
Hai readers, yang baik hati dan tidak sombong. Sambil nunggu update bab selanjutnya, mampir yuk ke karya yang Author yang lainnya, dan juga minta dukungannya ya, biar lebih semangat. He...he..
...Belenggu Dendam Putra Mafia ...
Setelah pekerjaannya selesai, Rafan bersama anak buahnya Kembali ke mansion. Mata Rafan yang sangat tajam seperti elang itu, seketika melihat sesuatu yang mencurigakan di balik pintu balkon yang terlihat bayangan dari halaman mansion.
"Matikan lampu, biarkan pencahayaan minim saja!" perintah Rafan. Setelah itu Rafan pun berjalan mendekat, dan berdiri tepat di bawah balkon kamar yang di tinggali Akila.
Kain bersambung yang panjang tiba-tiba terjuntai di tepat di depan Rafan.
"Tuan-" Alex ingin bicara namun tertahan, saat Rafan meletakkan telunjuknya di bibir.
Kain seprai yang di ikat bersambung sambung dengan selimut, mulai bergoyang seolah ada yang sedang memberi beban.
Pelan-pelan namun pasti, Akila berusaha kabur dari kamar lewat balkon, berharap kali ini ia bisa kabur, setelah mengamati sejenak situasi dari kamarnya.
Sesaat setelah hampir sampai di lantai dasar, Akila tak menyadari jika Rafan sudah menunggu dirinya.
"Apa kau ingin kabur?" tanya Rafan tiba-tiba, membuat Akila terperanjat dan tanpa sadar melepas genggaman tangannya di tali seprai, membuatnya langsung terjatuh ke lantai marmer.
Aaaauuuhhhh...
Akila mengaduh saat pantatnya mendarat di atas marmer yang keras.
Rafan berjongkok di depan Akila dan mencengkeram dagunya dengan kuat.
"Berani sekali kamu ingin kabur dari tempat ini!Apa kamu sudah lupa? Siapapun yang sudah masuk kesini, tidak ada yang bisa keluar hidup-hidup. Jika kamu ingin meninggalkan tempat ini berarti kamu harus mati terlebih dulu, dan akan aku lemparkan jasadmu seperti sampah." ucap Rafan, lalu membuang wajah Akila dengan kasar dan kembali berdiri dengan angkuh.
"Apa salahku Tuan? kenapa Tuan begitu membenciku, dan menghukum ku seperti ini? Orang tuaku saja tak pernah memperlakukan aku seperti ini. Hiks...hiks..." Tanya Akila tak paham disertai tangisnya.
"Bawa dia ke ruang hukuman dan cambuk dia sepuluh kali!" Perintah Rafan sambil berlalu pergi tanpa belas kasih.
Akila hanya bisa memberontak saat tubuhnya di seret paksa oleh anak buah Rafan dan siap menerima hukuman cambuk, sesuai perintah Rafan.
Di depan mata, Rafan menyaksikan sendiri saat Akila menerima cambukan di punggungnya.
CTAST... CTAST...
Rotan itu melayang di punggung mulus Akila, dan teriakan histeris pun menggema di seluruh ruangan hingga pingsan.
Tak ada rasa belas kasih yang di perlihatkan Rafan, yang ada sebuah kepuasan setelah menyiksa keturunan Oregon.
Petra yang ikut menyaksikan hanya bisa memalingkan wajahnya saat melihat seorang gadis yang begitu tersiksa di depan matanya.
"Rafan, jangan terlalu keji dengan wanita, lihatlah dia sampai pingsan saat menahan sakit." Tegur Petra yang tahu apa yang di lakukan Rafan pada seorang gadis.
"Jangan pernah ikut campur urusanku, aku memanggilmu datang kemari untuk membantuku dalam pekerjaan, bukan untuk ikut campur masalahku." Jawab Rafan dengan kesal lalu meninggalkannya pergi.
Petra pun hanya bisa geleng kepala, melihat sikap Rafan.
Petra meminta Anak buah Rafan untuk mengantarkan Akila kembali ke kamarnya dan memerintahkan pelayan untuk mengobati luka bekas cambuk yang ada di tubuh Akila.
****
Di kamar Rafan mengamuk dan menghancurkan apa yang ada di dekatnya. Ia marah kepada dirinya sendiri yang harus berpura-pura bersikap kejam agar bisa di takuti bawahannya. Padahal hatinya selalu memberontak dengan sikap yang di tunjukannya.
Di tengah ruang yang sedang berantakan, Rafan menenggak alkohol sambil bersandar di sisi ranjang, hanya untuk meredam kemarahannya.
To Be Continued