
Pagi-pagi Cristal membuat kegaduhan, dengan meneriaki Al yang sudah mengolok dirinya dekil, hanya karena dirinya tak mandi.
"Om Al ... cepat keluar, aku marah dengan Om." pekik Cristal di depan pintu kamar Al, sambil mengacak pinggang.
Tak lama pintu pun terbuka, dan keluarlah Al yang sudah berpakaian rapi.
"Bisakah pelankan volume suaranya, aku tidak tuli ponakan!" ucap Al sambil mengacak rambut Cristal dan berlalu.
"Om jangan menghindar, gara-gara om bilang aku dekil, mas Zack memaksaku mandi malam-malam." Cristal masih sangat kesal dengan apa yang terjadi kemarin.
Gara-gara mandi malam, Cristal pun harus merasakan masuk angin yang sangat tidak mengenakkan.
"Tapi benar kan, kamu kemarin sangat dekil dan bau, dan aku sangat mendukung suamimu yang memaksamu mandi malam-malam." Saut Al yang tengah menikmati secangkir kopi.
"Sayang ... ada yang menghubungimu dan ingin bicara, katanya penting,"ucap zack, yang menghampiri istrinya itu dan menyerahkan ponselnya.
Cristal langsung mengambil ponselnya dari tangan Zack dan berbicara dengan orang yang menghubungi dirinya, raut wajah Cristal langsung berubah seketika.
"Baiklah, aku akan segera kesana," ucap Cristal dan langsung mematikan ponselnya.
"Kenapa sayang? apa dan masalah?" tanya Zack yang melihat ekspresi wajah Cristal berubah.
"Tidak papa mas, Mama angkat-ku ingin bertemu denganku,"jawab Cristal lalu mengukir senyum agar suaminya tidak kuatir.
"Oh... aku kira kenapa, apa perlu mas antar sebelum mas berangkat?"
"Gak perlu mas, aku bisa minta antarkan sopir, bukankah mas ada pertemuan sekarang! kenapa tidak bergegas pergi?" Cristal mengalihkan pembicaraan agar Zack tidak lanjut bertanya.
"Oya aku hampir lupa. Aku harus pergi sekarang dan mungkin hari ini akan pulang malam. Jangan lupa selalu kabari mas kalau mau pergi kemanapun." Zack pun pamit dan tak lupa menge"cup kening sang istri dan juga baby Za yang masih dalam perut.
Perdebatan Cristal pun kembali terjadi dengan Al sebelum Al memilih segera pergi daripada meladeni keponakannya yang super bawel dan dirinya selalu jadi sasaran selama hamilnya.
Setelah semuanya pergi, Cristal pun bergegas bersiap diri untuk pergi menemui Kusuma yang meminta Cristal datang ke rumah sakit menjenguk papa Aryo.
Sebenarnya apa lagi yang di inginkan mereka lagi, apa semua yang aku berikan padanya masih kurang. Jika di hitung-hitung balas Budi karena membiayai aku, apa yang aku berikan lebih dari cukup Menganti nominal yang sudah mereka keluarkan. Aku masih mau mengakui mereka keluarga karena jasa mereka membesarkan aku, walaupun sebenarnya mereka tak benar-benar menginginkan aku.
"Ma ..." Sapa Cristal saat masuk, namun Alira yang datang menghampiri lalu mendorong Cristal hingga mundur beberapa langkah.
"Inikah balas budi anak angkat yang di besarkan Mama dan Papa, yang seperti kacang lupa kulitnya. Mentang-mentang sudah jadi orang paling kaya, lupa kalau ada Mama dan Papa yang membesarkan kamu." ucap Alira setengah berteriak.
"Apa maksudmu Alira, aku tak pernah lupa pada mereka yang sudah membesarkan aku walaupun dengan terpaksa, aku masih memenuhi kewajiban ku sebagai anak kepada Mama dan Papa apa itu kurang." balas Cristal
"Sudah Alira, sudah Cristal jangan bertengkar lagi, ini rumah sakit bukan rumah kalian." lerai Kusuma.
"Dia harus di tegur Ma, jika bukan karena dia tak mungkin kehidupan kita jadi seperti ini. Gara-gara dia papa jadi menderita."
"Jangan pernah ikut campur jika kamu tidak tahu masalahnya. Seharusnya kamu bersyukur aku tidak menjebloskan Papa Aryo kedalam penjara dan masih membiarkan dia menikmati harta yang ia miliki dan tidak memiskinkan kalian berdua. Asal kamu tahu perusahaan yang di jalankan papa Aryo itu sudah menjadi milikku dan Papa di sana sekarang hanyalah seorang pegawai bukan pemilik lagi apa kamu paham sekarang." Jelas Cristal dengan penuh penekanan agar Alira tidak menyudutkan dirinya seperti dulu-dulu.
Alira yang mendengar perkataan Cristal langsung terdiam dan menoleh ke arah mamanya yang memberikan jawaban dengan anggukan.
"Tidak mungkin ... tidak mungkin kalau sebenarnya kita sudah miskin ... ." Alira yang tak percaya langsung berlari keluar meninggalkan ruangan.
Cristal menatap kusuma yang hanya bisa tertunduk lesu. Sikap kasar dan cacian yang biasa keluar dari mulutnya tak terdengar lagi.
"Bagaimana keadaan Papa, ma?" tanya Cristal membuka pembicaraan antara anak dan mama.
"Ka- kamu bisa lihat sendiri, penyakitnya mulai menggerogoti tubuhnya sekarang dan jalan satu-satunya untuk menyembuhkannya harus di rujuk ke rumah sakit yang ada di Singapura." Jelas Kusuma sambil menitikkan air mata.
"Kenapa mama tak pernah memberitahu, jika keadaan papa seburuk ini. Jika aku tahu lebih awal mungkin aku bisa membantu."
"Papamu tidak mengizinkan, dia malu dan merasa sangat bersalah telah memperlakukan kamu bukan seperti seorang anak," jelas Sukma lagi, membuat Cristal terdiam sesaat dan menoleh ke arah Aryo.
"Aku akan meminta asistenku mengurus rujukan agar Papa bisa segera di bawa ke Singapura untuk pengobatan, Katakan pada Papa jika Papa bangun, Ini bantuanku yang terakhir. Setelah ini, anggap saja kalian tak pernah mengadopsi atau membesarkan aku."
Cristal pun pergi meninggalkan ruangan, tak ingin ada yang tahu jika dirinya sebenarnya sangat sedih melihat Aryo tak berdaya, walau bagaimanapun ia pernah merasakan memiliki sosok ayah lagi setelah dua tahun kerinduannya.
TBC....
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK ☺️☺️☺️