
"Itu pasti pesanan kita.." Bisma membukakan pintu kamarnya.
Ternyata benar itu adalah pesanannya.
"Silahkan di nikmati tuan.." ucap pekerja itu.
"Oh ya.. Ini tips untuk kamu.. Dan katakan pada repsionis di sana aku kami akan menginap lebih lama di sini.. Dan apa aku boleh minta tolong sedikit..?" Bisma mempunyai tugas untuk palayan itu.
"Iya tuan apa itu..?" Pelayan itu sepertinya bisa di andalkan.
"Aku akan bayar lebih kalau kamu mau membelikan aku ponsel di luar sana. Aku gak bisa keluar tinggalkan istriku sendiri.. Jadi tolong kamu yang belikan."
Bisma memberikan satu kartu persegi berwarna biru pada pelayan itu.
"Pakai ini.. Beli kan aku ponsel dan cardnya, mereknya sembarang aja yang penting bisa buat telponan. Sisa saldonya kamu bisa pakai.. Sekalian kartunya buat kamu.." Pelayan itu membulatkan matanya.
"Tuan tuan yang benar saja..?" Pelayan itu tak percaya.
"Iya.. Benar... Pakailah.. Tapi aku minta di belikan ponsel aja.. Sisanya untuk kamu.. Kalau gak salah di dalam ATM itu ada 60 juta aja.. Kamu belikan aku ponsel dan Cardnya juga gak usah habis 10 juta. Sisanya untuk kamu..! Oohhh bisa beli baju..? Baju.. Ck.. Jaket.. Dan rok, dan sepatu.. Eh gak usah.. Sendal aja.."
"Yang.. Kamu bikin dia bingung.." Potong Adel yang mendengar perintah Bisma. Belum lagi itu pelayan bingung dengan yang di lakukan Bisma, ia memberikan ATMnya berserta isinya juga.
"Oke gini.. Ingat baik baik.. Kamu kan belikan ponsel untuk aku.. Anggap aja 10 juta.. Abis itu kamu belikan jaket, rok, sandal biasa aja.. Udah abis itu balik lagi ke sini.." Titah Bisma.
"Ba.. Baik tuan.." Pelayan itu sedikit berlari meninggalkan kamar Bisma.
"Banyak banget yang di beli.." Protes Adel.
"Kan cuma jaket sama rok buat kamu biar kita bisa pulang.. Aku kehilangan ponsel aku.. Jadi aku harus beli baru. Setidaknya untuk hubungi Hery minta tolong.."
"Kamu hafal nomer telpon Hery..?" Adel rasa mungkin tidak.
"Tentu aku hafal.. Dia gak pernah ganti nomer telpon sejak dulu.. Bahkan nomer perusahaanya juga gak di ganti.." Bisma yakin.
"Oohh.." Adel mengangguk paham.
"Sayang makan dulu ya.." Ajak Bisma lembut pada Adel.
"Ayo.. Aku lapar.." Adel memeluk Bisma dari belakang.
"Hmm ya kan abis main ya laparlah.." Bisma memeluk balik Adel.
"Iya.. Di ajak suami ya mainlah.." Sergah Adel juga.
"Hmmmm sudah pintar dia ya.." Ledek Bisma.
"Eeemmm..!!" Adel membulatkan matanya.
Hery kesulitan mencari Bisma. Ia tiba di hotel tempat dilaksanakannya pesta semalam.
"Apa kalian ada melihat pria dan wanita ini..?" Hery mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto Adel dan Bisma.
"Maaf tuna tapi pengunjung kami banyak sekali sejak semalam jadi kami gak bisa menghafal semuanya.." Sahut respsionis itu.
"Ck.. Bisma..!" Hery mulai frustasi.
"Permisi tuan.. Siapa yang anda cari..?" Seorang pria mendekati Hery.
"Kakakku dia.. Ini.. Ini fotonya.." Hery memperlihatkan foto Bisma dan Adel.
"Oohhh ini laki laki yang minta saya membelikan ponsel untuknya dan juga baju untuk istrinya.." Rupanya ini pelayan yang di mintai Bisma tadi.
"Benarkah..? Di mana mereka kamar nomer berapa..?" Hery sudah tak sabar.
"Mari ikuti saya.." Pelayan itu membawa Hery menuju kamar Bisma.
Tok tok tok..
"Siapa itu sayang.." Adel panik.
"Aku liat dulu." Bisma bangkit dari duduknya dan menuju pintu. Di bukanya sedikit dan ia menangkap sosok yang ia kenal.
"Hery..?!" Bisma sangat senang melihat adiknya ada di sini juga.
"Bisma.. Kamu buat aku khawatir.." Omel Hery.
"Hery..!" Bisma malah menangis memeluk Hery.
"Bisma..?" Hery tentu langsung di landa kebingungan.
"Hery.. Hiksss.." Bisma menangis di pelukkan adiknya.
"Ck.. Sudah..! Pasti terjadi sesuatu kan..?" Tebak Hery. Hery juga melihat kondisi Adel yang hanya menggunakan handuk, Hery bisa membaca situasi Bisma.
"Pelayan tolong belikan pakaian untuk iparku.. Itu saja..!" Titah Hery.
"Baik tuan.." Pelayan itu berlalu.
Hery membawa Bisma masuk ke dalam kamar itu.
"Sekarang ceritakan padaku apa yang terjadi..!" ketika Bisma sudah tenang setelah memeluk Adel, Hery bertanya.
Bisma...