
Note :
Sebelumnya terimakasih, berkenan mampir di karya saya ini. Mohon maaf jika ini sedikit memaksa πππ Mohon sangat ya kak, bacanya jangan terlalu cepat, setidaknya luangkan waktu sekitar 3-5 menit untuk satu bab. kalau terlalu cepat nanti tidak terdeteksi sebagai pembaca dan tidak masuk hitungan view. Kakak-kakak semua tau kan penghasilan author dari kalian yang baca dalam jumlah view yang terdata setiap hari. Kalau memang sudah itu artinya ya, segitu rezeki saya.πππ
"Apa kah kamu akan meninggalkan rumah ini?" tanya Robert.
"Iya Tuan, Aku dan mas Zack ada rencana untuk menikahkan Alira dengan Om Al, ya walaupun Om Al sudah duda tiga kali, tapi sebenarnya Om Al sangat baik orangnya dan juga masih muda. Sebenarnya aku bisa menjaganya tapi tidak setiap saat karena aku ada tanggung jawab lainnya, Jika dia menikah Suaminya nanti bisa menjaganya dan itu bisa membuatku lebih tenang, Sedangkan aku sendiri akan kembali ke mansion Scorpio, dan kembali memimpin perusahaan." Jelas Cristal panjang lebar.
"Bagus kalau begitu!" Saut Robert.
"Bagus maksudnya?"
"Ah, bukan apa-apa. Apa ada pekerjaan yang belum selesai biar aku bantu menyelesaikannya." Robert pun mengalihkan pembicaraan, agar Cristal tidak larut dengan rasa penasarannya.
"Terimakasih tuan, tapi sepertinya tidak perlu, sudah ada yang mengerjakannya."
"Oh, begitu ya." Robert melirik jam tangannya, " Sepertinya aku harus pergi sekarang. Sekali lagi aku turut berbelasungkawa, yang sabar ya, mungkin ini sudah garis takdirnya." Robert pun pamit dan segera meninggalkan kediaman Aryo.
Setelah mengantar Robert, Cristal menemui Alira yang masih saja menyendiri.
"Alira, sampai kapan kamu akan terus begitu, Yang pergi tak akan bisa kembali lagi, Jangan menyiksa dirimu sendiri, nanti kamu bisa sakit." Cristal mencoba membujuk Alira untuk yang kesekian kalinya.
"Kamu tidak tau bagaimana rasanya kehilangan, makanya kamu bisa bilang begitu, kamu tidak tau apa yang aku rasakan." Saut Alira dengan kasar.
"Aku tau apa yang aku rasakan, Mereka juga orang tuaku, Tapi dengan aku meratapinya terus menerus apa mereka akan kembali, tidak kan. Jadi lebih baik kita berusaha melewati semua tanpa mereka lagi, aku yakin kamu pasti bisa. Dan satu hal lagi, Om Al nanti sore sampai di sini untuk menjemputmu." Cristal pun segera keluar dari kamar Alira.
* * * *
"Ini kopinya." Cica meletakkan secangkir kopi di atas meja.
"Bagaimana ke adaan kak Cristal? dia baik-baik saja kan?" tanya Cica pada Zion, karena saat itu Cica tidak ikut datang menemui Cristal.
"Baik, dia wanita yang kuat, Aku yakin dia akan baik-baik saja." Jawab Zion tanpa menoleh. Setelah menikah, sikap Zion terhadap Cica istrinya tidak berubah, Zion tetap tak pernah menganggap Cica sebagai istrinya.
"Syukurlah kalau begitu." Cica pun hendak meninggalkan Zion, karena merasa di abaikan.
"Tunggu dulu..." Tahan Zion.
"Zion menghentikan aku, apa dia mau minta maaf padaku." Gumam Cica sambil tersenyum.
"Kalau keluar jangan lupa tutup kembali pintunya."
Senyuman pun pudar seketika, saat harapannya di patahkan oleh ucapannya.
"Apa!" Saut Cica terkejut.
"Apa kamu tuli, tutup pintunya kembali kalau kamu keluar." Ucap Zion mengulang.
Cica pun mengepalkan kedua tangannya karena kecewa, ia pun segera keluar dan membanting pintu dengan kuat, membuat Zion yang fokus bekerja dibuatnya kaget.
