gelap ini dan hanya bisa diam di tempat tidur.


"Siapa yang datang... Tolong aku..." Gumam Rena dalam kegelapan.


Ponsel Rena berdering telpon dari Hery rupanya. Rena sangat senang. Ia segera berjalan menghampiri ponselnya yang berada cukup jauh dari tempat Tidur Rena.


"Hallooo.. Hery tolong aku..." Ucap Rena dengan gemetaran.


"Iya Rena aku ada di depan unitmu ini tapi aku gak bisa masuk, aku gak tahu kodenya apa..?" Jawab Hery dari telpon itu.


Rena pun memberitahu kode apartemennya, tak lama kemudian Hery pun masuk, Rena juga sudah menghidupkan senter ponselnya.


"Rena..." Hery menghampiri Rena dan tanpa di duga Rena langsung memeluk erat Hery.


Tentu saja Hery senang karna rencananya berhasil juga. Hery juga memeluk Rena karna itu yang ia inginkan


"Tenanglah Rena aku di sini... Sku temani kamu ya.."Hery melancarkan rencana selanjutnya.


"Iya Her.. Iya... Aku takut.." Rena terus memeluk Hery.


Hery mengendong koala Rena dan membawanya ke tempat tidur. Hery membaringkannya di kasur itu dengan perlahan. Tapi Rena sangat erat memeluk Hery seakan tidak mau melepaskan Hery.


"Rena aku juga akan berbaring di sini.. Ayo..." Perlahan pun Rena melepaskan pelukannya dan membiarkan Hery berbaring bersamanya.


"Tidurlah Rena aku di sini.. Aku akan temani kamu ya.. Mana sayangku..?" Hery pun mengelus perut Rena.


"Sayang tenang ya.. Aku di sini.." Hery benar benar gemas.


"Hery... Kenapa kamu belum pulang tadi...?" Dengan pencahayaan remang remang dari senter ponsel di dalam kamar Rena membuat Rena bisa melihat Hery.


"Iya aku tadi sudah di parkiran tapi tiba tiba listrik di sana juga padam, aku teringat sama kamu yang takut gelap ya aku larilah ke sini lagi.." Tutur cerita Hery.


"Ooohh gitu.. Untunglah... Aku takut sekali tadi. Kenapa listriknya padam lagi..?"


"Karena Aku... Hehehee" suara hati Hery.


"Ya sudahlah kita tidur ya..." Hery mengusap rambut Rena.


"Ya Hery... Selamat malam..." Rena tak peduli dengan apa yang Hery lakukan karna Rena percaya itu adalah tanda kasian Saja dari Hery padanya.


Padahal itu adalah perhatian khusus dari Hery untuk Rena. Rena pun terlelap lebih dahulu dari pada Hery. Hery terus menatap Rena dan tak lama setelah Rena terlelap listrik pun menyala lagi. Sepertinya para petugas menemukan saklar yang di matikan Hery.


Hery memelerkan lidahnya, karna listrik ini menyala. Tapi tak apalah karna Rena sudah terlelap dalam tidurnya dan tak ingat kalau listrik sudah menyala lagi.


Hery terus memeluk Rena dan memilih untuk ikut terlelap saja.


Hery begerak sedikit dan tak sengaja bibirnya menyentuh kening Rena. Bibir lembut itu menempel sempurna.


"Ohh astaga..." Rena terkejut dengan hal itu.


"Aku tidak boleh seperti ini... Tapi..." Rena melihat Hery masih sangat nyaman di tidurnya padahal Rena ingin membangunkannya.


"Eeeemmm.." Hery mulai terganggu dengan sinar matahari yang masuk.


"Hery... Ini sudah pagi.. Kamu gak ke kantorkah..?" Rena berusaha saja membangunkan Hery.


"Aaah..." Akhirnya Hery membuka matanya dan melihat Rena dj dalam pelukannya. Dengan Cepat Hery melepaskannya.


"Maaf ya.. Aku terlalu memeluk kamu ya." Hery sadar dan mengerti yang Rena inginkan.


