
Selama perjalanan pulang, Neil terus melirik belakang melalui kaca spion, dan melihat Cristal sedang menyandarkan kepalanya di kaca mobil sambil melamun.
"Nona, apa ada masalah?" tanya Neil sambil melirik bosnya.
"Tidak, aku hanya memikirkan sesuatu, yang membuat pikiranku buntu, Aku tak tau apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi masalahku. Neil aku ingin bertanya padamu!" saut Cristal, yang merasa butuh teman.
"Iya nyonya, apa yang ingin nyonya tanyakan?" jawab Neil dengan santai dan menanggapi dengan santai.
"Jika kamu dihadapan dengan dua pilihan, antara istri dan ibumu, mana yang akan kamu pilih?"
Neil terdiam dan berfikir sejenak, lalu ia kembali bicara,"Ahhh, pertanyaan Nona terlalu sulit untuk di jawab, tapi saya akan memberi jawaban sesuai kata hati saya."
"Iya, jawablah, Mana yang akan kamu pilih."
"Istri!" jawab singkat Neil membuat Cristal mengerutkan keningnya, ia mulai serius ingin mendengarkan alasan dari Neil yang memilih istri ketimbang ibu yang melahirkannya.
"Alasannya?!"
"Ini menurut pendapat saya saja ya Nona, jangan di ambil hati, Kenapa saya memilih istri, karena istri tau perasaan saya, kekurangan saya, dan kesedihan saya. Dia ada si saat saya butuh sandaran untuk meletakkan beban yang saya pukul, dengan melihat seorang istri ada disisi saya, rasanya semua kekurangan saya dapat di tutupi dengan adanya seorang istri, kerena seorang istri adalah pelengkap dari tulang rusukyang hilang." jelas Neil sambil terus menyupir.
"Bukankah seorang ibu justru lebih tau dan lebih paham keadaan anaknya, apa lagi anak laki-laki?" saut Cristal menyakinkan jawaban Neil.
"Iya, ibu wanita yang melahirkan saya , dalam diri saya mengalir darah dari ibu. Beliau tau perasaan saya sebagai seorang anak, tapi beliau tidak bisa sepeka seorang istri, Ketika saya memutuskan untuk menikah, itu artinya aku melepaskan ibu dari tanggung jawabnya terhadap saya, ya walaupun saya masih punya kewajiban untuk ibu." jelas Neil dari sisi pemikirannya.
"Jika seorang anak laki-laki, memilih untuk menurut ke pada ibunya dan mengabaikan istrinya, itu salah besar, selama istri kita baik dalam arti tidak menghianati, kecuali sebaliknya, Sebab-"
"Ya aku sudah paham, jangan dilanjutkan lagi. Aku harap mas Zack bisa berpikir seperti kamu, karena tidak selalu keputusan orang tua itu baik untuk kita. Sepertinya aku akan menceritakan masalahku ini pada suamiku, agar aku tau pilihan mana yang akan di ambil, memilih tetap bersamaku atau memilih untuk mengikuti keinginan Mommy."
"Maaf, memangnya Nona ada masalah apa dengan ibu mertua Nona? maaf kalau saya lancang bertanya."
"Mommy memintaku untuk bercerai dengan Mas Zack, dengan alasan yang tidak masuk akal, entah mas Zack sudah tau atau belum, tapi aku akan coba buat cerita padanya dan aku sudah siap dengan semua keputusannya jika dia memilih Mommy aku sudah siap."
"Aaarrgggghhhh, Mommy mertua Nona jahat sekali, ikut campur urusan rumah tangga anaknya, saya doakan hubungan Nona dan suami tetap baik-baik saja dan mudah-mudahan suami Nona lebih memilih untuk hidup bahagia bersama Nona."
Setelah bercerita panjang lebar dengan Neil, tak terasa sampai juga ke rumah, Cristal segera turun, dan Neil segera pulang.
Cristal segera masuk ke dalam rumah dan segera mencari keberadaan suaminya. Setelah bertanya dengan bi Aisyah, Cristal mendapati Zack sedang berada di ruang kerja. Ia mendapati secangkir teh dan juga kue kering, biasanya Zack tidak pernah membawa makanan di ruang kerja.
