
Suasana duka menyelimuti, Cristal masih tak menyangka malam itu adalah malam terakhirnya ia bertemu dengan papanya.
"Pa, Ma, kenapa kalian lakukan ini. Kenapa kalian memilih mengakhiri hidup kalian dengan cara begini." Cristal benar-benar terpukul dengan apa yang baru ia hadapi.
Sisi lain Alira meraung-raung menangisi jasad kedua orang tuanya, tak ada yang bisa menghentikan tangisnya yang menjadi-jadi itu.
"Cristal, sudah waktunya mereka di antarkan ke peristirahatan terakhir." Ucap Zack mengingatkan Cristal yang masih duduk di depan peti kedua orang tuanya.
"Iya mas, aku sudah ikhlas." Dengan di bantu Zack Cristal pun bangkit berdiri membiarkan peti mati kedua orangtuanya di angkat.
"Jangan di dibawa pergi, mama dan papa tidak boleh pergi." Alira mengamuk tak mengizinkan siapapun mengangkat Peti mereka.
Cristal yang sudah muak dengan tangisan Alira, wajar jika Alira berduka dan menangis, namun menahan jasad orang tuanya sudah tidak bisa di biarkan.
Dengan di bimbing Zack Cristal menghampiri Alira, Cristal berusaha menenangkan Alira agar mengikhlaskan kepergian orang tuannya.
Namun usahanya sia-sia Alira tetap tidak mau berhenti menangis. Dengan sisa tenaga Cristal yang ada, tangan kanannya pun menampar pipi Alira hingga Alira terduduk lalu terdiam seketika.
Alira menatap Cristal dengan tajam, menunjukkan kemarahannya sambil memegangi pipinya.
"Apa sekarang kamu bisa diam? Tidak ada gunanya kamu meraung-raung menangisi mereka, itu tidak ada gunanya. Mereka tidak akan bisa kembali hidup Alira, mereka sudah meninggal." Didepan semua orang yang melayat Cristal mencoba menenangkan Alira dan memberikan penjelasan.
"Aku- aku belum siap kehilangan mereka, jika mereka pergi. Aku dengan siapa lagi?" ucap Alira.
"Apa kamu lupa Alira, masih ada aku kakakmu. Aku yang akan menggantikan mereka menjagamu. Sejak kamu lahir hingga sekarang kamu tetaplah adikku."
"Apa kamu masih mau menerima aku sebagai adikmu setelah semua yang sudah aku lakukan padamu?" tanya Alira datar.
Cristal jongkok di depan Alira dan langsung memeluknya. "Sampai kapanpun kamu adalah adikku, tak perduli apapun yang sudah kamu lakukan, adik tetaplah adik, tidak ada namanya mantan adik atau apapun itu." Dengan memberi pengertian jika Alira tak sendirian, akhirnya Alira pun bisa mengikhlaskan kepergian kedua orang tuanya dan membiarkan mereka membawanya ke peristirahatan terakhir.
***
Proses pemakaman Aryo dan istrinya pun berjalan lancar, keduanya dimakamkan dalam satu liang lahat.
Satu-satunya orang yang menghadiri pemakaman pulang, hanya menyisakan Cristal dan Zack.
"Sayang, ayo kita pulang, kamu harus istirahat, "ajak Zack mendapati kondisi istrinya yang sudah lelah dan nampak pucat.
"Iya mas."
"Pa... Ma... aku pulang, aku janji akan menjaga Alira sampai ia berkeluarga, papa dan mama tenang di sana ya. " Pamit Cristal di depan batu nisan orang tuanya. Kemudian mereka pun meninggalkan pemakaman dan kembali ke kediaman Aryo.
"Maafkan akak Adinda, akak tidak ada disisimu saat kamu sedang berduka." Malik langsung menghampiri dan memeluk Cristal. " Yang kuat ya sayang. Akak yakin Adinda wanita kuat."
"Aku hanya tak percaya kak, mereka Begitu cepat pergi, padahal aku baru saja ngobrol dengannya."
"Takdir tidak ada yang tau sayang, kita doakan semoga mereka tenang di sana." Malik mencoba menguatkan adik angkatnya itu, dan Cristal hanya mengangguk.
Karena kondisinya yang lemah dan tidak ada tidur, Cristal pun jatuh pingsan di pelukan Malik. Zack pun segera mengambil istrinya dan membawanya ke kamar.
Zack kembali menemui Zion dan Malik.
"Kapan kalian kembali? aku kira kalian tidak akan datang. "
"Bagaimana kami bisa berbahagia disaat ada asal satu keluarga sedang berduka. Setelah dengar kabar kami memutuskan untuk kembali ya walaupun terlambat." Jelas zion.
"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa orang tua angkat adinda bisa meninggal secara bersamaan? aku yakin ini ada sebabnya."
"Mereka bunuh diri. Hasil dari penyelidikan polisi mereka sengaja bunuh diri, tepat di saat Cristal keluar dari kamar papanya. Aku sendiri masih tak percaya kalau mereka akan melakukan hal seperti itu, aku kenal dengan papa Aryo dia tidak mudah putus asa kecuali ada sebuah tekanan yang memaksanya untuk mengakhiri hidup."
" Maksudmu, ada yang memaksa mereka untuk bunuh diri?"
"Mungkin."
****
Keesokan harinya, saat Cristal sedang membantu pekerja untuk membereskan rumah yang akan di tinggalkan, Cristal kedatangan tamu di saat Zack tidak ada di rumah hanya ada dirinya dan juga Alira.
"Turut berbelasungkawa Nona." Ucap Robert tepat di saat Cristal membuka pintu.
"Pak Robert!" Cristal benar-benar terkejut dengan kedatangan Robert yang tiba-tiba itu.
"Maafkan aku Nona, aku tidak bisa hadir kemarin, karena ada perjalanan bisnis yang tidak bisa aku tinggalkan, dan saat ini aku sengaja meluangkan waktu untuk datang langsung kemari. Mohon di maklumi." jelas Robert yang masih saja berdiri di depan pintu.
"Tidak papa tuan, Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk datang kemari hanya untuk mengucapkan belasungkawa. Silahkan masuk pak Robert, maaf masih berantakan." Akhirnya Cristal pun membiarkan Robert masuk ke dalam rumah.
Robert duduk di salah satu sofa, Cristal segera menyuguhkan segelas air untuk Robert yang bertamu.
"Apa yang sebenarnya dilakukan tuan Robert ini, hingga aku harus waspada padanya, dilihat dari wajahnya dan sikapnya, ia. terlihat sangat baik." gumam Cristal sambil memandangi Robert yang meneguk air pemberian Cristal.
To be continued