
*Darah di Kerajaan Siluman (Darah Keras)*
“Dari pada kita bertarung dan hanya rugi, alangkah bagusnya jika kita bertarung di atas ranjang atau di semak-semak!” kata Ki Bandel Perawan kepada Nenek Rambut Merah saat mundur setelah menangkis serangan.
“Tutup mulut kotormu, Bandel!” bentak Nenek Rambut Merah, lalu kembali melesat menyerang.
Pertarungan berkecepatan tinggi terjadi. Ternyata Ki Bandel Perawan bisa membaca cara serang Nenek Rambut Merah.
Meski yang terjadi pertarungan jarak dekat, tetapi Nenek Rambut Merah sesekali melesatkan satu daun sinar dari jarak dekat. Ki Bandel Perawan yang sudah tahu gaya tarung lawannya, selalu menghindari arah jari-jari tangan si nenek, karena dari situlah sesekali sinar wujud daun melesat.
“Jangan kau lihat aku sudah tua lalu kau mengira aku sudah tidak sanggup mendaki. Kekuatanku tidak kalah hebat dengan yang masih muda. Aku memang menyukai perawan muda, tapi aku juga dengan senang hati menggarap lahan tua!” celoteh Ki Bandel Perawan sambil terus bergerak tanpa henti.
“Benar-benar tua bangka tidak tahu malu!” maki Nenek Rambut Merah semakin geram. Ingin hati langsung merobek mulut lelaki tua mesum itu, tetapi Ki Bandel adalah lawan tangguh.
“Kau yang tidak tahu diuntung! Aku tawari kenikmatan, malah jual mahal!” balas Ki Bandel Perawan.
Bak!
Nenek Rambut Merah dibuat mendelik ketika gerakan tangan Ki Bandel Perawan mendadak aneh dan sulit diterka. Tahu-tahu satu pukulan mendarat di dada tua Nenek Rambut Merah.
Nenek Rambut Merah terjajar dua tindak.
“Hahaha!” tawa terbahak Ki Bandel Perawan sambil berhenti sejenak. “Biar tua, dadamu masih keras rupanya, Rambut Merah!”
“Terlalu mesum kau, Bandel!” teriak Nenek Rambut Merah tak berhenti marah.
Seset!
Nenek Rambut Merah mengibaskan kedua tangannya, melesatkan sekelompok sinar biru berwujud daun.
Ki Bandel Perawan cepat memajukan kedua telapak tangannya, membuat rombongan daun sinar itu berhenti melesat tepat di depan tubuh si kakek mesum.
Pak!
Ketika Ki Bandel Perawan bertepuk tangan, semua daun sinar biru Nenek Rambut Merah sirna. Ia lalu melakukan gerakan tangan memutar dan menghentakkannya.
Swers!
Dari kedua telapak tangan Ki Bandel Perawan melesat benang-benang sinar biru yang banyak. Nenek Rambut Merah ternyata telat menghindar. Akibatnya, tubuhnya terlilit benang-benang yang banyak, yang ujung lainnya masih terkait di tangan Ki Bandel Perawan.
Nenek Rambut Merah terlilit kuat sehingga sulit untuk melepaskan diri.
“Aaah!” desah Nenek Rambut Merah panjang. Ia mendesah seperti orang yang terangsang.
“Hahahak!” tawa Ki Bandel Perawan. “Kau sekarang terjerat ilmu Benang-Benang Birahi. Lama-lama kau akan mati mengejang, tapi mati dalam kepuasan yang nikmat. Hahahak!”
“Aaah!” Nenek Rambut Merah kembali melenguh tanpa ia kehendaki, karena ada rasa bergelombang yang menyerang area pribadinya.
Nenek Rambut Merah mendelik sambil berusaha sekuat tenaga mengatup bibir tuanya.
“Hahahak!” Ki Bandel Perawan yang masih memegang benang-benang sinar biru tertawa kian terbahak mendengar si nenek galak mendesah.
Sementara itu, Setan Ngompol yang masih bertarung hebat melawan Lemak Iblis, jadi melirik sekilas kepada saudara perguruannya, karena suara tawa Ki Bandel Perawan mengusiknya.
Seet!
Setan Ngompol cepat melempar sarung pesingnya dari jauh. Setelah itu, dia melanjutkan tarungnya dengan Lemak Iblis.
Ki Bandel Perawan terkejut ketika melihat lesatan sarung dari arah lain. Hasilnya, sarung itu memutus benang-benang sinar biru yang terentang. Akibatnya, Nenek Rambut Merah bisa melepaskan diri dari jeratan.
Tress! Sweets!
Setelah mengerahkan tenaga dalam tinggi yang memutuskan semua benang sinar yang melilit tubuhnya, Nenek Rambut Merah langsung memunculkan puluhan sinar kuning berwujud daun di sekeliling tubuhnya.
Nenek Rambut Merah memainkan tangannya, mengarahkan gerak serang kumpulan daun sinar kuning itu. Maka seperti barisan lebah, pasukan daun sinar itu melesat terbang menyerang Ki Bandel Perawan.