"Lagi sibuk gak mas?" tanya Cristal dan melingkarkan tangannya di leher suaminya dari belakang.
Zack menggegam tangan Cristal dan mencium pipinya dari samping.
"Eeemmm, aku tadi bertemu dengan Amora sebentar, bersama Neil. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengannya makanya aku menemuinya." jelas Cristal sambil bermain kancing kemeja milik suaminya.
"Kamu kenapa sayang? dari raut wajahmu sepertinya kamu ingin bicara sesuatu?" tanya Zack sambil menyisihkan rambut Cristal selalu terurai, kebelakang telinga.
"Mas... Eemmm, aku ingin bicara suatu hal yang penting, tapi sebelum aku bicara, aku ingin tanya sama mas. Eemm, apa mas akhir -akhir ini ada bertemu dengan Mommy?" tanya Cristal ragu-ragu, namun penasaran.
Zack menggeleng, "Ada apa sayang, sepertinya ada suatu hal yang penting yang ingin kamu bicarakan, katakan aku ingin mendengarnya."
Cristal yang masih ragu, segera meraih cangkir yang berisi teh dan langsung meneguknya hingga habis, seperti sedang kehausan.
"Mommy ada menemui aku mas, dia ingin kita bercerai." jelas Cristal.
Deg....
Jantung Zack seakan berhenti berdetak, mendengar ucapan Istrinya.
"Gak mungkin, kamu jangan bercanda sayang, gak mungkin dia menemui kamu dan mengatakan hal itu padamu. Untuk apa dia menginginkan perceraian anaknya? bukankah Mommy-" Ucap Zack terhenti, dan masih tak percaya dengan ucapan istrinya.
"Kalau mas gak percaya aku ada buktinya." Cristal turun dari pangkuan Zack, dan menjauhinya.
"Bukan maksudku gak percaya sayang, tapi terasa aneh saja, jika Mommy menginginkan kita bercerai." Zack merengkuh tubuh Cristal dari belakang dan memeluknya dengan erat.
"Aku berkata jujur mas, bahkan aku sudah bercerita masalah ini sama Daddy, dan Daddy pun terkejut dengan keinginan Mommy, makanya aku bertanya apa Mommy sudah bicara dengan mas."
Zack membalikkan tubuh Cristal dan mencengkeram dagu istrinya, "Kenapa kamu tidak cerita sejak awal"
Cristal menepis tangan Zack, " Aku ingin cerita, tapi setiap aku pulang ke rumah, masalah lain selalu saja datang menunggu. Mas selalu saja bersikap baik dengan Meri, bahkan aku sampai curiga jika memang mas sengaja memasukkan Meri kedalam rumah kita, agar mas bisa melihatnya setiap hari. Itulah alasanku masih saja diam, dan berfikir mas juga tau dan sengaja diam untuk melihat reaksiku. Jelas Cristal sambil berlinang air mata.
"Katakan padaku mas." Cristal mendorong tubuh Zack, namun tiba-tiba Cristal merasa ada sesuatu yang aneh dalam tubuhnya.
'Kenapa ini, ada apa dengan tubuhku?' gumam Cristal lalu ia memilih duduk di sofa, Zack memperhatikan istrinya yang tiba-tiba saya berubah, ia pikir akan terjadi pertengkaran namun yang terjadi berbeda, Nafas Cristal mulai memburu.
"Mas..., aku kenapa? tubuhku terasa gerah sekali," Tangan Cristal berlahan mulai membuka kancing baju yang ia kenakan sambil sesekali mengipasi tubuhnya dengan tangannya sendiri.
"Kamu kenapa sayang?" Zack memeriksa kening Cristal namun Cristal malah meraup bibir suaminya lebih dulu, membuat Zack terkejut, mendapati istrinya lebih dulu menginginkannya, biasanya harus dirinya dulu yang memulai, namun Zack melanjutkan dan menikmati permainan istrinya dan melupakan sejenak perdebatan yang belum selesai.
To be continued ☺️☺️☺️
🙏🙏 jika ada kata-kata yang menyinggung mohon maaf, tidak ada maksud dalam sisi negatif, ini hanya pandangan dari sisi author ☺️.