
"Mommy... Buruan, nanti terlambat." Teriak Za dari lantai bawah, yang sudah siap untuk berangkat ke sekolah.
"Ma... Buruan, udah siang nih." Teriak Zack menimpali teriakan putranya sambil merapikan pakaiannya.
"Tidakkah kalian bersabar sebentar saja, mommy baru mau pakai high heels." Saut Cristal sambil menenteng high heels dan menuruni anak tangga dengan kaki telanjang.
"Mommy ayo buruan, Za sudah gak sabar mau masuk sekolah yang baru." Za pun menarik mommynya agar segera mengantarkannya berangkat ke sekolah.
****
Lima tahun telah berlalu, Cristal ingin Zack membawa keluarga kecilnya meninggalkan keluarga Casandro dan memulai kehidupan yang baru agar tidak terus menerus terbelenggu dalam masa lalu yang membuat hubungan yang rumit.
Zack menyetujui keinginan Cristal, dan memutuskan untuk membeli rumah yang baru untuk mereka tinggali.
Walaupun awalnya keputusan mereka di tentang namun keduanya memberikan alasan yang tepat dan membuat semuanya tidak bisa mencegah.
Selama lima tahun terakhir Za tumbuh menjadi anak yang pintar dan mudah tanggap di bawah bimbingan Cristal sebagai seorang mommy tanpa mengandalkan babysitter.
Dan hari ini, adalah hari pertama Za bersekolah di taman kanak-kanak, yang membuat Za tak sabar untuk segera masuk ke sekolah.
"Mommy, di sana apa ada banyak teman yang mau berteman dengan Za? Za gugup Mom, Za takut kalau gak ada yang mau berteman dengan Za." ucap Za yang duduk di kursi belakang, sedikit gelisah.
"Sayang, jangan kuatir nanti di sana pasti ada yang mau berteman dengan Za, kan Za anak yang baik dan pintar." puji Cristal saat menoleh ke arah putranya di belakang.
"Za, harus janji sama Daddy kalau Za tidak boleh nakal atau mengganggu temannya, nanti kalau sampai Daddy dengar, Daddy tidak mau lagi bicara dengan Za." Ancam Zack.
"Za janji Daddy, tapi Daddy juga harus janji sama Za, kalau Daddy tidak nakal, atau nanti Za laporkan ke mommy." Ancam balik Za pada daddy-nya.
"Daddy nakal? memangnya Daddy nakal kenapa Za? Kok mommy sedikit curiga dengan gelagat kalian." tanya Cristal sambil melirik anak dan ayah yang mencurigakan.
"Mommy sebenarnya-"
"Nah kita sudah sampai di sekolah barunya Za." sela Zack menghentikan ucapan Za.
"Hore..." Za tepuk tangan sendiri dengan girang.
Cristal keluar lebih dulu dari dalam mobil dan segera membukakan pintu untuk putranya yang sudah tidak sabar.
Dengan segera Za turun dan langsung mengedarkan pandangannya di bangunan yang berdiri di depannya dengan kagum.
"Za, mommy hanya bisa ngantar sampai sini, soalnya mommy tidak di izinkan masuk. Nanti Za masuk sama bunda Ita dan nanti bunda Ita yang bakal ngenalin Za dengan teman-temannya. " ucap Cristal sambil jongkok dan merapikan pakaian putranya sebelum melepasnya pergi ke sekolah.
"Iya mommy." jawab Za mengangguk.
"Ingat pesan mommy, dan iya nanti kalau sudah waktu pulang sekolah kalau gak Mommy yang jemput berarti Daddy yang jemput ya sayang."
"Iya Mommy."
"Pintar-pintar sekolahnya ya sayang." Saut Zack yang menghampiri putranya dan ikut berjongkok di sisi istrinya.
"Ingat ya Za, jangan mengadu sama Mommy dengan apa yang Za lihat kemarin, jika Mommy sampai tau, gak cuma Daddy yang di suruh tidur di luar tapi juga Za juga pasti di suruh tidur di luar menemani Daddy." Bisik Zack di telinga putranya.
"Za gak mau tidur di luar. Baiklah Za tidak akan bilang ke Mommy, tapi Daddy harus belikan Za mainan baru." jawab Za dengan berbisik pula. Zack pun mengangguk.