Ki Bandel Perawan kembali mengedepankan kedua telapak tangannya, menahan serangan yang dianggapnya sejenis dengan sebelumnya.
Tar tar tar…!
Rombongan daun sinar kuning itu memang tertahan oleh tenaga dalam Ki Bandel Perawan, tetapi sinar-sinar itu datang menghantam secara beruntun hingga sinar daun paling buntut.
“Akk!” jerit Ki Bandel Perawan dengan tubuh terlompat ke belakang dan jatuh terjengkang.
Ilmu perisai Ki Bandel Perawan memang bisa menahan serangan maut daun sinar itu. Namun, serangan beruntun itu membuat lemah pertahanan Ki Bandel Perawan, yang pada hantaman akhir, perisai itu hancur, sehingga daun terakhir bebas hambatan dan menembusi dada kiri Ki Bandel Perawan.
Luka lubang pada tubuh itu ternyata tidak membuat Ki Bandel Perawan mati. Dia masih bisa bangkit dengan cepat.
“Kau memang tidak bisa diberi hati, Rambut Merah!” teriak Ki Bandel Perawan.
Bak!
Sambil menahan sakit yang begitu perih, Ki Bandel Perawan menghentakkan kaki kanannya ke lantai. Kedua tangannya menghentak pula ke bawah dengan jari-jari mengepal.
“Hiaat!” teriak Ki Bandel Perawan sambil mendorong perlahan tangan kanannya ke depan, menciptakan kobaran sinar kuning.
Zwess! Swiiit!
Ketika tangan itu menghentak kecil, sinar kuning panjang melesat cepat. Nenek Rambut Merah melompat berputar di udara menghindari serangan. Seiring itu, muncul puluhan daun sinar kuning yang ikut bergerak di sekitar tubuh Nenek Rambut Merah.
Bum bum bum…!
Baru saja Nenek Rambut Merah mendarat di lantai, tinju-tinju sinar kuning berwujud kepalan tangan menghujani. Dedaunan sinar kuning bergerak cepat saling menempel dan menumpuk di depan tubuh si nenek membentuk perisai.
Berulang kali tinju sinar kuning yang dilesatkan itu menghantam perisai sinar daun itu.
Broks!
Sama seperti yang dialami oleh Ki Bandel Perawan, perisai Nenek Rambut Merah akhirnya jebol pula pada akhirnya, setelah sepuluh lebih hantaman dahsyat ilmu tinju Ki Bandel Perawan.
Satu sinar tinju menghancurkan perisai Nenek Rambut Merah, satu tinju berikutnya melesat menghantam dada si nenek.
Nenek Rambut Merah terpental deras dan jatuh tersurut sejauh satuh tombak.
“Hoekh!” Nenek Rambut Merah muntah darah kental lagi panas.
Sementara itu, di seberang sana, Ki Bandel Perawan berdiri bersimbah darah. Darah banyak keluar dari lubang luka di dadanya, lantaran ia banyak mengeluarkan tenaga. Namun, kondisinya tampak lebih bugar daripada Nenek Rambut Merah.
Ki Bandel Perawan tidak berniat memberi lawannya waktu untuk menyerang balik. Karenanya, dia cepat melompat naik ke udara dengan kedua tinju kembali mengirimkan serangan beruntun.
Brak brak brak!
Dalam kondisi terluka parah, Nenek Rambut Merah bergulingan menghindari setiap tinju yang datang. Lantai Istana yang ditinggalkan oleh tubuh si nenek jadi berhancuran beruntun.
Blet!
“Akh!” pekik Ki Bandel Perawan, ketika tubuhnya yang berada di udara tiba-tiba dibelit oleh lingkaran sarung yang berbau pesing menyengat.
Bduk!
Tubuh Ki Bandel Perawan jatuh ke lantai. Dalam kondisi badan dan kedua tangan terbelit, ia buru-buru berusaha bangkit. Bau pesing yang menusuk membuat rasa pusing muncul tiba-tiba.
Melihat lawannya dalam kondisi terjerat oleh sarung Setan Ngompol, Nenek Rambut Merah cepat bertindak memaksakan diri.
“Mati kau lelaki mesuuum!” teriak Nenek Rambut Merah sambil melompat bangkit bersama tubuh yang sudah dikelilingi daun sinar kuning.
Sweets! Ces ces ces…!
“Aaak…!”
Puluhan daun sinar kuning itu berlesatan seperti pasukan daun yang langsung menembusi dada Ki Bandel Perawan, yang tidak berkutik oleh sarung pesing.
Ki Bandel Perawan hanya bisa menjerit dalam kondisi dada berlubang besar setelah semua daun sinar telah berlalu.
Bdak!
Nenek Rambut Merah tumbang ke belakang dengan tubuh lurus, sampai-sampai batok kepalanya menghantam lantai Istana dengan keras.
Nenek Rambut Merah terdiam tidak bergerak dengan mulut mengalirkan darah. Matanya menerawang lurus ke langit-langit. Namun, dada si nenek masih terlihat bergerak naik turun dengan lemah. (RH)