
Bandara Australia, Za dan Cristal menunggu kedatangan Zack.
Sebelumnya Zack sudah memberitahu jika dirinya akan datang ke Australia untuk menemui Za. Awalnya Cristal menolak kedatangan Zack, pria yang sama sekali tak di ingatnya itu, namun Za terus membujuk dan meminta Mommynya untuk memberi tumpangan tinggal bersama sementara, agar Za bisa menghabiskan banyak waktu Dangan Zack.
"Halo Za." Ucap Zack tiba-tiba, mengejutkan Za dan juga Cristal yang mencari keberadaannya. Mereka pun segera menoleh ke arah sumber suara.
Cristal memperhatikan penampilan Zack dari ujung kepala sampai kaki, mereka pernah bertemu, tapi ia sama sekali tidak ingat dimana pertemuan itu.
Zack segera berjongkok mensejajarkan dengan putranya agar bisa di pelukannya.
"Daddy, Za rindu Daddy." ucap Za dalam pelukan.
"Daddy juga Rindu Za." saut Zack sambil mencium pipi putranya tanpa henti melepaskan Rindu.
Cristal yang sedari tadi melamun, tersadarkan saat Za memanggil pria yang ada di depannya dengan panggilan Daddy.
" Tunggu dulu, Za kamu panggil dia apa? coba panggil sekali lagi." ucap Cristal tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Daddy." ucap Za, seketika Cristal melotot lalu melirik Zack yang tersenyum.
"Daddy!" Za mengguncang lengan zack, " tolong jelaskan ke Mommy biar Mommy percaya." rengek Za.
"Tunggu dulu, kalau Za memanggil ku Mommy dan dia Daddy, itu artinya aku dan dia...?" ucap Cristal dalam kebingungan. Cristal sama sekali tidak ingat jika pernah menikah dengan laki-laki yang ada di hadapannya.
"Kapan aku menikah dengan mu? tanya Cristal pada Zack.
Zack yang sedari tadi hanya mendengarkan ucapan Cristal yang masih kebingungan. Zack mendekatkan tubuhnya lalu sedikit membungkuk dan berbisik di telinga Cristal, "Aku akan membantu mengingat semua kenangan saat kita bersama." bisik Zack membuat Cristal terkejut sekaligus malu.
Mereka pun akhirnya meninggalkan Bandara dan segera Pelang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Cristal mempersilahkan Zack masuk selayaknya tamu.
Zack mengedarkan pandangannya, memperhatikan setiap sudut rumah.
'Dia memang tidak pernah berubah, lebih suka sesuatu yang sederhana, bahkan dia masih tidak bisa percaya pada orang lain untuk mengurus Za.' gumam Zack.
"Sepertinya selama kamu di sini, kamu kan tidur di kamar Za, maaf karena kami hanya punya dua kamar, dan sudah aku bereskan sebelumnya, biar Za nanti tidur denganku. " jelas Cristal lagi.
"Mommy..." panggil Za, menyela perkataan Cristal.
"Kenapa lagi Za, Mommy sudah menuruti semua kemauan Za, sekarang apa lagi?" Tanya Cristal.
"Mommy kenapa Mommy tidurnya berpisah dengan Daddy, bukannya dulu Mommy tidur satu kamar dan membiarkan Za tidur sendiri. Jadi Mommy tidur dengan Daddy biar Za tidur sendiri," ucap Za membuat Cristal ternganga.
"Tapi Za..."
"Ayo sana Mommy, antarkan Daddy ke kamar, biar Daddy istirahat. Daddy pasti capek."
"Tapi Za ..."
Melihat Cristal tak bisa menjawab perkataan Za, Zack pun angkat bicara untuk membantu Cristal.
"Za, Daddy bangga melihat kamu bisa berfikir dewasa, kamu memang anak yang pintar. Kamu benar, Daddy kan sudah jauh-jauh datang kemari dan sudah lama tidak bertemu, seharusnya Daddy tidak di biarkan tidur di kamar terpisah kan, itu sama saja tidak menginginkan ke datangan Daddy. Kalau begitu Daddy pulang saja, lebih baik Daddy kita berhubungan jarak jauh." ucap Zack yang malah membuat Cristal tak bisa berkutik.
"Jangan Daddy, Za gak mau Daddy pergi. Kalau Mommy tidak mau mengantarkan Daddy biar Za yang mengantarkan Daddy." Za pun menggegam tangan Zack dan menariknya, mengantarkannya ke kamar Mommynya.
"Ta-tapi Za, aku tidak mengenalnya, bagaimana orang asing itu bisa tidur satu ranjang denganku. Aku masih tidak yakin kalau dia itu suamiku." Ucap Cristal seorang diri lalu membuntuti mereka dan hanya bisa menghela nafas karena tidak bisa mencegahnya.
Cristal hanya berdiri di pintu dan melihat apa yang dilakukan putranya dan pria asing itu.
To be continued ☺️☺️☺️☺️