
Roy selesai membereskan pakaian Eyangnya dan berjalan mendekati Eyang dan Debora.
"Eyang sudah siap semuanya ayo kita pergi..." Ajak Roy dan Debora dengan cepat menggandeng Roy.
"Debora aku ingin mengiring Eyang... Kami itu baik baik saja..." Dengus Roy pada sikap Debora.
"Roy... Kenapa bagitu sama Bora.. Dia kan sedang hamil anakmu... Eyang ini masih kuat kok kalau baru berjalan, emangnya Eyang ini gak mampu jalan sampai kamu harus mengiring Eyang. Bawa Debora denganmu... Eyang bisa jalan dengan Sani, gandeng istrimu Roy..." Titah Eyang yang mau tak mau Roy turuti karna tak ingin Eyangnya akan memburuk jika melihatnya dan Debora kurang akur.
"Ayo Sani..." Panggil Eyang dan Sani asisten rumah tangga Eyang itu mengampirinya dan membawanya keluar dari ruangannya.
"Ayo Roy..." Debora mengandeng Roy lagi tanpa takut seperti biasanya, takut Roy akan menolaknya, takut Roy akan meninggalkannya, takut Roy akan membencinya. Semua itu tidak ada lagi karna sekarang Debora sudah dapat jurus baru untuk mengadapi Roy.
"Debora kamu..."
"Roy... Eyang liat nanti gimana... Lakuin aja dari pada Eyang sedih. Masa kita dua marah marahan sekarang padahalkan aku sedang mengandung dan Eyang mau kamu jaga aku baik baik Roy... Jadi..." Debora mendekatkan wajahnya ke telinga Roy "Terima sajalah..." Bisik Debora dengan penuh penekanan dan keyakinannya.
"Kamu boleh merasa menang sekarang Debora, tapi semua ini tidak akan berlangsung lama, karna aku akan mengungkap semuanya... Tungga saja permainanku Debora..." Roy berjalan dengan sedikit menarik Debora seperti menarik peliharaan saja.
"Roy ini sakit.." Protes Debora dengan tindakkan Roy padanya.
"Katanya mau di giring, kamukan sehat makanya di giring gini sakit, kalau kamu gak sehat baru enak di giring kayak gini." Roy memngiring Debora bagaikan menarik tas besar, lengan Debora di angkat tinggi oleh Roy, tentu saja itu sakit.
Debora menghempaskan tanganya dan melepas giringan Roy.
"Looohhh... Kenapa kok gak mau di giring... Kan kamu mau di giring sama aku..." Roy mengeraska ucapannya yang tentu saja terdengar oleh Eyang dan Sani di depan mereka.
"Roy...." Debora hendak marah pada Roy tapi melihat ada Eyang dan Sani maka Debora mengurungkan niatnya.
"Kalian berdua itu kenapa?" Eyag pun bersuara.
"Ini Eyang... Debora tadi mau di giring kayak orang sakit tapi udah Roy giring eh malah di hempas kasar sama Debora sampai tangan Roy sakit Eyang..." Roy belagak merasa saki t di tangannya dan memegangi tangannya.
"E.. Eyang.. Bora gaknya gitu kok... Roy..." Debora kesal dengan kebohongan Roy barusan, Debora pikir Roy sebodoh itu sehingga tidak meniru kebohongan Debora sendiri.
"Aku mengikuti permainanmu Debora, kita lihat siapa yang lebih tangguh dalam masalah berbohong, aku juga tidak payah dalam masalah berbohong..." Roy bergumam dalam hatinya.
"Hayyy.. Kalian dua ini, sebentar lagi mau punya anak masa kelakuan kalian berdua masih kayak anak anak... Malulah sama anak kalian nanti..." Tegur Eyang saja yang tak tahu apa apa tentang kedua cucunya.
Roy menahan tawanya sedangkan Debora menahan amarahnya.
Sedangkan itu Rena dan Dion masih di unit Rena dan saat ini Dion sedang menyiapkan makan siang karna tak lama lagi jam makan siang dan Rena sang ibu hamil membutuhkan banyak nutrisi.
