
*Pelabuhan Cinta Ratu (PCR)*
Senja telah tiba. Rombongan Raja Anjas sedang menyusuri jalan berbatas tebing di kanan dan berbatas jurang berbatu di sisi kiri.
Kini rombongan Raja Anjas menjadi rombongan besar. Selain ratusan warga Kadipaten Repakulo yang memilih eksodus ke wilayah Kerajaan Sanggana Kecil, ada ratusan prajurit Kerajaan Baturaharja yang ikut karena Putri Manik Sari memilih ikut ke Sanggana Kecil.
Meski dirinya sedang berduka karena kabar kematian ayahnya yang dikudeta, tetapi Putri Manik Sari memilih ikut daripada memutuskan kembali ke ibu kota Jayamata. Ia ingin menenangkan dan menghibur diri. Ia merasa enggan untuk tidak bersama dengan Raja Anjas. Om-om itu masih terlalu menawan bagi seorang wanita.
Formasi rombongan kali ini, dua ratus prajurit berjalan paling depan, kemudian rombongan kereta kuda dan pedati utama, jumlah pedati bertambah yang mengangkut sebagian kaum wanita dan anak-anak, berikutnya rombongan warga biasa yang berjalan kaki. Rombongan yang mengular itu ditutup oleh tiga ratus prajurit Baturaharja.
Raja Anjas dan Putri Manik Sari membiarkan Adipati Tulang Sampit tetap memimpin Kadipaten Repakulo, tidak peduli siapa nanti yang berkuasa di atasnya.
Tanpa mereka sadari, beberapa puluh tombak di depan, maut sedang menanti. Pada satu titik di bagian atas tebing batu yang cukup rendah, puluhan orang berseragam hitam-hitam sedang merunduk bersembunyi di balik batu tebing sambil mengintip pergerakan rombongan Raja Anjas. Orang-orang itu dipimpin oleh Panglima Siluman Pedang.
Tampak ada kumpulan batu-batu sebesar kepala orang yang sudah disiapkan di beberapa titik ketinggian, termasuk sejumlah prajurit yang siap dengan panah-panahnya.
Panglima Siluman Pedang yang mengintip serius pergerakan rombongan itu memberi isyarat dengan tangan agar pasukannya bersiap.
Raja Anjas Perjana dan Permaisuri Tirana yang tingkat kesaktiannya adalah level master, bisa merasakan keberadaan sekelompak orang ketika rombongan mereka sudah mendekat. Posisi sekelompok orang itu yang berada di atas, membuat Anjas dan Tirana bisa dengan mudah membedakan suara kelompok yang bersembunyi di ketinggian dengan suara aktivitas rombongannya.
Anjas memandang agak lama kepada Tirana, memberi isyarat. Tirana hanya mengangguk samar tanda sepakat, entah apa yang disepakati.
“Sset!” desis Tirana sambil memandang kepada Putri Manik Sari.
Desisan itu membuat Putri Manik Sari alihkan pandangannya dari wajah Anjas kepada Tirana. Anjas hanya tersenyum memergoki Putri Manik Sari sedang memandanginya.
Putri Manik Sari gerakkan kedua alisnya kepada Tirana.
“Bersiap-siaplah!” bisik Tirana.
“Ada apa?” tanya Putri Manik Sari jadi ikut berbisik sambil memajukan wajahnya. Bermaksud mendekati Tirana, tetapi tanpa sadar wajah sang putri lebih mendekat kepada Anjas.
“Kulit wajah sang putri sangat halus,” ucap Anjas dalam hati setelah melihat jelas kulit wajah Putri Manik Sari yang memiliki pori-pori yang begitu halus, seolah-olah tidak memiliki riwayat jerawat batu atau jerawat pasir.
“Ada penyergapan dari atas,” jawab Tirana begitu halus, tapi masih terdengar oleh Putri Manik Sari.
Putri cantik yang lebih tua usianya dari Tirana itu mengangguk.
Rombongan Raja Anjas terus bergerak tidak berhenti. Bahkan ketika rombongan mereka tepat berada di bawah tebing tempat Panglima Siluman Pedang dan pasukannya berada.
Di atas sana. Panglima Siluman Pedang terdiam serius. Para prajuritnya tegang sambil memandang kepadanya. Mereka menunggu tanda dari tangan Panglima.
Dan akhirnya, Panglima Siluman Pedang membuka lebar-lebar genggaman tangannya yang sejak tadi mengepal.
Blar! Blar! Blar!
Para prajurit yang betugas meruntuhkan tumpukan batu, serentak meledakkan batu pengganjal dengan tenaga saktinya.
Suara ledakan yang berasal dari atas tebing itu mengejutkan seluruh pasukan dan kelompok warga yang ada dalam rombongan Raja Anjas. Pergerakan massal mereka jadi terhenti. Seketika mereka dilanda kekhawatiran yang belum jelas.
Brugul brugul!
