AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 9


"Roy tunggu..." Debora mengejar Roy hingga garasi rumah mereka.


"Roy memangnya malam malam begini ada urusan mendadak apa? Para tamu mencarimu... Apa ada masalah genting di perusahaanmu?" Debora menghujani pertanyaan saat Roy sedang tidak ingin berbicara panjang lebar padanya.


Roy mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Hery asistenya. Hery tinggal beberapa blok dari kediaman Roy dan Debora. Semua itu memang di rancang Roy agar bila Roy memerlukan Hery untuk membantunya maka tidak membutuhkan waktu lama.


"Hallo... Her bisa jemput aku, aku baru dapat kabar kalau ada beberapa saham yang di tarik. Aku ingin memastikannya sendiri ke perusahaan, apa kamu ikut?" Roy pura pura sedang sibuk dengan telponnya dan mengabaikan Debora yang terus menempel padanya.


"Tapi tuan dalam infoku tidak ada kok... " jawab Hery dari sebrang telpon.


"Ehem... tapi aku baru saja mendapat kabarnya Her... kalau kamu tidak ingin ikut ya sudah aku jalan sendiri saja." Setelah mengatakan itu Roy langsung memutuskan sembungan telpon.


Sementara itu Hery mendengar ucapan tuannya dengan secepat kilat bersiap dan menganti pakaian tidurnya dengan pakaian kantornya, mengenakan sepatu khusus kantornya dan langsung tancam gas mobilnya.


***


"Roy kamu belum jawab pertanyaanku..???!!" Debora makin penasaran dengan tingkah suaminya.


"Salah satu saham di perusahaanku di tarik, aku ingin langsung melihatnya sendiri apa yang baru saja aku dengar." Roy menjawab pertanyaan Debora tanpa menatap Debora sama sekali.


"Haahhh.. Kamu ini, kalau baru satu saham yang ditarik tidak apa apa sayang... Oohh ya aku lupa bilang kata John ayahnya juga akan menanamkan saham di perusahaanmu... John yang selalu menceritakan perusahaanmu pada ayahnya yang kini tinggal di Amerika itu. Dan oleh karna itu ayahnya ingin menanamkan sahamnya di perusahaanmu sayang." Telinga dan mata Roy seakan di bakar api biru yang menjalar ke seluruh tubuhnya mendengar ucapan ucapan Debora lagi tentang John kekasihnya itu.


Hampir saja Roy mengeluarkan kata kata bijaknya, terdengar bunyi klakson mobil. Dan ternyata Hery yang datang untuk menjemput Roy.


"Maaf aku permisi dulu. Ini sangat penting untukku. Dan kamu tidak perlu ikut campur masalah sahamku yang hilang atau masuk. urus saja urusanmu oke. Dan jika tamu tamumu bertanya tentang aku, katakan kalau aku sibuk membahagiakan kamu. Aku pergi dulu.." Roy langsung menghampiri mobil Hery dan langsung masuk karna sedari tadi Hery sudah menunggu Roy sambil membukakan pintu mobil.


Setelah tuannya masuk Hery mengitari mobil dan masuk di tempat pengemudi. Dan langsung melajukan mobilnya tanpa melihat kebelakang lagi.


"Kenapa sayang??? kemana suamimu itu malam malam begini?" John datang dengan tanganya yang di masukan ke dalam saku celananya.


"Katanya ingin ke perusahaan, ada saham yang ditarik investornya." Debora dengan lesu menjawab pertanyaan John. Jujur Debora sedih dengan apa yang Roy lakukan, sebenarnya Debora ingin memamerkan kemesraannya nanti di hadapan banyak orang dengan Roy. Agar semua orang tahu kalau ia begitu di sayang oleh CEO dari persahaan ternama di negara ini. Tapi kenyataannya Roy malah meninggalkan pesta yang Debora buat dengan alasan ada saham yang ditarik.


"Hei sayang jangan sedih..Kan ada ku yang menemanimu.. Untuk apa kamu mengharapkan suamimu itu??"John ragu dengan kata sayang yang selama ini Debora katakan untuknya saat melihat Debora sedih menatapi mobil Roy pergi menjauh. "Mungkin saja sebenarnya dia ingin menemui gadis liar di luar sanakan, kita gak tau dia kamana, walaupun di bilang ingin ke Perusahaan tapi ternyata dia melenceng ke tempat lain di jalan..Kita tidak tahu kan!!?" John mengompor ngompori Debora agar apa dari Debora membara dan memutuskan hubungan suami istri antara keduanya.


Mata Debora tak henti hentinya melihat jalan poros di depannya berharap Roy kembali dan memilih menikmati pesta dengannya. Tapi sama sekali tidak ada tanda tanda ingin kembali dari Roy.


"Biarlah dia ingin kemana, ingin ke taman hiburan khusus laki lakikah? Rumah wanita lainkah? Yang terpenting itu, akulah istrinya, semua harta hartanya menjadi milikku, walaupun ia pergi ke wanita lain, paling paling wanita itu hanya mendapat satu juta dari Roy. Tapi kalau aku...Ciiih... Tidak terhitung. Dan aku yakin, cinta Roy hanya untukku. Roy tidak akan bisa mencintai wanita lain kecuali aku." Debora sangat percaya diri akan dirinya yang paling di cintai oleh seorang Roy Filip.


