
Plakkkk!!!
Tamparan keras di layangkan dari seorang wanita yang sedang di selimuti kemarahan, bagaimana tidak. Cristal menyadari jika teh yang diminumnya sudah di bubuhi obat pera*ngsang oleh Meri. Jika malam itu suaminya yang meminumnya entah apa yang akan terjadi, membayangkan saja hati Cristal benar-benar sakit.
Mendapat tamparan dari Cristal, membuat Meri tersungkur dan menahan pipinya yang memerah dan panas.
"Kenapa nyonya menampar saya, apa salah saya Nyonya? hiks... hiks..." tanya Meri yang tak siap.
"Jangan berpura-pura lagi Meri, kamu sengaja kan membubuhi tehnya mas Zack dengan obat peran*gsang, supaya mas Zack masuk dalam jebakan mu, dasar wanita licik. Sejak awal kedatangan mu, aku sudah merasa kamu bukan wanita baik-baik, dah benar saja, kamu ingin menggoda suami ku kan." ucap Cristal mengintrogasi Meri.
"Tidak nyonya saya tidak tau apa-apa, bukan saya yang membuatkan teh tuan." sela Meri mengelak dari tuduhan.
"Pembohong, kamu pikir aku tidak tau, kamu sengaja ingin menghancurkan rumah tangga kami kan." pekik Cristal kesal.
"Tidak Nyonya."
"Mulai sekarang kamu saya pecat, aku tidak mau menampung wanita rendahan seperti kamu."
"Nyonya tidak bisa memecat saya begitu saja, selama kontrak saya belum selesai anda tidak bisa memecat saya. Jika ada tetap memecat saya, anda harus mengganti rugi dengan pihak agensi." tutur Meri,
"Oh begitu kah, lebih baik aku membayar ganti rugi, daripada membiarkan kamu tetap berada di rumah ini." Cristal segera mengambil ponselnya dari dalam saku dan segera menghubungi Neil.
📱
"Tolong uruskan, pemutusan kontrak dengan Nanny yang ada di rumahku ini, katakan berapapun biayanya, akan aku bayar, yang penting hari ini juga dia bisa keluar dari rumah ini." titah Cristal pada Neil di seberang telepon.
Baru saja Cristal mematikan ponselnya, tiba-tiba Meri membalas tamparan di pipi Cristal.
"Kau," Cristal menunjuk Meri dengan geram. " Berani sekali kamu menamparku."
Cristal ingin membalas lagi, namun Zack menghentikan tangan Cristal tiba-tiba, "Kamu sayang, apa salah Meri sampai kamu ingin menamparnya."
"Mas, dia sudah lancang mengusik rumah tangga kita, dia sudah membubuhi teh mas tadi malam dengan Obat pera* sang, kalau saja bukan aku yang meminumnya, aku tak tahu apa yang akan terjadi dengan mas, di tambah lagi jika aku tidak pulang tepat waktu." jawab Cristal setengah berteriak, suasana hatinya benar-benar panas.
"Tidak tuan, saya tidak melakukannya, saya tidak membubuhi apa-apa di dalamnya, tapi Nyonya tiba-tiba menuduh saya tuan." jawab Meri membela diri.
"Mas, aku menuduhnya karena aku ada buktinya, Aku yang meminumnya langsung, apa itu masih kurang bukti, dan kamu jangan lagi menyangkal semua sudah ada buktinya dan hari ini juga kamu angkat kaki dari rumah ini." Cristal yang sudah muak dengan Meri, memilih pergi meninggalkannya walaupun Zack masih berusaha mendamaikan.
"Jangan pernah, membujuk ku mas. Aku sudah pernah katakan padamu, jika aku tidak suka maka aku bisa memecatnya kapan saja," Saut Cristal dan kembali ke kamar, ia pun langsung membanting pintu dengan kasar hingga suaranya terdengar sampai lantai bawah.
