
"Daddy... " Za berlari menghampiri Zack yang baru saja tiba menjemputnya dan langsung menghambur dalam pelukan Daddy-nya.
"Kok terlambat Dad?!" tanya Za sambil memainkan dasi Zack.
"Maaf sayang, Mommy tadi memberi kabarnya mendadak, makanya Daddy terlambat." jawab Zack, atas pertanyaan putranya yang sudah terlalu lama menunggu.
"Daddy jadi kan kita beli mainan? Daddy kan dah janji sama Za."
"Gak sekarang ya, Daddy harus segera balik ke kantor, ada pekerjaan yang harus Daddy selesaikan dulu."
"Za maunya Sekarang Dad, 'kan Daddy sudah janji sama Za." Rengek Za sambil menghentakkan kakinya.
"Za, dengerin Daddy! Za kan sudah paham, mana yang harus di dulukan dan mana yang masih bisa di tunda. Dan keinginan Za masih bisa di tunda, sedangkan pekerjaan Daddy tidak bisa di tunda-tunda lagi. Jadi Za harus nurut, kita ke kantor dulu, setelah pekerjaan Daddy selesai baru kita beli mainan dengan mommy sekalian." Bujuk Zack. Za pun akhirnya mengalah dan menuruti perkataan daddy-nya.
Zack pun segera kembali ke kantor bersama Za , pria kecil yang sangat tampan.
Sambil menggenggam tangan Daddy-nya, Za mengimbangi langkah Zack hingga membuatnya setengah berlari.
"Za, main di sini dulu ya, Daddy masih ada kerjaan, nanti kalau Za mau sesuatu bilang sama Daddy." titah Zack, ia pun segera kembali bekerja.
Hampir dua jam, Za bermain sendirian, dan jam masih menunjukkan jam empat sore, itu artinya Za masih harus menunggu satu jam lagi.
Di tengah kebosanan Za, pintu ruangan Zack terbuka, dan seorang wanita seksi tengah berjalan menghampiri Zack dan membawa beberapa berkas di tangannya.
Za membelalakkan matanya melihat sekertaris daddy-nya yang sangat cantik tengah berdiri di samping daddy-nya dan begitu dekat.
Za segera berlari menghampiri Zack, lalu menyusup ke sela keduanya. Za langsung duduk di pangkuan Zack yang tengah sibuk mendengarkan penjelasan sekertaris itu.
"Za, apa yang kamu lakukan, Daddy masih sibuk. Kembali main sana dan jangan ganggu Daddy." tegur Zack yang terganggu dengan sikap putranya itu, namun Za tidak mau mendengar.
"Ini putra bapak?" tanyanya.
"Kenalin tante cantik, Za, putra tuan Zack yang paling tampan," ucap Za sembari mengulurkan tangannya.
Risa pun menjabat tangan mungil Za, " Risa, nama Tante Risa, sekertaris papa kamu." jawab Risa sambil tersenyum gemas.
"Oh...!! Daddy ... apa Mommy tau kalau Daddy punya teman kerja tante cantik?" tanya Zack mengalihkan pembicaraannya dengan Risa.
Zack menggeleng, dan paham maksud dari putranya itu. "Dengarkan Daddy, Za ini gak seperti kamu pikirkan, jadi jangan bilang-bilang sama mommy ya." Bujuk Zack.
"No ... Daddy gak boleh bohong sama mommy, nanti mommy tambah marah." Za mengambil ponsel dari atas meja dan menyerahkannya kepada Zack.
"Ini Dad, bilang sama mommy sekarang," titah Za.
"Sekarang?!" Za pun mengangguk.
*****
Di sisi lain, Cristal yang sedang tidak enak badan, masih saja fokus bekerja tanpa memperdulikan kondisinya.
"Nona, anda tidak papa?" tanya Neil yang melihat bosnya tampak pucat.
"Gak papa, hanya saja kepalaku dari tadi pusing dan mual, sepertinya masuk angin." jawab Cristal, sambil terus memijit pelipisnya.
"Kalau sakit lebih baik Bos pulang, daripada nanti semakin parah."
