Aku Bukan Dora (Membuatmu Menyesal)

Aku Bukan Dora (Membuatmu Menyesal)
ABD-S2 itulah sebabnya


Hampir setengah jam Cristal memainkan pena di tangannya sambil terus memikirkan wanita yang ia temui, Cristal merasa tak asing dengan wanita yang menutupi wajahnya itu.


'Sepertinya aku mengenalnya, tapi siapa dia?' gumam Cristal sebelum ia mengingat sesuatu.


"Neil, masuklah! aku butuh bantuan mu sekarang," Memanggil Neil, dan segera Neil masuk menghadap bosnya.


"Iya Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya Neil yang berdiri di depan meja kerja Cristal.


"Aku butuh alamat tinggal Amora, tolong kamu cari alamatnya, aku tunggu dalam waktu dua jam, bagaimana pun caranya kamu harus dapatkan alamat." Perintah Cristal.


"Tapi Nona."


"Tidak ada kata tapi, lakukan sekarang bagaimana pun caranya."


Neil pun berusaha keras, dengan beberapa bantuan informan untuk mendapatkan alamat Amora secepat mungkin. Sambil menunggu, Cristal menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu.


Tak lama kemudian Neil masuk untuk memberikan informasi terbaru.


"Bagaimana Neil apa kamu sudah mendapatkan alamatnya?" tanya Cristal, dengan mata yang masih fokus di layar monitor.


"Sudah Nona. "Jawab Neil, Cristal langsung menghentikan pergerakan jemarinya di keyboard dan langsung melirik Neil.


"Apa kamu yakin? antarkan aku menemuinya sekarang jika kamu sudah mendapatkan alamatnya."


Neil yang sudah mengetahui alamat lengkap Amora, segera mengantarkan bosnya itu menunju tempat Amora.


"Neil apa kamu yakin ini tempatnya?" tanya Cristal yang masih ragu. Neil mengangguk.


"Benar Nona, menurut informasi yang saya dapat, memang nona Amora tinggal di sini bersama suaminya." jelas Neil.


Cristal segera melangkahkan kakinya mendekati rumah sederhana , Cristal hampir tak percaya jika Amora mau tinggal di tempat yang jauh dari kata mewah.


"Mencari siapa nona?" tanya seorang pria yang keluar dari dalam rumah.


"Maaf, apa ini benar rumah Amora? tanya Cristal.


"Bener, silahkan duduk, tunggu sebentar ya, istri yang masih mandi." Ucapnya dan Cristal pun mengangguk setuju untuk menunggu.


Cristal mengedarkan pandangannya sembil nunggu Amora.


"Mas sudah lama ya menikah dengan Amora?" tanya Cristal tiba-tiba.


"Sudah hampir tiga tahun." Jawaban singkat.


"Sudah lumayan lama juga ya. Kalian sudah punya anak?" Tanya Cristal.


"Belum." Tak lama terdengar suara Amora memanggil nama suaminya untuk membantu dirinya.


Cristal masih setia menunggu walaupun awalnya Amora tidak mau bertemu dengannya. Sampai akhirnya Amora pun menyerah dan keluar menemui Cristal yang menunggunya di teras cukup lama.


"Darimana kamu tau alamat rumahku?" tanya Amora dan Cristal hanya memandangi Amora yang duduk di atas kursi roda, sama persis dengan wanita yang ia temui pagi tadi.


Amora nampak ragu, tapi ia mengiyakan ajakan Cristal. Cristal pun membantu mendorong kursi roda Amora sambil jalan-jalan.


"Aku tadi bertanya padamu, darimana kamu tau alamat rumahku?" tanya Amora lagi yang masih penasaran.


"Uang, kamu tau kan apa yang uang bisa lakukan untuk mengetahui suatu hal." ungkap Cristal.


"Ya kamu benar, dengan uang apapun bisa di dapat, termasuk informasi yang tak penting. Untuk apa kamu mencari ku? kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, bahkan berulang kali aku berusaha menyakiti kamu, tapi kenapa kamu masih ingin menemui aku?"


Cristal tersenyum lalu menghentikan langkahnya." Semua orang pernah melakukan kesalahan, termasuk kamu dan aku, tapi sepertinya kamu sudah berubah, dan aku tidak seharusnya membencimu selamanya, walau bagaimanapun kita pernah menjadi sahabat yang selalu ada disaat aku membutuhkan. Walaupun pada akhirnya aku tak tahu alasan yang tepat sampai kamu berselingkuh dengan Kak Gavin." Cristal merasa geli jika ingat masa lalu.