Meri pun kembali bersimpuh di depan Zack, " Tuan saya tidak melakukannya, mana berani saya melakukan itu terhadap majikan saya, mungkin sebelumnya nyonya ada meminum sesuatu sebelum kembali dan meminum teh tuan." Jelas Meri mengelak dari tuduhan yang dilontarkan pada dirinya.
'Apa jadi dia sedang hamil, kenapa aku tidak tau, dan tidak ada yang memberitahuku ' gumam Meri lalu terlintas akal liciknya dalam benak.
"Tidak papa tuan, kalau begitu saya permisi untuk berkemas sambil menunggu putusan kontrak kerja saya keluar." Meri pun pergi melewati Zack yang sambil memasang wajah sedihnya.
Zack hanya menghela nafas, dan mengacak rambutnya sendiri menghadapi istrinya yang selalu uring-uringan.
Tok...tok...
"Sayang, buka pintunya, mas mau bicara. Jangan di kunci kamarnya sayang." panggil Zack yang berada di luar kamar dan tak bisa masuk karena Cristal sengaja mengunci kamarnya dari dalam.
'Jangan harap kamu bisa masuk, sebelum kamu bilang menyesal sudah membela dia daripada aku istrimu.' gimana Cristal yang menyembunyikan tangisnya dalam selimut.
Tak lama, ketukan pintu kembali terdengar, namun kali ini bukanlah Zack yang memanggil melainkan Za, " Mom, buka pintunya, Mommy jangan menangis sendirian, izinkan Za masuk Mom, Za mau menemani Mommy." ucap Za sambil menggedor pintu.
Mendengar putranya yang memanggil, Cristal buru-buru keluar dari selimut dan menyeka Air matanya, ia pun segera membuka pintu dan pura-pura tersenyum.
Saat pintu terbuka, Za dan Zack berdiri di ambang pintu sambil menyatukan tangannya memohon, "Mommy." ucap kedua laki-laki tersebut dengan memasang wajah sedih.
"Mom, jangan marah-marah lagi." ucap Za.
"Sayang, maafkan mas, mas gak ada maksud buat membelanya, Mas juga tidak menghalangi dia untuk keluar, jangan marah lagi ya, mas gak tahan kalau di diamkan." bujuk Zack.
Cristal menarik nafas dalam-dalam, dah menahan air matanya untuk tidak tumpah lagi.
"Aku butuh waktu mas, terlalu banyak masalah yang aku hadapi, jangan menambah beban lagi dengan lebih percaya padanya." Jawab Cristal datar. Sekarang semua terserah mas, aku capek, aku lelah apapun ke putusannya aku sudah siap." Cristal pun menyerahkan amplop perceraiannya pada Zack, lalu ia pergi meninggalkan Zack dan membawa Za pergi.
Zack hanya mematung, memandangi punggung istrinya yang berlalu meninggalkannya. Tanpa membaca, Zack langsung merobek kertas tersebut.
"Mommy harus menjelaskan ini semua, Mommy harus bertanggung jawab jika terjadi apa-apa dengan istriku kerena memikirkan perkataan Mommy." Zack segera ke kamar mengambil jaket dan kunci mobil untuk pergi menemui Mommynya untuk meminta penjelasan, ia pun membiarkan istrinya menenangkan diri bersama putranya.
Dari dalam kamar, Meri mengintip perdebatan yang terjadi pada majikannya, " Sepertinya aku masih punya sedikit kesempatan, sebelum aku meninggalkan rumah ini. Nyonya Cristal, tunggu apa yang akan aku lakukan padamu, kau akan menyesal telah mempermalukan aku," Ucap Meri seorang diri, ia pun segera meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
📱
"Aku butuh sekarang, cepat kirimkan benda itu hari ini juga." perintah Meri pada orang yang ada di sebelah telepon. Senyum jahat pun terukir di wajah Meri.
Entah rencana apa yang akan di lakukan Meri pada majikannya itu... yang jelas itu akan tidak baik.
To be continued ☺️ ☺️☺️