
Roy baru membuka matanya, ia tertidur dengan nyenyaknya. Bahkan sampai kesiangan.
Awalnya Roy melakukan aktivitas biasa saat bangun tidur, meregangkan tubuhnya, menguap lagi, mengucek mata, melihat jam. Ketika melihat jam barulah Ia sadar hari ini ia akan minta tolong pada sang Eyang.
Dengan sangat bersemangat Roy turun dari tempat tidur, tanpa mandi dan lainnya, Roy langsung turun ke dapur mencari sang Eyang, sekitar jam segini Eyang sedang sarapan.
"Eyang..?" Panggil Roy ketika melihat Eyangnya sedang duduk di taman seorang diri.
"Roy.. Baru bangun..?" Duga Eyang karna melihat Roy yang masih tak karuan itu.
"Eyang.. Aku ada permintaan sama Eyang.. Eyang mau kan dengarin Roy...?" Roy langsung saja tanpa basa basi.
"Apa Roy.. Kok kamu aneh benget pagi pagi gini.. Mimpi kamu..? Ngigau..?" Eyang memastikan cucunya ini.
"Eyang Roy kan mau punya anak Eyang... Nah kan istrinya Hery lagi ngandung..." Roy mulai membicarakan permintaannya.
"Terus...?" Eyang juga penasaran.
"Eyang minyalah sama Hery, aku mau adopsi atau sekedar angkat anaknya Hery nanti jadi anak aku Eyang.. Mau ya bantu Roy..." Eyang menyipitkan matanya.
"Roy Roy... Kemaren Debora ngandung, tapi kamu buat Debora keguguran, sekarang kamu malah minta anak orang lain? Roy.. Berdoa sama Yang Kuasa, Eyang yakin kamu dan Debora pasti di berikan juga yang seperti punya Rena dan Hery..." ucap Eyang bijak.
"Iya tapi itu bukan punya Hery, itu punya aku..." Roy tak tetap tak terima kalau itu di sebut anak Hery.
"Roy dengarkan Eyang. Debora sedang berjuang untuk dapat pengganti yang kemarin... Janganlah kamu pupuskan harapan Debora dengan main ambil aja anak orang lain. Usaha Roy usaha, kalau kamu mau usaha pasti kamu dapat juga.. Debora itu lagi berusaha dengan keras Roy, dia tadi sudah berangkat ke dokter kandungan, konsultasi tentang rahimnya, apa dia bisa mengandung lagi setelah keguguran kemarin... Harusnya kamu dukung Debora, semangati dia.. Bukanya malah rengek rengek ke Eyang gini.." Eyang tak habis pikir Dengan Roy.
"Aku gak ambil anak Orang Eyang itu anak aku bukan anak Hery.....!!!" Roy benar benar kesal dalam hatinya.
"Eyang, aku mau secepatnya, kalau Debora dia gak bisa secepat itu kasih aku anak, dia harus konsultasi terus rahimnya dan kata dokter kemarin juga Debora baru boleh hamil lagi kira kira 6 sampai 12 bulan lagi.. Kelamaan Eyang... Roy maunya cepat Eyang.. Rena kan bentar lagi lahiran..." Roy masih berusaha.
"Roy.. Eyang bilang dukung Debora bukanya mengharap istri orang lain." Eyang mengeleng gelengkan kepalanya dan pergi dari hadapan Roy.
Tiba tiba Eyang berhenti di tengah jalannya dan menoleh lagi pada Roy, "Kalau kamu gak jemput Debora nanti siang dan mulai sekarang dukung dia, Eyang dan Debora pulang aja ke rumah Eyang... Eyang gak akan biarin menantu Eyang itu berusaha sendiri.. Liat aja nanti kamu Roy.." Kembali Eyang mengelengkan kepalanya.
"Aduh.. Kepalaku.." Tiba tiba Eyang memegangi kepalanya.
"Eyang..!" Roy berlari hendak menolong Eyangnya.
"Sudah sudah.. Gak apa apa.. Eyang bisa sendiri.." Eyang tak terima bantuan Roy.
"Eyang marah sama Roy..?" Roy malah bertanya lagi.
"Sudah Eyang mau masuk. Panas lama lama Eyang di luar ini..." Eyang melanjutkan jalannya lagi dan ia memanggil seorang pembantunya untuk membawanya masuk.
"Aku kenal kamu Eyang.. Aku tahu Eyang marah sama aku...." Roy menundukan kepalanya.