"Roy... kenapa mengajak aku keluar malam malam begini, Aku mau tidur tau.." kini Hery sama sekali tidak menganggap Roy sebagai bosnya melainkan taman masa kecilnya. Hery dan Roy adalah sahabat sejak kecil, mereka bersekolah di tempat yang sama, kuliah di tempat yang sama meskipun Roy kakak tingkatnya Hery sama sekali tidak mempermasalahkannya. Yang terpenting Ia dan Roy terus bersama. Dan begitu pula dengan Roy ia tidak memiliki teman seakrab Hery sama sekali. Oleh sebab itu apa apa Roy pasti akan menceritakannya lada Hery, entah itu tentang pekerjaannya, bahkan rumah tangganya sekalipun.


"Kali ini apa yang terjadi Roy... Sebelum ini kamu pernah juga sekit hati dengan Debora tapi kamu tidak pernah sampai mengajak aku pergi malam malam begini. Pasti kali ini parah sekalikan?" Hery sudah menduga apa yang terjadi dengan sahabatnya ini.


"Katakanlah Roy...!!" Hery meminta Roy untuk membagi sakit hatinya padanya.


"Dia bilang tidak baik memakai barang milikku tanpa seizinku, tapi ternyata yang dia pakai adalah ranjangku... Dan tanpa meminta izin sama sekali. Tapi ia minta izin untuk membuat pesta di rumahku dengan kata 'tidak baik bukan memakai barang tanpa izin terlebih dahulu.' Roy menirukan ucapan Debora padanya siang tadi. Tapi Her... Mereka menggunkan ranjangku!!!!!" Roy berterika di dalam mobilnya. Jika ada mobil di belakang atau di samping mobil Roy dan Hery pasti mereka akan mendengar teriakan Roy.


"Oke akan akan kumpulkan semua barang bukti dan akan aku gugat cerai Debora jika memang itu yang ia inginkan. Hery bantu aku oke." Roy berusaha mengatur emosinya lagi agar kembali tenang.


"Apa kamu yakin Roy? Coba pikirkan dengan seksama lagi. Jika sekarang kamu lakukn itu maka akan di dengar oleh nyonya besar dan pasti kamu tau sendiri apa yang akan nyonya lakukan. Dia tidak akan membiarkan kamu dan Debora berpisah dan nanti jika beliau banyak pikiran pula maka kesehatanya lagi. Ingat beliau sudah tua.." Hery memberi saran pada Roy.


Roy nampak gusar dan apa yang Hery katakan ada benarnya juga. Eyangnya tidak akan setuju dengan apa yang Roy lakukan jika meceraikan Debora bahkan jika Roy memberikan bukti bukti yang ia kumpulkan Eyangnya tidak akan percaya kepadanya.


"Lalu aku harus bagaimana Her.... Aku tidak tahan lagi terus begini"


"Eyang akan membiarkan kamu dan Debora berpisah jika Debora sendiri yang memintanya pada Eyang. Barulah kamu akan terbebas Roy. Bukankah itu rencana awalmu kemarin." Hery mengingatkan Roy akan Rencananya sendiri.


Roy berencana mengikuti semua apa yang Debora lakukan dengan sang kekasih. Dan jika Debora sudah lelah dengan Roy pasti Debora yang akan meceraikan Roy, dengan begitu Eyang tidak bisa menolak lagi. Tapi dengan semua desaka pikiran Roy, Roy lupa apa yang menjadi tujuan awalnya tadi.


"Kau benar Hery, aku terlalu gegabah tadi. Nanti bila aku gegabah lagi jangan takut untuk ingatkan aku lagi ya." Roy menyandarkan kepalanya di kursi penumpang yanv ia duduki kini.


"Kau tenang saja itu adalah tugasku. Saling mengingatkan.. Itu nama Tengahku.. ahaha.. ohya kita inj sebernarnya mau ke kantor benaran? Apa benar ada saham yang di tarik?" Hery kini menganti pembicaraan mereka tidak ingin membuat hati sang sahabat semakin terpuruk.


"Kau ini.. Apa kamu tidak dengar aku berdehem tadi? itu artinya aku sedang berbohong, untuk apa kamu tanggapi. Kita ke hotel Mawar tempat aku menikah dengan Rena. Aku sedang ingin dia sekarang." Roy kembali menyandarkan punggungnya.


"Untuk apa kita kesana tuan.. Nona Filip kecil sudah di bawa ke Apartemen Emas.." Hery mengingatkan Roy lagi.


"Ooohhh iya aku lupa kalau dia sudah di sana. Ayo kita kesana, Dan terima kasih lagi sudah ingatkan." Roy menutup matanya dengan lengannya sambil tersenyum pada Hery dan memberikan jempolnya pada Hery.


"Apa aku bilangkan, saling mengingatkan itu nama tengahku." tanpa aba aba lagi dari Roy, Hery langsung melajukan mobilnya menuju apartemen Rena sekarang.


Sementara kedua orang itu sedang menuju apartemen Rena, Rena sendiri tengah menyiapkan makan malam untuk dirinya sendiri. Rena tertidur saat berbaring di kamarnya, ia tebangun dan sudah malam. Rena memilih untuk mandi terlebih dahulu dan menuju dapurnya dan memilih bahan makanan untuk ia masak.


Rena milih untuk memasak ayam goreng tepung dan membuat sambal tomat, karna Rena tidak tahan pedas Rena hanya menggunakan sedikit cabai.


Di sela sela acara memasaknya Rena terimgat akan Roy. Rena memikirkan apa yang tengah Roy lakukan sekarang ini. Jika ditanya jujur Rena benar benar menyukai Roy. Entah bagaimana bisa tapi itulah yang Rena rasakan. Tapi apalah dayanya, kini ia bermalam pengantin sendiri di apartemennya.


Tiba tiba...