Setelah sejumlah ledakan itu, dari atas tebing bergelindingan batu-batu besar sebesar kepala orang atau lebih besar. Jumlahnya cukup banyak. Sepertinya pasukan Panglima Siluman Pedang sudah bekerja keras menaikkan banyak batu ke atas tebing untuk dijatuhkan. Terkejutlah seluruh orang dalam rombongan Raja Anjas. Bahkan Demang Yono Sumoto sampai mengeluarkan separuh badannya dari dalam bilik kereta untuk melihat apa yang terjadi.
Wess!
Pasukan Baturaharja yang sudah panik bingung harus berbuat apa saat melihat longsoran bebatuan, kelompok warga yang sudah berjeritan ketakutan, bahkan Ningsih Dirama sudah menjerit ketakutan pula, berubah terkejut tidak percaya.
Bebatuan itu seperti jatuh menimpa atap transparan yang melindungi seluruh atas rombongan. Batu-batu itu memantul di atas rombongan lalu berjatuhan terus menuju ke dasar jurang. Ketakutan para warga dan prajurit Baturaharja jadi berkurang separuh melihat keajaiban itu. Mereka semakin bangga karena memiliki junjungan yang sakti Mandra dan Omas.
Panglima Siluman Pedang dan pasukannya juga terkejut melihat kenyataan yang pahit itu. Serangan yang sudah mereka rakit susah payah ternyata mentah di tangan Anjas Perjana. Raja sakti itu telah melindungi rombongannya yang panjang dengan ilmu perisai yang bisa melindungi sebuah kawasan luas.
“Panah!” teriak Panglima Siluman Pedang setelah gugur batunya habis stok.
Set set set…!
Maka pada saat itulah Anjas, Tirana, Putri Manik Sari, Demang Yono Sumoto, dan Gurudi bertindak. Ilmu perisai yang bernama Istana Damai itu telah hilang, sehingga mau tidak mau rombongan kembali terancam. Namun, Anjas memiliki perhitungan yang matang dan akurat.
Wuss wuss!
Anjas Perjana dan Putri Manik Sari melompat naik ke udara. Keduanya mengandalkan pukulan angin untuk menghalau panah-panah yang menyerang rombongan mereka. Terlihat Putri Manik Sari tersenyum bahagia bisa berduet dengan Raja Anjas di udara. Lelaki gagah itu hanya tersenyum melihat ekspresi kegembiraan sang putri.
Wuss! Tak tak tak!
Demang Yono Sumoto kali ini tampil beraksi. Ia masih gagah untuk bertarung. Satu angin pukulan dilepas tangan kirinya membuyarkan para anak panah yang datang dari atas. Lalu tangan kanannya memutar tombak seperti baling-baling bambu Doraemon menangkis para anak panah.
“Hihihihik…!”
Sambil tertawa-tawa, Gurudi melompat ke pedati kaum wanita. Di sana dia unjuk kesaktian dalam melindungi kaum hawa. Seperti si cebol memetik buah tomat yang sedang panen pada usia tiga bulan, Gurudi tinggal menjulurkan kedua tangannya bergantian ke arah anak panah yang mendekat. Uniknya, anak panah-anak panah yang hendak digapai melesat tertarik sendiri seperti besi bertemu magnet ke dalam genggaman Gurudi.
Plok plok plok!
“Yeee!” sorak gembira para wanita sambil tepuk tangan meriah melihat pertunjukan Gurudi yang laksana seorang master pesulap. Di antara para wanita itu ada Surina Asih yang bertepuk paling kencang dan tertawa terkikik-kikik seperti Gurudi.
“Hihihik….!” Tawa Gurudi yang mendadak idol.
Bress!
Sementara Tirana tidak mengurusi hujan panah itu. Ia melepaskan ilmu Lorong Laba-Laba ke tebing batu, lalu masuk melesat ke dalam jaring sinar merah. Putri Manik Sari yang melihat hal itu hanya mendelik.
Tirana tahu-tahu muncul di atas tebing, mengejutkan para prajurit panah dan Panglima Siluman Pedang.
Bak bik buk bek bok!
Tirana mengamuk di atas sana menghajari para prajurit panah dengan pukulan dan tendangan bertenaga dalam tinggi. Satu pukulan, satu kematian. Sebagian prajurit harus meluncur jatuh dan tewas.
“Seraaang!” teriak Panglima Siluman Pedang berkomando.
“Seraaang!” teriak para prajurit berseragam hitam-hitam sambil berlompatan terjun ke bawah dengan pedang terhunus.
Mereka menyerang rombongan Anjas secara langsung. Kali ini, pasukan Baturaharja benar-benar harus bertarung melawan pasukan khusus Kerajaan Siluman.
“Pertahankan nyawa kalian! Jumlah kalian lebih banyak!” teriak Putri Manik Sari memberi seruan spirit bagi pasukannya. (RH)
**********************
Mohon maaf kepada para Readers yang komennya banyak tidak dibalas oleh Author di masa Author sakit.
Author baru sadar ternyata banyak komenan tidak dibalas 😅😅🙏🙏