"Eyang... Apa salahnya sih kalau Roy mau angkat anak Hery jadi anak Roy.. Gak ada salahnya Eyang.. Eyang tinggal minta sama Hery... Aku yakin juga Debora pasti senang.." Kali ini Roy membawa nama Debora untuk merayu sang Eyang.
"Roy kamu gak ada rasa bersalah kah sama Debora yang sudah kamu buat keguguran? Harusnya kamu yang tanggung jawab akan keadaan Debora sekarang, kamu harusnya semangati di, 'Debora semangat ya biar kita bisa punya anak lagi...' Atau kata kata lain yang bisa semangati Debora. Ini kamu malah minta anak Orang sih.. Eyang gak paham ya sama kamu... Kemarin Debora hamil kamu gak peduli Eyang liat, sekarang Debora gak hamil, dia keguguran, lah kamu mau cepat punya anak... Gimana sih... Apa mau kamu Roy..?" Eyang makin marah dan kesal pada Roy yang ia anggap salah dalam hal ini. Nafasnya sudah memburu ingin sekali ia menerkam Roy saat itu juga.
"Iya biii.. Nenek nenek mana juga yang gak naik darah punya cucu kayak gini amat, sudah istrinya keguguran, baru cari anak, pas istrinya hamil gak di pedulikan.. Mau apa sih.. Di kasih jantung minta Hati deh.." Eyang terus masuk dalam kamarnya dengan di giring oleh pembantunya.
"Haaaahhhh..." Roy menhela nafasnya.
***
Hery dan Rena berbeda, Hery sedang mengecek info info dari perusahaannya, apa ada kemajuan atau kekurangan selama ia tidak turun ke kantor. Rena setia di sampingnya, sejak tadi Rena mengandeng satu tangan Hery dan satu tangan Hery memainkan Laptopnya.
Tidak ada cara lain, Rena tak ingin jauh jauh dari Hery. Inilah cara yang terbaik. Kalau lelah juga nanti Rena lepas gandengannya setelah itu ia berbaring di sofa itu, bersandar, memainkan ponsel Hery. Dan kalau sudah mau gandeng ya sudah tinggal ambil lengan sang suami tercinta.
"Aahh selesai.." Hery menyelesaikan tugas kantornya dan kemudian langsung memeluk Rena.
"Aku cinta kamu..." Bisiknya.
"Sayang.. Kita cari es krim yukk..!" ajak Rena tiba tiba.
"Eemm..? Bukanya di kulkas kita punya es krim..?" Hery yakin ia tela membelinya.
"Gak aku gak mau yang itu, aku mau ysng di jual di kedai kedai gitu.. Mau gak..?" Rena takut Hery tidak dapat memenuhi permintaannya ini.
"Apa sih yang gak buat istri aku ini... Yuuuk! " Hery bangkit dan Rena pun bangkit.
Mereka kini sudah di salah sati kedai es krim. Rena sangat suka dengan es krimnya. Begitu pula dengan Hery, selain karna suk Es krimnya Hery juga suka melihat Rena sangat senang di hadapanya.
"Hai..!" sapa seseorang tiba tiba.
Sontak Rena dna Hery menoleh ke arah suara. Seorang wanita tersenyum pada Hery.
"Hai... Kamu gak berkunjung lagi kah ka Bar.. Aku gak liat lagi kamu.."Wanita itu adalah salah satu pekerja di Bar tempat Hery mabuk kemarin.
"Gak aku gak mau ke sana lagi.." ucap Hery dan memperhatikan Rena. Ren tak perlu di tanya ekspresinya sekarang, pastinya menahan amarah.
Apalagi melihat tubuh wanita di hadapannya ini sangat bohai dan mantap. Pasti pikirannya sudah kemana mana, dan Rena juga teringat akan cerita Hery saat di malam pertama ia berkunjung ke bar, ada seorang wanita yang bahkan membiarkan Hery menyentuhnya.
"Maaf ya.. Permisi.." Hery merasa Rena akan semakin marah, maka ia membawa Rena langsung keluar dari kedai es krim itu.
"Eh tunggu.. Kalau ke bar, cari aja Lita ya.. Aku stay terus kok..." Tak lupa kesan genitnya ia perlihatkan, kedipan dan kode kode aneh yang ia perlihatka melalui tubuhnya.
"Cihhhh.." Rena berdecih.
"Sudah sayang jangan dengar ayo kita pulang..." Hery langsung memeluk Rena dan membawanya ke dalam Mobil.
Rena...
Off dulu guys... Likenya donk, koment juga tu pertanyaan Author, mau kisah Rahasia Roy sama Hery atau Eyangnya tahu