"Maafkan aku Cristal, Ada alasannya kenapa aku tiba-tiba membencimu dan ingin merusak kebahagiaanmu. Jika diingat itu tindakan yang sia-sia, karena tidak bisa merubah apapun itu. Aku marah padamu, kerena aku mengetahui jika papaku, diam-diam menyukai kamu, padahal jelas-jelas papa masih punya istri yaitu mamaku. Itulah alasan pertamaku yang membuatku ingin menghancurkan kamu, tapi nyatanya aku tidak bisa menghentikannya, demi mendapatkan kamu dan juga perusahaan mu, papa rela menceraikan Mama dan terus mengejar kamu dengan berbagai cara licik."


"Tunggu dulu, Bagaimana bisa papamu suka padaku, sedangkan aku tidak pernah bertemu dengan papamu yang selalu kamu bilang menjalani bisnis di luar negeri setiap aku tanya, jadi bagaimana dia tau tentang diriku." Saut Cristal yang masih tak percaya.


"Aku bohong Cristal, papa tidak pergi ke mana-mana, dia selalu mengawasi kamu, aku Sendiri merasa heran bagaimana bisa papa menyukai kamu yang masih terlalu muda hingga akhirnya aku tau alasannya dan aku benar-benar menyesal tidak mengetahuinya dari awal."


"Sebenarnya apa alasannya? aku jadi semakin penasaran, siapa sebenarnya papamu, dan bagaimana dia mengetahui semua tentangku."


"Kamu tau perusahaan Cobra?"


"Eemmm aku tau. Dan aku sering bertemu dengannya."


"Apa dia masih tampan?"


"Eeeemmm, setau ku usianya sudah lima puluhan tapi dia masih terlihat awet muda dan penampilannya masih gaul. Tapi tunggu dulu, kenapa kamu bertanya tentang tuan Robert, pimpinan Cobra? apa jangan-jangan, Hah... tidak mungkin!?"


"Iya benar, dia papaku. Pria yang ingin mendapatkan kamu, dan juga-, Ah sudahlah itu tidak penting, yang lebih penting ada satu hal yang harus kamu waspadai, yaitu adikku, dia sama-sama licik seperti papa." jelas Amora membuka aib keluarganya sendiri.


Cristal hanya bisa menghela nafas, "Siapa adikmu? dan untuk apa dia mengusik keluarga besar kami? apa karena harta atau yang lain?" tanya Cristal yang masih belum paham siapa yang di maksud Amora, namun Amora tak mau menjawab, ia memilih diam dan memilih memperingati Cristal untuk waspada.


Mereka kembali ke rumah Amora, setelah bercerita panjang lebar.


"Terimakasih Amora, kamu sudah mengungkap sebagian, itu sudah lebih dari cukup. Aku janji setelah ini aku tidak akan mengusik kehidupan mu."


"Aku juga berterimakasih karena kamu sudah mau memaafkan aku atas semua kesalahan yang pernah aku berbuat, sekarang aku sudah menerima karmanya dengan menjadi wanita lumpuh untuk selamanya, Tapi aku masih bersyukur bisa di pertemukan dengan mas Eric yang mau menerima kekurangan ku. Walaupun kami sekarang hidup jauh dari harta tapi kamu bahagia." Jawab Amora sambil tersenyum, terasa tak ada beban lagi yang di tanggung nya.


"Neil, tolong ambilkan tasku di mobil." titah Cristal dan Neil bergegas mengambilkan tas Cristal.


Cristal mengambil sebuah kunci apartemen.


"Ini aku kembalikan padamu, Apartemen ini hadiah dari papamu, dan aku rasa kamu lebih membutuhkan daripada aku. Ambillah aku memberikannya padamu." Cristal maksa Amora untuk menerima apartemen hadiah dari papanya.


"Dan jika suamimu membutuhkan pekerjaan, datanglah ke kantor, aku akan memberikan pekerjaan untuknya."


"Terimakasih kasih Cristal, aku gak menyangka jika kamu masih peduli padaku, di saat aku kesulitan tak ada yang mau mengaku sebagai teman lagi, dan kamu yang sudah kerap aku permalukan malah datang mengulurkan tangan untuk menolongku. hiks... hiks..."


Cristal hanya tersenyum, lalu ia pun pamit untuk pulang, karena sudah cukup lama ia mengobrol dengan Amora.


To be continued ☺️☺️☺️☺️