
Sambil menyeruput secangkir kopi di restoran hotel tempat Zion menginap. Zion menikmati paginya dengan semangat sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke Indonesia esok hari.
Entah datang dari mana, pagi Zion tiba-tiba saja menjadi kacau, saat seorang gadis dengan tiba-tiba duduk di hadapan Zion dan mengambil sandwich miliknya.
Dengan rakusnya gadis itu melahap tanpa memperdulikan pemiliknya sedang menatapnya dengan kesal.
Setelah dua potong sandwich yang ada di atas piring itu habis. Gadis itu baru menyadari jika pemilik sandwich itu sedang menatapnya dengan kesal.
"Terimakasih untuk rotinya, kau telah menyelamatkan aku dari kelaparan," ucap gadis sambil cengengesan, tanpa ada rasa malu ataupun bersalah.
Zion menaikkan alisnya sebelah, mendengar ucapan gadis yang ada di depannya, tanpa tau siapa namanya dan tau dari mana jika dirinya ada di tempat tersebut.
"Hai kau... pernah di ajari tata krama?! Aku dan kamu tidak saling mengenal, dan dengan santainya kamu duduk di hadapanku, makan roti milikku tanpa izin dan sekarang kamu masih berani mengambil kopi yang baru saja aku nikmati!? apa urat malumu sudah hilang? menyebalkan." Zion pun bangkit berdiri dan beranjak pergi, gairahnya seketika berubah, saat melihat sikap gadis tersebut.
Gadis itu menahan tangan Zion, sambil memasang wajah memelas.
"Jangan pergi, kalau kau pergi siapa yang akan bayar ini semua?"
"Kau yang makan dan minum, berarti kau juga harus yang bayar. Lepaskan tanganku."
Gadis itu melirik sekitarnya, dan semua orang yang sedang sarapan sedang mantap keduanya.
Ia pun langsung memeluk Zion dengan erat.
"Jangan pergi, jangan tinggalkan aku. Maafkan kesalahanku. Aku janji tidak mengulangi kesalahanku lagi. Apa kamu tega meninggalkan tunanganmu sendirian seperti ini." ucap gadis itu dengan setengah nyaring, agar semua orang mengalihkan Pandangan pada Zion dan menyalakannya.
Zion pun merasa malu, di tambah semua orang yang ada, sedang memperhatikan dia dengan tatapan intimidasi, seolah dirinya tega pada gadis yang sedang memeluknya itu.
"Lepaskan aku, jangan menjebakku. Apa kamu tidak mau, sikapmu menjadi tontonan semua orang." Zion mencoba mendorong tubuh gadis itu tapi pelukannya begitu kuat, hingga membuat Zion pun menyerah.
"Baiklah, sekarang apa mau."
"Mari kita duduk dan selesaikan ini baik-baik, jika tidak, aku akan membuatmu lebih malu." ancam gadis yang benar-benar sudah kehilangan rasa malunya itu.
Zion pun menurut dan kembali duduk, Begitu juga dengan gadis itu yang tampak puas dengan perbuatannya, yang ia tunjukkan dengan senyuman penuh kemenangan.
"Jangan buru-buru, gitu dong. Kita kan belum kenalan. Em, perkenalkan aku Cantika, kamu bisa panggil aku Cica gak pakai K." Cica pun mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Namun Zion menepisnya.
"Panggil aku Zion. Sekarang kita sudah berkenalan, kalau begitu cepat pergi, lama-lama aku muat melihat wajah polosmu yang penuh tipuan itu."
"Tidak, aku tidak akan pergi, sebelum kamu membantuku. Aku terdampar di kota ini, dan aku tidak bisa kembali ke Indonesia, karena aku tidak punya uang untuk membeli tiket pulang. Bisa kah kamu menolongku dengan membelikan tiket pulang. Aku janji akan membayar dua kali lipat uang yang sudah kamu keluarkan untuk membantuku setelah aku kembali nanti, please." Cica pun memasang kembali wajah memelasnya, namun tak mempengaruhi Zion.
"Aku tidak percaya ucapanmu. Dari caramu tadi aku sudah bisa menilai kalau kamu itu penipu. Lagian mustahil, kamu bisa kemari, makan di restoran mahal dan menginap di hotel ini tapi untuk pulang kamu tidak bisa. Mustahil." saut Zion.
"Aku di tipu kekasihku. Dia meninggalkan aku sendirian di negara ini dan membawa semua uang, ponsel dan semua yang aku miliki dengan diam-diam. Sekarang aku di sini terkatung-katung tanpa arah. Setelah pertemuan kemarin, aku memiliki secercah harapan, untuk bisa kembali pulang di tambah kebetulan kita menginap di hotel yang sama, membuatku yakin kalau kamu adalah penyelamatku." tutur Cica
Zion tepuk tangan pelan, "Luar biasa cerita palsumu itu, apa kamu pikir aku percaya? Tentu saja tidak. Lebih baik sekarang kamu pergi dari sini dan jangan membuang-buang waktu dengan cerita bohongmu itu." usir Zion lagi dan lagi. Namun Cica tetap tidak mau pergi.
"Hah... terlalu memaksa, oke baiklah, aku kan memberikan satu tiket padamu." Zion pun segera menghubungi Veer dan memintanya memesankan dua tiket untuk kepulangannya esok hari.
"Aku sudah memesankan satu tiket untuk pulang bersamaku, dan ingat aku tidak akan membiarkan kamu lepas begitu saja, kau harus membayar semua uang yang sudah aku keluarkan dua kali lipat sesuai ucapanmu tadi," ucap Zion kesal. Ia pun segera membayar kopi dan juga sandwich yang sudah di makan Cica.
"Terimakasih banyak tuan Zion. Oya, kerena tiket pesawat ada di tanganmu dan aku sekarang tidak punya ponsel, jalan satu-satunya aku harus berada di sisimu agar aku tidak kamu tinggalkan."
Zion pun tak bisa berkata apa-apa lagi, percuma bicara dengan gadis keras kepala itu.
"Terserah." kata-kata yang keluar dari mulut Zion pasrah dan dibalas dengan senyuman manis Cica.
Zion pun meninggalkan restoran begitu juga dengan Cica yang mengikuti Zion. Agar tidak terlihat aneh di mata orang yang memperhatikan, Cica pun meraih lengan Zion agar bisa berjalan disisinya.
Selama seharian Cica terus membuntuti aktivitas Zion, bahkan saat dia lapar tak sungkan meminta Zion membelikan sesuatu untuk di makan, dengan mengunakan trik yang benar-benar membuat Zion terpaksa menurutinya.
"Malam ini aku akan tidur di kamar hotel mu, agar aku bisa memastikan kalau kamu tidak akan meninggalkan aku malam-malam, oke," ucap Cica .
"Dasar gadis aneh. Kenapa juga perjalananku kali ini harus sial, dengan bertemu gadis tidak tahu malu dan jadi parasit ini." gumam Zion sambil menghela nafas.
To Be Continued