Dion memasak sayur sayur segar dan juga membeli hati ayam untuk Rena, karna dari yang Dion lihat Rena sepertinya kekurangan darah karna sedang mengandung ini.
Rena hanya mengamati Dion dari meja makannya, sedangkan Dion kadan kadang menoleh memastikan keadaan Rena.
"Itu ya... Karna aku tidak ingin kamu... Eemm apa ya..." Dion bingung harus menjawab apa.
"Apa Dion...?" Rena semakin mendesak Dion untuk menjawab.
"Eeemm... Begini... Aku ingin... Kamu dan anakmu sehat terus, aku juga gak mau kamu jatuh sakit hanya karna memikirkan semua ini, intinya aku mau kamu dan anakmu baik baik saja.. Paham...." Jawab Dion yang terbelit belit tapi Rena berusaha untuk mengerti apa yang Dion katakan.
"Terima kasih Dion..." Ungkap Rena dengan sedikit senyuman di bibirnya.
Akhirnya setelah berjam jam barulah Dion melihat setitik senyum di bibir Rena. Itulah yang sedari tsdi Dion tunggu tunggu, satu senyuman itu mengirimkan sinyal ke seluruh tubuh dan menyatakan dirinya baik baik saja, bahkan mungin sang bayi kecil pun mendapatkan juga senyum dari ibunya itu, Itulah yang Dion percayai.
"Iya Rena... Aku berharap kamu jangan bersedih lagi ya... Tetap tersenyum seperti itu. Aku yakin anakmu sekarang juga akan tersenyum..."Hibur Dion lagi pada Rena.
Senyum Rena semakin melebar dan juga ikut yakin dengan perkataan Dion. Dion melanjutkan masak masaknya dan Rena kembali menyaksikan dari jauh saja.
Tadi Rena sudah meminta agar ia ikut membantu Dion tapi Dion tak memperbolehkannya dan Dion yang memaksakan Ren duduk di kursi tersebut dan cukup menonton saja apa yang ia lakukan.
Sementara itu Roy dan lainnya suda sampai di kediamannya, Roy mengambil ponselnya dan menghubungi Hery untuk mengirim tugas baru untuk Hery.
"Roy kamu sedang apa.. Ayo masuk..." Tanya Eyang yang du gandeng Debora.
"Eyang masuk duluan sama Debora, Roy mau Handle Hery dulu, kasian dia di kantor sendiri. Itu kan kantor dan perusahaan Roy, kasian kalau Hery kerjakan sendirian." Alasan Roy saat ingin menghubungi Rena.
Eyang pun masuk dengan Debora dan juga asistennya. Roy pun mulai menghubungi Rena. Nomer ponsel Rena aktif tapi Rena tak menerima panggilan dari Roy.
Roy berdecih kesal, akhirnya ia benar benar menghubungi Hery di kantor ysng sedang melakukan meeting.
"Halo tuan Roy.." Saa Hery dari sebrang telpon.
"Hery apa kamu kemarin malam menengok Rena, apa dia baik baik saja?" Tanpa basa basi Roy langsung saja ke inti.
"Iya Roy aku mengecek keadaan Rena. Saya bertemu dengan Rena d lift, ia hendak keluar mencari makan malam dan saya temani. Tapi saat kami kembali dari makan malam, Listrik apartemen Rena padam dan kami menunggu cukup lama tapi tak kunjung menyala, akhirnya saya mengajak Rena menginap di rumah saya tuan Roy." Hery benar benar jujur dengan apa yang terjadi dengannya dan Rena malam kemarin.
"Apa...? Kamu dan Rena di kediaman kamu...?" Roy salah sangka dengan maksud Hery yang membawa Rena ke rumahnya.
"Iya tuan saya membawa Rena ke rumah saya tapi itu ada sebabnya tuan..." Belum sempat Hery menjelaskannya lagi Roy keburu menutup telponnya.
"Cih... Roy... Pasti dia mengira aku dan Rena..." Hery mengingat lagi malam itu di mana ia dan Rena tidur sekamar dengan posisi yang tak mungkin dapat di bayangkan Roy.
Tapi Hery tetap positif thingkings Roy tidak akan berpikir sependek itu.
Roy...