
*Perang Pendekar Sanggana (Pepes)*
“Kakang, ini tongkatmu,” kata Rawaiti lembut sambil memberikan tongkat besi milik suaminya.
“Terima kasih, Sayang,” ucap Parsuto yang sudah dalam kondisi berpakaian rapi warna kuning campur merah. Tampak cerah. Ia menerima tongkat besi yang merupakan senjata pegangannya.
“Hati-hati, Kakang. Aku tidak akan makan sebelum kau pulang dengan selamat,” ujar Rawaiti yang buta.
“Jangan lakukan itu, makanlah meski tanpa aku,” kata Parsuto lembut. Ia begitu sayang kepada istri cantiknya itu.
“Setiap hari kita makan selalu bersama, bahkan senampan berdua. Aku sudah terbiasa makan denganmu, jadi aku akan menunggumu,” kata Rawaiti.
“Baiklah. Aku pasti kembali dengan selamat. Jangan ragukan kehebatanku di medan perang. Bukankah kau sudah merasakannya kehebatanku setiap malam?” kata Parsuto yang ditutup dengan kalimat bisikan.
“Kakang! Hihihi…!” ucap Rawaiti malu lalu tertawa cekikikan, yang disusul tawa jumawa Parsuto yang hanya memiliki tangan kanan.
Tong tong tong…!
Dari kejauhan terdengar suara kentongan bambu yang dipukul.
“Tugas sudah memanggil!” kata Parsuto.
“Pergilah untuk pulang, Kakang,” kata Rawaiti sambil memegang wajah Parsuto dan tersenyum sedih.
“Pasti, Sayang!” tandas Parsuto lalu mengecup kening istrinya. “Tunggu aku ya.”
“Iya,” jawab Rawaiti seraya tersenyum, meski dalam hati ia berdebar-debar. Ini adalah pertama kalinya sang suami terjun ke medan perang.
Setelah memantapkan hati dan tekad, Parsuto lalu pergi meninggalkan istri tersayangnya yang adalah adik dari Surya Kasyara.
Mereka berdua tinggal di Desa Subur sebagai seorang petani, profesi yang banyak dilakoni oleh warga di tiga desa di gunung itu
Setelah mendengar suara kentongan yang merupakan tanda panggilan berkumpul, para pendekar yang siap ikut berperang segera berkumpul di depan rumah Kepala Desa Tukang Tanam.
Ada sekitar dua puluh warga yang berstatus sebagai pendekar, lelaki dan wanita. Kepala Desa Tukang Tanam lalu memimpin para pendekarnya untuk berkumpul dengan para pendekar dari Kampung Kenangan dan Desa Makmur.
Setelah para pendekar dari tiga desa berkumpul satu, ada sebanyak enam puluh orang pendekar. Para kepala desa memimpin warganya masing-masing yang semuanya di bawah komando Adipati Yono Sumoto.
Mereka menunggu sampai akhirnya datang utusan dari Kerajaan kepada sang adipati. Setelah itu, Adipati Yono Sumoto memimpin pasukannya menuju Lereng Tiga Mata. Posisi mereka ada di atas gunung.
Setibanya di Lereng Tiga Mata, Adipati Yono Sumoto tidak langsung masuk ke lereng, ia menyembunyikan dulu pasukannya. Sementara itu, ia melakukan pengintaian dengan sembunyi-sembunyi agar keberadaan mereka tidak di ketahui.
Adipati Yono Sumoto melihat belum ada peperangan terjadi di Lereng Tiga Mata. Ia melihat baru ada keberadaan ratusan pasukan prajurit Sanggana di luar Hutan Sanggana yang menghadap ke lereng. Pasukan musuh belum terlihat batang hidungnya.
Melihat kondisi itu, Adipati Yono Sumoto memerintahkan pasukannya tiarap di tanah agar keberadaan kepala mereka tidak terlihat dari sisi bawah lereng.
“Kau tidak mengajak istri cantikmu, Parsuto?” tanya Ngatimin, lelaki berkumis tebal yang tengkurap di sisi kanan Parsuto. Lelaki berusia tiga puluh lima tahun itu berbekal senjata pedang besar yang berat. Ia memang memiliki tubuh dan otot yang besar.
“Aku terlalu sayang kepada istriku,” jawab Parsuto seraya tersenyum kepada Ngatimin.
“Aku dengar-dengar kau adalah sahabat Gusti Prabu Dira?” tanya Ngatimin.
“Jika aku jadi kau, Parsuto, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan,” timpal Ngatimin.
“Hahaha!” tawa Parsuto. “Ngatimin, sudah berapa lama kau tinggal di sini?”
“Sudah sepuluh tahun. Aku mengabdi kepada Pangeran Kubur yang sekarang menjadi raja di Kerajaan Baturaharja,” jawab Ngatimin.
“Bagaimana perbandingan kehidupanmu yang dulu dengan sekarang, di bawah pemerintahan Sanggana Kecil?” tanya Parsuto.
