
Hery yang tak suka dengan air mata Rena segera menghapusnya.
"Sayang... Aku cinta kamu itu apa adanya, aku gak masalah Alf dab Elf kemarin anakku atau bukan. Yang penting kalian tetap sama aku.." Hery hanya menginginkan itu.
"Hery.. Katakan yang sebenarnya.. Kayak apa kita.. Dan aku malam itu..?" Rena penasaran dan begitu juga kita.
"Oke sayang.. Tapi kamu harus janji untuk tetap cinta sama aku.. Aku gak mau kamu marah apalagi benci aku.." pinta Hery.
"Sayang.. Apa pun yang terjadi aku gak akan marah apa pun benci kamu.. Aku tetap cinta sama kamu.." Rena yakin akan itu.
"Oke.."
Flashback on
Malam ini Rena hanya seorang diri di Apartemen. Rena menikmati malamnya tanpa keberadaan Roy. Lelah ia hanya menatap Bintang maka ia masuk ke dalam dan bersiap tidur.
Cukup memakan waktu menunggu matanya untuk terpejam. Matanya sudah terpejam. Tapi rasa gerah di tubuhnya mengganggu. Rena pun bangun lagi untuk membuka bajunya dan hanya mengenakan kain tipis untuk pakai menutupi tubuhnya.
Akhirnya Rena bisa tidur dengan pulas setelah membuka bajunya itu. Belum terlalu larut malam, seorang laki laki datang dengn menggerutu.
Sepertinya ia sangat kesal dengan uang harus ia lakukan.
Baru sampai di lobi tiba tiba listrik padam. Ia melihat sekeliling. "Permisi pak, kenapa listriknya mati..?" Ia pergi menanyakan seorang petugas yang berjaga di lobi.
"Ya Pak, listrinya belum mendapat petugas yang tepat untuk melihatnya mungkin sebulan ke depan baru ada. Maklumlah harus tunggu orang luar negeri.." ucap Si bapak penjaga.
"Ooohh gitu ya.. Ya udah saya masuk dulu.." Laki laki itu berlalu, karna listri padam ia mengunakan tangga darurat saja.
"Kenapa Roy minta aku yang liat kondisi Rena, dia ngapain coba. Istri istrinya kok aku yang susah..." Masih terus menggerutu di perjalanannya.
Laki laki itu adalah Hery yang di pinta Roy untuk memeriksakan keadaan Rena. Roy tak bisa pergi karna ada Debora di rumah, mau tak mau hanya mengawasi dari jauh..
Keadaan masih sama saat Hery tiba di depan Unti Rena. Listrik masih padam, gela gulita. Hery yang tadinya menggunakan senter di ponselnya, ia matikan dan hanya menggunakan sinar dari layar ponsel. Takut akan menganggu Rena. Lagi pula Hery hanya mendapat tugas untuk memeriksa kondisi Rena saja.
Roy sudah memberitahu apa kode unit Rena maka dengan mudanya Hery masik dengan kartu yang Roy berikan padanya.
Keadaan Unti Rena sepi, Hery yakin Rena pasti sudab tidur. "Haaaa.. Aku liat dulu ke kamarnya.."
Hery masih di ruang tengah dan kini berjalan ke arah kamar Rena. Tidak ada penerangan sama sekali di dalam unit Rena oleh karna itu Hery yakin Rena sudah tidur. Hery tak sengaja menyenggol sebuah meja dan membuat suara.
"Eeemm?" Rena bergumam dari tidurnya. Ia membuka matanya tapi pengeliahatannya masih gelap
"Apa ini.. Kenapa gelap..?" Rena mulai panik.
Ia bangun dari baringnya. Mencari ponsel atau apa pun yang ada di dekatnya. Ia menemukan lampu mejanya tapi saat ia nyalakan tak menyala karna listrik padam.
"Ponsel.... Ponselku mana..?" Rena terus meraba.
***
"Iissshh kenapa barang ini jatuh...?" Hery memutik hiasan meja yang terjatuh karna ia senggol.
Setelah itu Hery melanjutkan langkahnya. Malam ini penampilan Hery biasa saja hanya mengenakan kaos dan celana panjang serta sepetu. Ini bukan pekerjaan yang formal dan mengharuskan dia mengenakan pakaian yang rapi.
Hery mendorong pintu kamar Rena. Rena terhenti sejenak. Ia melihat cahaya yang masuk meski tak jelas itu cahaya apa tapi Rena sudah sangat senang.
"Roy..?" Rena pikir itu adalah Roy.
Ia pun turun dari tempat tidur dan langsung memeluk Roy entah karna rindu atau apa yang membuat Rena begitu saja mengira itu adalah Roy.
Hery tentu terkejut, Rena memeluknya dengan Erat.
"Aku takut gelap Roy.. Aku takut..." ucap Rena di balik pelukkannya.
Rena mencium aroma parfum di baju Hery. Begitu wangi di penciumannya, Rena bahkan terus menciumi tubuh Hery.
"Rena..?" Hery tersentak kaget dengan apa yang Rena lakukan padanya.
Ini pertama kalinya Hery merasa ada yang mencium tububnya. Apalagi Hery hanya mengenakan kaos tipis membuat gerakan Rena sangat terasa dari luar bajunya.
" Tidak.. Hery ini dosa besar.. Kamu jangan tergoda... Rena adalah.." isi pikiran Hery terhenti karna Rena mengecup bibirnya.
"Ciuman ini..?" Hery ingin menolak tapi lama kelamaan ia menikmatinya. Bahkan tangan Rena yang nakal di dadanya Hery tak peduli bahkan semakin terhanyut.