"Apa ada dengannya, apa dia marah? aku kan cuma mengingatkan untuk menutup pintu. Sudahlah nanti juga hilang marahnya."Tanya Zion seorang diri lalu melanjutkan pekerjaannya.
"Kamu kenapa Ca?" Tanya Zack yang ikut terkejut karena begitu nyaring Cica membanting pintu.
"Gak papa kak, cuma lagi kesel saja sama Zion." Jawab Cica.
"Minta tolong apa kak? katakan, siapa tau aku bisa membantu."
"Maaf kalau merepotkan. Tadi Cristal memintaku mengantarkan tasnya, dan kebetulan sebentar lagi aku ada janji dan tidak bisa mengantarkan tasnya, bisakah minta tolong antarkan?"
Zack pun menyerahkan tas milik Cristal pada Cica dan memberikan alamat lengkap rumah Aryo.
"Baiklah kak, aku siap-siap dulu, baru berangkat."
"Terimakasih sebelumnya, kalau begitu aku pergi dulu."
Cica pun pergi ke alamat yang sudah di berikan zack untuk mengantarkan tas milik Cristal.
"Andai sikap Zion, sama seperti kakaknya pasti aku akan sangat bahagia dengan pernikahan ini. Entahlah pernikahanku dengan Zion apa akan bertahan, atau... Lihat saja nanti, jika Zion tak berubah, mungkin aku akan menyerah." Gumam Cica seorang diri, memikirkan sikap Zion yang acuh tak acuh padanya, walaupun sudah menjadi suami istri.
Tak lama kemudian, Cica pun sampai di alamat yang diberikan, dan segera keluar dari taksi yang ditumpanginya.
"Benar kan ini rumah orang tua Cristal, tapi kenapa rasanya aku pernah kesini. Tapi menemui siapa?!" Gumam Cica bingung.
Cica pun segera membunyikan bel rumah, dan segera saja Cristal membukakan pintu nya.
"Cica... kamu kemari, Mana Zion?" Tanya Cristal sambil mencari keberadaan Zion.
"Aku kemari sendirian, tadi kak Zack minta tolong sama aku buat mengantarkan ini." Cica menyerahkan tas yang dititipkan Zack padanya.
Cristal mengambil tas tersebut dari tangan Cica," Makasih ya Ca, di dalamnya ada surat penting yang aku butuhkan. Kalau begitu ayo masuk, mumpung rumahnya belum di kosongkan." Cristal pun mengajak Cica masuk dan duduk di ruang tamu.
Saat sedang duduk, Cica tak hentinya memutar bola matanya untuk melihat sekeliling ruangan yang ia merasa pernah datangi namun ia lupa nama pemiliknya.
"Kamu kenapa Ca?"
"Gak papa, aku cuma merasa gak asing dengan rumah ini, tapi lupa dengan siapa aku datang di rumah ini." Jawab Cica.
"Mungkin kamu temannya Alira, di lihat dari usia kalian sepertinya seumuran."
"Siapa? Alira! Aaaalira.Eeemmm..."Cica berusaha mengingat nama yang dianggapnya tidak terlalu asing.
"Siapa yang menyebut namaku?" tanya Alira tiba-tiba keluar dari kamar.
Tanpa sengaja mata mereka saling bertemu dua wanita yang berpisah akhirnya bertemu lagi.
Cica ternganga, benar-benar tak percaya jika ia akan bertemu lagi dengan Alira sahabat sekolah menengah pertamanya dulu.
"Alira..." Panggil Cica, dengan bahagia mendekati Alira dan langsung memeluknya.
"Aku merindukanmu, akhirnya kita bisa bertemu lagi Alira. Kamu masih ingat aku kan, Cica teman sekolahmu dulu." Ucap Cica yang masih terus memeluk Alira.
Alira pun mengingat-ingat cica, sebelum akhirnya Alira pun ingat dan langsung membalas pelukan Cica. Sedangkan Cristal hanya bisa ternganga, mendapati adiknya bertemu dengan sehatnya yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.
'Jika sudah takdir, sejauh apapun pergi, pasti pada akhirnya akan bertemu kembali walau kadang dalam keadaan berbeda.'
To be continued βΊοΈ