“Sangat berbeda. Kali ini hidupku lebih terarah dan ada tujuan yang akan dicapai. Kerajaan sangat memperhatikan kemakmuran kita. Kita tidak hanya bercocok tanam untuk sekedar makan, tetapi juga untuk dijual sehingga kita bisa memiliki harta sendiri. Aku dengar dari Kepala Desa, nanti akan dibuka tempat pendidikan prajurit handal untuk Kerajaan. Aku akan memasukkan kedua putraku ke dalamnya agar menjadi prajurit hebat,” tutur Ngatimin.
“Tapi kenapa kau tidak mendaftar sebagai prajurit?” tanya Parsuto.
“Alasannya mungkin sama dengan kau. Aku ini punya ***** birahi yang kuat. Sedikit-sedikit mau, sedikit-sedikit mau. Kalau aku jadi prajurit, urusanku bisa repot. Hahaha!” jawab Ngatimin lalu tertawa tanpa malu.
“Hahaha!” Parsuto hanya ikut tertawa.
“Diam! Pasukan musuh sudah datang!” seru pelan Adipati Yono Sumoto. “Jangan ada yang berdiri!”
Dari arah sisi barat Lereng Tiga Mata muncul ribuan pasukan Kerajaan Siluman. Barisan paling depan adalah Pasukan Siluman Tingkat Dua yang dipimpin oleh Siluman Angin Api.
“Heiii! Pasukan tikus botak sudah datang, banguuun!” teriak Puspa meneriaki ketiga ratus pasukannya yang sejak tadi berjaga.
Di seberang sana, pasukan Kerajaan Siluman sedang mengatur formasi untuk menyerang.
Sementara itu di dalam Hutan Sanggana yang ada di belakang pasukan pimpinan Ratu Puspa, Ratu Getara Cinta dan para permaisuri mengawasi kondisi lereng dari atas pepohonan. Kegelapan hutan membuat mereka tidak terlihat dari luar hutan, demikian pula dengan keberadaan para pasukan pendekar yang sudah sejak tadi menunggu-nunggu.
Reksa Dipa sudah siap memimpin Pasukan Pengawal Bunga, Babat Seta memimpin Pasukan Hantu Sanggana, Manik Cahaya alias Pendekar Kipas Hitam memimpin Pasukan Pedang Putri, dan Garis Merak memimpin Pasukan Penguasa Telaga. Keempat pemimpin pasukan khusus itu sudah siap berkomando maju ke arena perang.
Lebih ke dalam Hutan Sanggana, ada seribu pasukan utama. Mereka tidak direncanakan untuk masuk ke dalam peperangan, tetapi tetap disiagakan jika memang harus diturunkan sebagai pasukan bantuan.
“Mahapati, kirim pesan kepada Ratu Puspa, perang baru akan di mulai jika pasukan musuh sudah mendekati Hutan Sanggana. Kita harus menarik mereka lebih jauh agar terpisah dari pasukan terakhirnya. Ratu Puspa tidak akan tampil sebagai pemimpin pasukan, dia pasti akan bertarung berdua saja dengan suaminya. Karena itu, setelah Ratu Puspa maju, kau ambil kendali pasukan depan. Majukan mereka hanya sebagai pemancing agar pasukan musuh tidak ragu untuk maju lebih jauh. Pasukan pendekar yang akan maju, sedangkan pasukan militer berperang di akhir!” perintah Ratu Getara Cinta cukup panjang.
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Mahapati Turung Gali patuh, meski di dalam hati ia kurang setuju bahwa pasukan militer akan berperang di akhir. Sangat jelas itu akan membuat pasukan mereka kalah jumlah sangat jauh di awal.
Mahapati Turung Gali langsung yang menyampaikan pesan Ratu Getara Cinta kepada Ratu Puspa.
“Hihihi! Baik, Puspa akan patuh. Hihihi!” jawab Puspa seraya tertawa-tawa terus, menikmati suasana ambang perang itu. “Kerbau Ganteng!”
“Iya, Bayi Kelinciku?” sahut Abna Hadaya bersemangat.
“Ilmu apa yang akan kau keluarkan untuk membasmi serangga imut-imut itu?” tanya Puspa.
“Jelas aku akan mengandalkan ilmu Renggut Jantung dan Wabah Belalang Keramas…. Eh, kok keramas? Maksudku Wabah Belalang Keramat. Hahaha!” jawab Abna Hadaya lalu tertawa.
“Hihihi…!” tawa Puspa panjang. Ia menilai suaminya benar-benar kocak.
Namun, meski kedua pasukan telah berhadapan, tetapi dari kubu pasukan Kerajaan Siluman belum juga maju. Para panglimanya masih sibuk mengamati situasi.
“Nuansa jebakannya sangat terasa,” ucap Siluman Angin Api kepada dirinya sendiri. Ia memandang seksama ke arah atas gunung di sisi timur lereng dan ke arah Hutan Malam Abadi yang ada di sisi utara lereng. “Jika ada pasukan disembunyikan di atas gunung, mereka akan kesulitan saat turun. Pasukan panah pun tidak bisa menjangkau arena perang. Pasti pasukan tersembunyi di tempatkan di dalam hutan utara.” (RH)