Za pun melambaikan tangan sebelum masuk ke sekolah bersama bunda Ita, salah satu guru taman kanak- kanak.
"Iya mas." Cristal segera masuk kedalam mobil dan selanjutnya menuju ke kantor Scorpio.
Zack segera mengantarkan istrinya menuju kantor sebelum dirinya pergi ke Cs Company. Begitulah hari-hari yang Cristal dan Zack jalani, Walaupun mereka bekerja di tempat yang berbeda tapi mereka selalu berangkat bersama dan pulang pun selalu bersama.
"Mas aku ke masuk kantor dulu. Mas hati-hati di jalan ya, kalau sudah sampai jangan lupa kasih kabar dan ingat jangan centil dengan sekertaris, paham." Pamit Cristal sebelum turun dari dalam mobil dan mencium punggung tangan suaminya.
Zack pun membalas dengan mencium kening istrinya. "Iya sayang, jangan kuatir, aku tidak akan macam-macam. Cepat turun gih." Cristal pun segera turun dan Zack pun segera meninggalkan halaman kantor Scorpio.
*****
"Hiks...hiks..." Tangis gadis kecil di sudut ruangan sambil memeluk lututnya. Za yang melihat pun menghampiri dan duduk di sebelah gadis yang menangis.
Za mengulurkan lollipop berbentuk hati di padanya sambil mengukir senyum. Melihat ada lollipop di depannya gadis kecil itu berhenti menangis dan menoleh ke arah Za yang masih terus memandanginya.
Gadis itu berlahan mengambil lollipop tersebut dengan malu-malu.
"Kamu Kenapa menangis? kata bunda Ita, jadi anak harus berani gak boleh cengeng." tanya Za.
"Aku takut..." jawab gadis itu dan kembali terisak.
"Cup... cup... jangan menangis lagi, kalau kamu takut aku bisa menemani kamu biar kamu gak takut lagi." ucap Za sambil mengusap pucuk rambut gadis itu sama seperti yang di lakukan Cristal saat menenangkan Za yang menangis.
"Apa kamu mau jadi temanku?" Tanya Za lalu mengulurkan tangannya. Gadis itu kembali terdiam lalu menatap Za memastikan, ia pun menjabat uluran tangan Za lalu mengangguk.
"Raina..."
"Za..."
Keduanya pun tersenyum. Za pun mengajak Raina berdiri dan membawanya duduk di sebelah kursinya.
"Mulai sekarang kamu adalah temanku, jadi jangan takut lagi gak punya teman, nanti kalau ada yang menggangu kamu bilang sama Za ya, biar Za laporin ke bunda Ita." ucap Za.
Za yang punya teman baru pun sangat senang, dan sepanjang kegiatan dan bermain di sekolah Za selalu bersama Raina di hari pertama mereka sekolah.
"Raina kamu pulang sekolah di jemput siapa nanti?" tanya Za yang sedang menunggu jembatan bersama Raina.
"Di jemput ayah. Kamu sendiri siapa yang jemput?" tanya balik Raina.
"Kalau gak mommy ya Daddy. Kapan-kapan Raina main ke rumah Za ya, nanti Za liatin banyak mainan Za."
"Wah, Za anak orang kaya ya? punya banyak mainan. Kalau Raina gak punya, soalnya ayah gak punya uang buat beli mainan."
"Iya, Daddy selalu belikan mainan baru buat Za. Kalau kamu mau, aku kasih kamu mainan, aku punya mobil-mobilan, robot dan masih banyak yang lainnya." Tapi Raina menggelengkan kepalanya.
"Za, itukan mainan anak laki-laki bukan anak perempuan, aku gak mau main mobil-mobilan kan aku gak bisa mainnya." Jelas Raina.
"Lalu mainan anak perempuan itu apa?" Belum sempat di jawab, Raina sudah di jemput ayahnya menggunakan motor.
"Za, ayah sudah jemput, Raina pulang duluan ya, dada." Raina pun melambaikan tangannya dan berlari meninggalkan Za untuk menghampiri ayahnya.
Za pun masih menunggu jemputan di dalam gerbang.
To be Continued ☺️☺️