
Perjalanan mereka kembali ke Indonesia, berjalan lancar sesuai jadwal dan selama itu juga Cica selalu berada di sisi Zion.
Di bandara, Veer sudah menunggu kepulangan Zion atas perintah Zack yang meminta Veer untuk menjemput.
"Katakan di mana alamat rumahmu, biar kami mengantarkan kamu pulang. Aku tidak bisa membiarkan kamu menghilang begitu saja, hutangmu sangat banyak padaku, dan aku menunggu pelunasannya." Ucap Zion setelah mendarat dan bertemu dengan Veer.
"Oh, jadi ini gadis yang di belikan tiket pak Zion. Tapi bagaimana ceritanya, bisa pergi ke Australia tapi tidak bisa pulang?" gumam Veer saat memperhatikan penampilan Cica.
"Aku-" Ucapan Cica terhenti, seketika Zion menarik tangan Cica masuk ke dalam mobil.
"Jelaskan nanti di jalan, lebih baik pergi dari sini dulu, aku sangat lelah." sela Zion yang belum sempet mendengarkan jawaban dari Cica.
Di perjalanan Cica pun menjelaskan alamat tinggalkan dan segera saja Veer menuju alamat yang di tunjukkan Cica, sedangkan Zion memilih tidur sejenak untuk menghilangkan lelah.
Mereka pun sampai di sebuah tempat kost. Veer segera membantu menurunkan koper Cica. Sebelum keluar dari dalam mobil, Cica memandang Zion Yanga sedang terlalap dalam tidurnya. "Semoga kita bisa bertemu kembali." lirihnya.
Cica pun segera keluar. " Terima sudah mengantarkan. Sampaikan juga ucapan terimakasih ku padanya." tutur Cica.
"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu, pak Zion sudah di tunggu keluarganya." Veer pun kembali ke mobil dan segera pergi membawa Zion yang masih saja tidur.
****
Setengah perjalanan, Zion mulai berlahan terbangun. Ia masih belum menyadari jika Cica sudah tidak ada di sampingnya.
"Apa belum sampai?" tanya Zion
"Masih setengah perjalanan lagi untuk sampai ke rumah pak Zion." jawab Veer.
"Maksudku..." Zion menoleh ke samping dan baru menyadari Cica sudah tidak ada.
"Minggir 'kan mobilnya sekarang!" perintah Zion dan Veer seger menepi.
"Ada apa pak?"
"Dimana gadis itu? kamu tinggalkan dia dimana?"
Zion yang kesal pun memukul kepala Veer pelan. "Bodoh, kenapa tadi tidak membangunkan aku. Putar balik, kembali ke tempat tinggal si cicak itu! Ada urusan yang belum aku selesaikan." perintah Zion dan dengan terpaksa Veer pun menurut dan putar balik kembali ke tempat di mana Veer menurunkan Cica.
****
Cica yang baru datang pun habis-habisan di maki Ibu kost yang mengira Cica kabur dan tidak membayar bulanan kost yang nunggak. Selain itu tempat kost yang awalnya di tempati cica, kini sudah di tempati orang lain tanpa sepengetahuan dari Cica yang masih merasa ngekost di situ.
"Lebih baik pergi dari sini, dah bawa barang-barang rongsokmu yang ada di teras. Kalau gak punya uang jangan sok-sokan ngekost, lebih baik tidur di emperan sana." ucap ibu kost yang tak punya hati itu.
Cica pun memunguti semua barang-barang miliknya yang di keluarkan oleh ibu kost, dan sebagian barang pun hancur. Cica hanya bisa menitikkan air mata. Uang yang sudah ia sisihkan untuk bayar kost sudah raib di ambil oleh penipu itu yang tak lain adalah kekasihnya, iming-iming yang diberikan membuatnya benar-benar tergiur, namun siapa sangka jika itu hanyalah rayuan saja.
"Aku kira kamu anak orang kaya, gak taunya sangat menyedihkan." Ejek Zion yang sedang berdiri di belakang Cica, memasukkan kedua tangannya di saku celananya sambil menyeringai penuh ejekan.
"Kenapa?apa kau puas? kamu sudah lihat kan kehidupanku yang sebenarnya. Untuk tempat tinggal saja aku sudah tidak punya, bagaimana aku bisa membayar hutang-hutangku padamu. Beri waktu aku untuk mengumpulkan uang, aku tidak akan mengingkarinya," ucap Cica tanpa menoleh. Cica benar-benar malu dengan dirinya sendiri.
Zion menghampiri dan berjongkok di sebelah Cica. "Aku punya penawaran bagus jika kamu mau dan aku akan memberimu gaji lima puluh persen dan sisanya yang lima puluh persen lagi sebagai cicilan. Aku akan memberikan fasilitas yang kamu butuhkan. Bagaimana, apa kamu setuju?"
"Maksudmu? kau mau memberiku pekerjaan dan separuh gajiku nanti, buat mengurangi hutangku padamu?" tanya Cica yang masih tak yakin.
"Hm" Zion mengangguk.
Cica segera menghapus sisa Air matanya dan segera membersihkan tangannya dari debu.
"Aku setuju." Cica mengulurkan tangannya untuk kesepakatan. Zion pun membalas dengan menjabat tangan Cica.
"Deal"
"Sekarang ikut bersamaku dan tinggalkan semua barang sampah mu itu." ucap Zion setelah kembali berdiri dan mengajak Cica.
Bagi Cica ini adalah kesempatan untuknya, walaupun ia tak tahu pekerjaan apa yang akan diberikan Zion padanya. Cica hanya bisa berharap pekerjaan itu tidak merugikan dirinya.
"Kau sudah membuat hari-hariku di Australia sangat buruk, maka sekarang waktunya pembalasanku, siap-siap Nona Cica aku ingin bermain sedikit denganmu, sampai aku merasa impas." Gumam Zion penuh kepuasan.
To Be Continued