"Gak papa, aku masih kuat." Tiba-tiba gejolak dalam perut Cristal kembali datang, Cristal pun segera berlari menuju ke toilet untuk mengeluarkan apa yang tersisa di dalam perutnya.
"Nona tidak papa?" tanya Neil di luar pintu toilet, ingin memastikan kondisi Bosnya, namun tidak ada jawaban dari Cristal.
"Kenapa kamu di sini neil?" Tanya Cristal, yang lupa jika memang Neil sedari tadi di dalam ruangan.
"Non..."
Drrrttt... Drrrttt....
Ponsel yang ada di atas meja Cristal pun berdering, tepat di saat Neil ingin bicara.
"Tolong bantu aku kembali ke kursi, Tubuhku sudah tidak bisa di kondisikan." Neil segera memapah Cristal menuju meja kerjanya pelan-pelan.
Cristal segera mengangkat video call yang ternyata dari Zack.
📱
"Hai Mommy." Za melambaikan tangan di layar ponselnya.
"Hai Za, ada apa sayang?"
"Daddy mau bicara penting dengan mommy."
"Benarkah, mana Daddy-nya?" tanya Cristal dan Za langsung memberikan ponselnya pada Zack.
"Ada apa mas?" tanya Cristal lebih dulu, saat ponsel sudah ada di tangan Zack.
"Aku ..., Kamu kenapa sayang, wajahmu sangat pucat, apa kamu sakit?" tanya balik Zack sebelum mengutarakan maksudnya.
"Tuan, sebaiknya jemput Nona, dia sedang sakit, tapi gak mau pergi ke dokter." Saut Neil dari kejauhan.
"Kenapa kalau sakit gak bilang. Jangan kemana-mana, aku dan Za akan segera kesana." Zack segera mematikan panggilannya dan bersiap untuk menjemput istrinya.
"Za, ayo kita ke kantor mommy, buat jemput mommy yang sakit." Ucap Zack sambil bersiap-siap.
"Apa Daddy, mommy sakit?" tanya Za dengan ekspresi terkejut.
Mereka pun segera menuju kantor kantor Cristal yang membutuhkan waktu tiga puluh menit, dari kantor Zack.
Sesampainya di kantor Scorpio, Zack meminta Za untuk menunggu di mobil sedangkan Zack bergegas masuk ke dalam kantor. Dengan segera Zack menuju ruangan Cristal dan mendapati istrinya hendak minum obat untuk mengurangi sakit kepala.
Zack menahan tangan Cristal yang hendak memasukan obatnya ke dalam mulut.
"Jangan sembarangan minum obat, kita ke dokter dulu, biar tau pasti penyebabnya. Kenapa kamu tidak mengindahkan pesanku." Tegur Zack.
Cristal yang terkejut langsung melepaskan pil tersebut dari tangannya dan langsung meluncur ke lantai.
"Mas... Baru kali ini saja mas, aku sudah tidak kuat menahan rasa pusingnya." Cristal berusaha menjelaskan. Zack yang melihat kondisi istrinya, tidak jadi mempermasalahkannya.
"Kita bicarakan nanti saja, sekarang kita ke rumah sakit, Za sudah menunggu di mobil." Ajak Zack, "Kau sudah dewasa, gak perlu lagi menunggu perintah untuk pergi ke dokter. Jika kamu saja takut pergi ke rumah sakit, bagaimana nanti kamu membujuk Za kalau dia sakit." Sepanjang langkahnya Zack terus menceramahi istrinya.
Para karyawan yang melihat Cristal, silih berganti menanyakan keadaan Cristal dan mendoakan semoga pimpinannya segera sembuh. Cristal hanya mengulum senyum dan berlalu meninggalkan kantor.
"Mommy..., Mommy Kenapa? Mommy sakit?" tanya Za yang berada di samping Cristal.
"Iya sayang Mommy lagi gak enak badan, kepala Mommy sakit dan juga sakit perut." jelas Cristal dengan lemah.
"Apa di perut Mommy ada dedeknya? makanya Mommy sakit perut?" tanya Za seketika. Zack dan Cristal langsung saling menatap mendengar apa yang di katakan putranya.