"Aahh gak juga..." Tiba tiba keduanya canggung seketika.


"Harusnya aku langsung bangun aja tadi gak usah kasih bangun Hery... Aduh..." Rena menyesali tindakannya.


Sementara itu aktivitas pagi Hery ysng lainnya juga bangun sejak tadi. Dan sebenarnya itu yang membuat Rena tidak nyaman. Ya benda itu..


Hery juga bingung harus melakukan apa karna ini pertama kalinya ia tidur bersama seorang Wanita. Hery tidak tahu apa ysng harus ia katakan atau lakukan.


"Eeemm Hery aku ke kamar mandi dulu setelah itu aku akan buat sarapan ya..." ucap Rena terlebih dahulu dan setelah mengatakan itu Rena bangkit berlalu.


"Ooohh ya ampun.. Heh kamu.. Kamu tadi kelihatan gak ya sama Rena... Haduh malu aku..." Gumam Hery.


Rena dan Hery kini sedang sarapan bersama di dapur. Meski hanya sarapan roti panggang dengan selai saja keduanya sangat menikmatinya.


Mereka juga berbincang bincang ringan di pagi hari ini, dan melupakan kejadian pagi tadi. Tiba tiba ada bunyi bell unit Rena. Hery yakin itu adalah Roy yang ingin menemui Rena.


"Bukalah Re.. Itu mungkin Roy.." Saran Hery dan Rena juga memikirkan hal yang sama. Pasti itu adalah Roy.


Rena pun membukakan pintu dan ternyata bukanlah Roy yag datang berkunjung tapi itu adalah istri pertama Roy yang datang berkunjung.


"Hai selamat pagi istri tersembunyi.." Ucap Debora kasar.


"Mau apa kamu..?" Hery juga dari dapur mendengarnya dan menyusul Rena takut takut Debora akan melakukan hal yang buruk pada Rena.


"Oooww aku ke sini dengan maksud baik kok... Aku ingin mengirimkan pesan Roy saja... Ini.." Debora memberikan ponselnya.


Rena menerima ponsel itu mengira kalau benar ada pesan dari Roy. Tapi di ponsel itu tidak ada apa apa hanya pemutar video saja.


"Apa ini..?" Rena tak mengerti.


"Oohh astaga tinggal klik Aja kok..." Debora memutar video itu di ponselnya yang di tangan Rena.


Hery dari balik dinding mendengarkan semuanya. Lanjut pada Rena dan Debora, video itu pun di putar.


Video itu menunjukan video Roy dan Debora semalam. Debora mengambil video itu saat Roy yang mengendalikan permainan semalam. Terlihat jelas Roy sangat menikmati apa yang Debora suguhkan di depannya.


Rena membulatkan matanya tak percaya. Rupanya Roy sangat menikmatinya. Rena memberikan lagi ponsel itu pada Debora.


"Aku gak butuh itu.." Rena ingin menutup pintunya tapi Debora berhasil menahannya.


"Eehh aku belum selesai bicara.." Rena mulai jengah.


"Apa Lagi?" Rena mulai emosi.


"Hei ibu hamil gak boleh emosi emosi kayak gini.." Debora mendorong Rena di bahunya.


"Heh jangan kasar..." Hery tak suka melihatnya.


"Ooohh rupanya ada asisten gak ada guna ini.. Astaga... Jangan jangan kalian berdua... Aaahh.. Kamu gantian sama Roy ya.. Aduhhhh... Ck ck ck.. Eehj tapi gak apa apa sih.. Bagus malah kalau kamu sama Hery aja.. Jadi Roy tetap sama aku..." Debora kegirangan.


"Aku di sini di perintahkan suami anda. Kenapa anda senang..?" Hery maju dan melindungi Rena.


"Ya donk.. Aku senang, jadi setidaknya kalau gak ada Roy kamu bisa sama wanita perebut suami aku ini." Debora semakin menjadi.


Rena...


off dulu... Like donk.. makin seru nihhh...