
Roy keluar dari ruangannya.
"Roby, kamu ada pereda Nyeri kah..? Aki sakit gigi.." Roy memegangi pipi sebelah kanannya.
"Eeemm cuma cari ke klinik." Saran Roby.
"Oke.." Roy pergi menuju Klinik.
"Bi.. Ada pereda nyeri gak..?" Roy langsung masuk saja.
"Eeemm, bentar ya.." Abi mencari obat pereda nyeri untuk Roy.
"Ini... Kamu kenapa..?" Abi menyerahkan obat itu pada Roy.
"Aku sakit gigi kumat ini.." Ucap Roy dan langsung merobek kemasan obat itu dan langsung meminumnya di klinik iti juga.
"Haahh... Sudah lama gak kumat eh sekarang baru kumat lagi.." Roy masih merasakan sakit yang teramat pada Giginya.
"Kamu pulang aja Roy.." Roby yang khawatir dengan keadaan Roy langsung menyusul Roy ke Klinik.
"Ya Rob.. Kayaknya memang harus begitu.." Roy dan Roby kembali ke ruangan Roy dan Roy menyimpun barang barangnya.
"Aku pulang dulu ya Rob.." Roy pamit dan Roby maklum. Roby adalah salah satu kepercayaan Hery untuk membantu Roy di kantor.
"Aaauuu gigi ini.." Roy meringis sambil mengemudikan mobilnya.
***
Debora saat ini sedang bersama Eyang di teras, Eyang Memintany untuk menemaninya minum teh hangat sore ini.
Deru mobil Roy yang sampai di halaman rumah membuat Debora terkejut.
"Bukannya ini belum jam pulangnya Roy.. Kok dia sudah pulang..?" Debora pergi hendak menyambut Roy.
"Roy udah pulang..?" Sambut Debora.
"Iya aku pulang.. Gigi aku sakit.." Ucap Roy dengan malas pada Debora.
"Hah..? Sakit gigi..?" Debora tidak pernah tahu kalau Roy punya gigi yang sering sakit. Karna memang dari dulu Debora tak mencari tahu tentang Roy sejauh itu.
"Roy kok pulang cepat, kan belum jam pulangan kantor..?" Eyang datang juga menanyakan ketidakbiasanya Roy yang pulang belum waktunya.
"Aaahh Eyang.. Roy lagi sakit gigi, makanya Roy pulang, gak tahan Eyang, jadi kalian berdua jangan banyak tanya.. Rpy tahu kalian berdua bingung, tapi Roy cuma mau istirirahat dulu.. Gigi Roy sakit.." Roy segera berlalj dari hadapan keduanya, tak tahan terus di tanyai sementara ia tidak leluasa berbicara.
"Debora ikut Roy ke kamar dulu ya.." Debora menaiki tangga dan menyusul Roy.
"Roy..?" Panggil Debora, Rpy sudah berbaring di tempat tidur.
"Roy mau aku pijiti kah..?" Tawar Debora.
Roy berbalik, "Kepalaku pijit.." wajah memelas.
"Oohh ya sini aku pijiti..." Debora juga merasa kasian melihat Roy yang kesakitan.
"Ya di sebelah ini aja.. Sakitnya..." Ucap Roy. Ia menunjuk kepala sebelah kanannya.
"Iya.. Sabar ya.. Udah minum obatkan..?" Tanya Debora.
"Ya udah, pereda nyeri.." sahut Roy lagi.
"Ya kalau begitu pasti hilang nanti sakitnya.." Debora tetap memijit kepala Roy.
Lama kelamaan Roy mulai terlelap di pangkuan Debora. Debora melihat Roy sudah terlelap, ia pun hanya mengelus elus rambut Roy.
"Jarang banget aku sentuh kepala Rpy begini.. Apa dulu Rena sering gka ya sentuh Roy di rambutnya. Tapi kan Rena sampai hamil anak Roy, pastilah pernah.. Debora Debora.." Entah mengapa Debora malah memikirina jaman di mana Roy dan Rena bersama.
"Debora...?" Roy bersuara dari tidurnya.
"Ya Roy aku di sini.."Dengan Cepat menjawab Roy.
"Bobo sama aku..." Pintanya.