Hery balik memeluk tubuh kecil Rena, meraba punggung Rena. Rena semakin mendekatkan tubuhnya pada Hery.
"Ini gak bisa terus terjadi.. Stop Hery Stop.." Hery terus mengingatkan dirinya tapi karna di buai oleh sentuhan Rena ia tak sadar malah terus menikmatinya.
"Rena ini aku..." ucapan Hery yang ingin mengakui ia siapa terhenti karna Rena mencari senjata Hery di bawah sana.
"Ooohhhh.." Hery malah menarik Rena dalam pelukkannya dan membiarkan Rena melakukan apa yang ia inginkan.
Mulai dari tangan yang memainkannya, beralih ke mulut pula. Hery sudah tidak peduli siapa Rena, apa ia istri simpanan Roy atau siapa pun. Kenikmatan yang ia rasa ini tidak ada duanya.
"Oohh.." Hery semakin mendorong Rena agar lebih dalam.
Mata Hery tertuju pada tempat tidur Rena yang cukup besar. Terlihat sangat empuk di matanya. Maka ia meletakan ponselnya di kursi itu lalu menganggkat tubuh Rena di bawanya ke tempat tidur.
"Aku lagi pengen.." Rena membisikkan itu di telinga Hery. Tentu detak jantung Hery di buat berdetak lebih kencang karna ucapan Rena yang satu itu.
"Ya aku juga mau." Lirih Hery sambil menanggalkan pakaiannya. Rena yang hanya mengenakan selimut tipisnya hanya tinggal menunggu serangan dari Hery yang ia sangka adalah Roy.
Hery naik ke tempat tidur itu juga ia mengelus wajah Rena. Wajah yang cantik itu miliknya malam ini.
"Biar aku duluan.." Bisik Rena setelah ia mengecupi bibir Hery lagi. Hery yang terbuai hanya mengiyakan. Rena yang menguasai permainan dari awal ini tak heran jika des**han kebanyakan dari Hery.
"Issshh besarnya..?" Rena merasa ada yang berbeda malam ini.
"Aaahh.." Rena tak sanggup melanjutkannya lagi karna rasa baru yang ia dapatkan.
"Biar aku coba juga.." Bisik Hery dan ia lagi yang mengantikan posisi Rena dan bertukar tempat dengan Rena.
"Buka yang lebar..." Bisik Hery.
Getaran getaran di tempat tidur, seprai, bantal, selimut itu menandakan begitu hebatnya permainan mereka. Entah berapa lama tapi selama mereka berdua menikmatinya selama itu juga akan di lanjutkan.
Pertama kalinya, tapi malah mendapatkan pelayanan spesial dari Rena sejak Awal, Membuat Hery ingin lagi lagi dan lagi di malam ini. Belum tentukan malam besok dan seterusnya ia bisa merasakannya.
"Ooohhwww.." Hery berhenti dan menatap Rena dalam kamar yang terang remang remang ini.
"Kamu cantik sekali.. Kamu juga nikmat sekali.." Lirihnya. Rena sudah sangat kelelahan maka ia langsung tertidur.
Mata Hery masih terus berkelana di tubuh Rena. Banyak yang ia coba untuk menghilangkan rasa penasarannya.
"Ini empuk.." Nilai Hery saat mencoba dua boba coklat Rena.
"Kenapa ini sangat enak..?" Hery masih di tempatnya menatap juniornya.
"Astaga... Ck ck ck..?" Hery menggelengkan kepalanya.
Hery turun dari tempatnya, ia memilih untuk berbarin di samping Rena. Mereka saling berhadapan, Hery juga tak puas puasnya menatap Rena.
"Kenapa kamu buat aku jadi raja malam ini...?" Hery merapikan rambut Rena.
"Kamu milik Roy... Dan apa yang aku lakukan..?" Hery merasa bersalah.
"Aku akan mencintai kamu dalam diam." Hery mengecup kening Rena. Ia kira ini adalah kali terakhir ia mengecup dan bahkan bemain dengan Rena.
Setelah kecupan penuh arti Hery ia memunguti baju Rena dan ia pakaikan lagi pada Rena. Rena tidak mengingat apa apa karna ia sangat lelah kerna permainan dan rasa baru yang ia rasakan malam ini. Bukan hanya merapikan baju Rena, Hery juga merapikan tempat tidur yang begitu berantakan karna ulahnya dan Rena.
"Aku pergi dulu.. Aku mencintai kamu.." Cup satu kecupan lagi di titipkan Hery pada Bibir Rena.
Setelah itu Hery pura pura tak pernah terjadi malam panasnya dan Rena. Ia mungkin bertemu dengan Rena beberapa kali tapi ia berusaha menahan diri.
Setelah mendengar kabar dari Roy kalau Rena sedang hamil, Hery ragu apa itu bibitnya ataukah Bibit Roy. Ia juga menahn dirinya.
"Mungkin itu punya Roy.. Aku cuma pinjam Rena semalam saja.." Isi hati Hery.
Tapi kendati demikian apa pun yang Rena perlukan maka yang terlebih dahulu mencari tahu adalah Hery. Ia tidak ingin Rena dan calon bayinya kekurangan apa pun. Bahkan Hery sering mengikuti Rena diam diam hanya untuk memastikan Rena baik baik saja. Bahkan selalu ada untuk Rena saat ia membutuhkan teman. Apalgi saat itu hubungannya dengan Roy benar benar hancur.
Flashback off..