AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 351


Tapi nomer ponsel Diana tidak aktif, mencoba lagi, tpi tidak di anggkat Diana.


"Mungkin dia sibuk.." Simpul Debora.


"Dion cepat sadar donk.. Aku kangen kamu.." Debora bermanja manja di lengan Dion.


"Aku cinta kamu.. Nikah yukk" Celoteh Debora.


"Haaahhhh.." Debora mengghela nafasnya kasar.


Malam pun tiba, Debora tetap setia menunggu Dion sadar. Tapi tidak ada tanda tanda laki laki itu sadar.


Debora terlelap sambil memeluk lengan Dion. Sampa pagi menyapa juga masih seperti itu.


Dion membuka matanya, matanya langsung melihat kecantikkan Debora. Wajah cantik itu agak pucat.


"Debora sayang.." Dion mengelusi surai panjang Debora.


Terlintas ide cemerlang di otak Dion. Ia membangunkan Debora tapi setelah itu ia pura pura tidur lagi.


"Huaaaaammm" Uang Debora. "Ya ampun.. Dion belum bangun juga..? Ini udah jam 7 pagi.." Gumam Debora.


"Apa aku panggil dokter aja..?" Pikir pikir Debora.


"Haahh.. Tapi masa aku tinggalin Dion sendiri.." Debora dilema.


"Dion.. Kamu udah sadar belum sih..? Bangun donk.. Aku kangen.. Kata kamu, kamu sayang aku, katanya.. Eemmm" Debora bersungut sedih.


Dion ingin membuka matanya saat itu juga tapi ia menahan hasratnya itu.


"Kamu bilang mau jadi suami aku.. Isshhh.. Kok kamu jahat.." Debora makin jadi.


"Dion.. Aku kangen kamu, kamu gak kangen aku.. Aku kangen di cium tahu.. Kangen di peluk kamu.. Tidur bareng kamu.. Plis bangun.." Racau Debora lagi.


"Dion.." Debora tersentak lagi.


"Aku serius.. Nikah yukk.." kali ini Dion tak bisa menahan senyumnya.


"Eehh?" Debora bertanya tanya senyum itu mekar di bibir Dion.


"Sayang.." Debora memanggil Dion.


"Selamat pagi sayang.." Sahut Dion.


"Ya ampun laki laki ini..!" Desis Debora. Ia sangat marah sekaligus senang melihat Dion sudah sadar.


"Maaf sayang.. Aku udah dari tadi sadar kok.. Ayo kita nikah.. Hari ini juga.."


Debora mencibik ucapan Dion. "Kamu ini.. Kamu tahu betapa aku khawatir.. Kamu... Hikss.. Hikss.." Tanp dugaan Debora malah menangis tersedu sedu.


"Ya ampun istri aku.." Dion malah terkekeh melihat Debora yang menangis.


"Sini.. Sini." Dion menarik Debora dalam peluknya.


Dion membiarkan Debora menumpahkan tangisnya. "Maafkan aku ya.. Tapi sumpah.. Ayo kita nikah.." Debora memcubit keras pinggang Dion.


"Aaawww... Sayang sakit.." Rengek Dion.


"Aku lagi nangis kamu malah ejek ejek.. Senang ya liat aku nangis.." Debora menyeka jejak air matanya.


"Kok nikah..?"


"Tadi kamu ajak."


"Haaahh Dionnnnnnnn!" Teriak Debora.


Terlihat Debora menjadi lemah karena perdebatan ini. Belum lagi ia sudah khawatir dengan Dion sejak semalam.


"Sayang.." Dion mulai khawatir melihat Debora yang menjadi lesu seakan tak bertenaga.


"Eemmm" Debora masih ngambek dalam lesunya.


"Sini.." Panggil Dion lagi.


Debora hanya menurut. Ia mendekat dengan Dion. "Sayang, sayang capek.. Jaga kesehatan untuk babyku.. Pliss.. Sini baring sama aku.."


"Yang sakit siapa yang baring siapa.." Cicit Debora.


"Sayang.." panggil Dion lagi.


"Eemmm" Debora masih ngambek.


"Cintaku yang cantik.. Sayangku.. Istriku.. Ibu anak anakku.. Sini.. Biar suamimu peluk kamu..."


"Eeemmm" Debora luluh memeluk Dion.


"Capek ya.. Kasian baby.. Pasti dia juga capek.. Maafin Papa ya sayang.. Maaf.. Papa gak hati hati.." Dionerasa bersalah.


Debora tak menjawab, ia nyaman dalam dekapan Dion.


"Aku cinta kamu.." Bisik Dion.


"Makanya hati hati.." Bulir bening Debor tumpah lagi.


"Iya.. Aku janji, aku bakal hati hati.. Maaf ya buat sayang sedih.."


Debora menjawab dengan mengangguk.


"Udah dulu donk nangisnya.. Baby aku marah nanti." Bujuk Dion.


"Eeemm" Debora mengangguk lagi.


"Haaisss.. Sayang ini.. Gitu aja kok nangis.. Aku gak apa apa loo.. Ini.. Ini jahitan ya di pelipis aku ini..?" Dion merasakan rasa aneh di pelipisnya.


"Iya di jahit, karena sobek.." Debora dengan suara seraknya karena tangisan.


"Dan kayaknya, bahu aku..." Dion sedikit mencoba menggerakan bahunya.


"Jangan di kasih gerak dulu.. Sakit nanti.." Debora yang merasa ngilu melihat Dion menggerakkan bahunya.


"Gak apa apa kok"


***


Sedangkan itu Roy di ruangan yang tak berada jauh dari ruangan Dion juga baru sadar. Rasa sakit menggerogoti tubuhnya yang terluka, Nur selalu di sampingnya dan menemani Roy.


Roy..