"Oohh ya.." Debora segera membaringkan Tubuhnya di samping Roy.
"Ayo tidur.. Makasih sudah pijit kepala aku.." Roy memeluk Debora tiba tiba. Debora pastinya sangat senang di peluk Roy seperti ini.
"Ya ayo kita tidur.." Debora membalas pelukkan Roy.
Mereka tidur bersama dalam peluk siang ini.
***
"Sayang.. Apa sekarang kamu masih takut gelap..?" Hery dan Rena masih bercerita di dalam kamarnya.
"Eeemmm ya.. Masih sayang.." Sahut Rena biasa saja.
"Eeemm ada yang mau aku jujur sayang tentang masalah gelap itu.." ungkap Hery.
"Apa..?" Rena benar tidak tahu apa apa.
"Waktu itu, pas mati lampu yang kedua kali di apartemen itu, sebenarnya aku yang buat mati.." ungkap Hery langsung.
"Maksudnya..?" Rena memperbaiki duduknya agar bisa menangkap dengan jelas apa yang di ucapkan Hery.
"Ya kan mati lampu pertama pas kita pulang dari makan malam itu, nah kita pulang ke rumah aku, terus gak lama dari hari itu kan ada lagi mati lampu pas aku tinggalin kamu di unit sendiri. Ya itu aku yang matiin, aku ke ruang listrik dan turunkan saklar listrik jadinya, mati deh lampunya.. Ya baru aku balik lagi ke kamu pas kamu lagi ketakutan dj tempat tidur. Itu aku yang bikin.. Aku gak mau tinggalin kamu jadi makanya aku bikin alasan mati lampu biar bisa nginap lagi sama kamu.." Hery menceritakan kejadian itu yang sebenarnya di rekayasanya.
"Oohh yang itu..?" Rena juga masih mengingat kejadian itu, saat Hery bilang ia akan pulang, sebenarnya ada rasa di Rena yang juga tak ingin di tinggal Hery.
"Jadi kamu yang..." Rena menunjuk Hery.
"Ya aku sengaja matikan lampunya biar aku bisa tidur sama kamu dan aku malam itu mau banget elus perut kamu.. Gak tahu kenapa pokoknya mau... Jadinya nekad deh..." Hery berterus terang.
"Baguslah, aku juga senang kamu balik lagi terus tidur sama aku.." Rena bukanya terkejut ia malah senang mendengarnya.
"Kamu kok malah senang, aku kira kamu bakal marah.." Saat itu Hery kira Rena masih sangat mencintai Roy, tapi sepertinya tidak, rasa cinta Rena pada Roy sudah hampir punah. Dan berpaling hati kepada laki laki yang selalu ada untuknya, Herylah orangnya.
"Entahlah sayang.. Aku sangat senang saat ada kamu di samping aku, kamu gak tahu rasanya deh.." Tambah Rena lagi.
"Aku tahu kok.. Rasanya gak mau pergi jauh dari satu sama lain, ada rasa nyaman yang tercipta kalau kita bersama. Dan aku takut banget kalau rasa itu hilang." Hery menatap mata Rena dalam dalam.
Wanita tercantik di matanya, penuh cinta untuknya, hanya miliknya, itu yang terus Hery rasakan saat menatap Rena.
"Aku cinta kamu.." Hery tak lelahnya terus mengatakan itu.
"Aku juga cinta kamu... Dan bukan cuma aku, Baby juga sayang kamu.. Dia cuma mau kamu. Cuma kamu.." Rena lebih manja sekarang. Apalagi dengan cinta yang Hery curahkan untuknya maka semakin di buai dengan lembut.
Rasa yang tak pernah bisa Roy berikan pada Rena, bisa di berikan dengan mudah oleh Hery.
"Boleh gak Sayang..?" Hery menarik tangan Rena ke arah sanjatanya yang sudah siap bertempur.
"Sayang..!?" Rena terkejut tapi juga senang.
"Jadi ini yang pagi pagi ganggu..?" Hery menutup mulut Rena lalu mengecup Rena dengan lembut.
"Ssstt.. Jangan bilang bilang..!" Rena tak bisa menaha tawanya dan tetap tertawa.
Off dulu guys.. Hayooo siapa senyum senyum angkat tangan...