
*Perang Pendekar Sanggana (Pepes)*
Kini ada sebelas orang yang duduk di belakang meja yang sarat dengan hidangan. Besar meja untuk satu orang adalah sepanjang satu depa dan selebar setengah depa.
Satu orang yang duduk di ujung formasi tatanan meja adalah Ratu Aninda Serunai. Meja makannya lebih bagus dan sedikit lebih tinggi posisinya. Agak jauh tepat di belakangnya, berdiri gadis cantik kembar bernama Kenang Hati dan Kenang Indah. Mereka dikenal dengan nama Siluman Satu Rupa, mantan pengawal pribadi Permaisuri Sri Rahayu. Di belakang keduanya berdiri berjejer sepuluh dayang.
Di dekat sisi kanan sang ratu duduk guru sekaligus penasihatnya, Siluman Ratu Siluman. Dan di dekat sisi kirinya duduk Mahapatih Datuk Bibir Kuning.
Adapun delapan orang sakti yang diundang makan, antara lain: Raja Tanpa Istana, Ropo Bunang alias Dedemit Bukit Lumut, Lemak Iblis, Guru Peri Setan, Ki Bandel Perawan, Putri Mata Merah, Nini Jarum Gaib, dan Gelak Bisu.
Gelak Bisu adalah Ketua Perguruan Bibir Jari. Ia seorang kakek kurus berkulit hitam berpakaian bagus warna kuning emas layaknya seorang bangsawan. Di lehernya melingkar rantai emas sebesar dua jari seperti penyanyi hip hop. Pada kesepuluh jari tangannya ada enam cincin emas dengan berbagai warna batu akiknya. Sepertinya dia kolektor batu akik. Pada pergelangan tangan kanannya melingkar juga gelang emas. Dia benar-benar orang kaya.
Terlihat masih ada satu meja yang tersedia, tapi masih kosong.
“Kini akulah orang yang memiliki kesaktian tanpa tanding. Menurutku ini adalah keberuntungan kita semua sebagai kekuatan aliran hitam. Aku tahu kalian semua tidak mau masuk dalam persatuan aliran hitam yang dipimpin oleh ayahku Prabu Raga Sata, yang hanya diminati oleh pendekar-pendekar aliran hitam kelas cebong. Karenanya, untuk kali ini aku mengundang kalian yang memiliki kesaktian tinggi….”
“Maafkan hamba, Gusti Ratu, hehehe!” ucap Lemak Iblis menyela perkataan Ratu Aninda Serunai.
“Ada apa?” tanya Ratu Aninda Serunai dengan tatapan dingin. Di dalam hati, ia tidak suka perkataannya dipotong seperti gaji pembantu, tetapi ia membutuhkan tenaga orang-orang itu.
“Apakah makanannya boleh sambil di makan? Hehehe!” tanya Lemak Iblis.
“Silakan. Sambil disantap!” kata Ratu Aninda Serunai seraya tersenyum.
Maka Lemak Iblis dan beberapa pendekar tua yang diundang itu memulai aktivitas makannya.
“Silakan dilanjutkan, Gusti Ratu,” kata Raja Tanpa Istana santun. Ia memilih tidak memulai makannya, tapi lebih fokus memperhatikan Ratu Aninda Serunai berbicara.
“Kerajaan Siluman yang menjadi simbol kekuasaan aliran hitam telah mengalami kerugian besar, dari kematian ayahku, kehilangan banyak prajurit, hingga kehilangan banyak pendekar sekutu. Baru saja aku mendapat laporan bahwa lima ribu pasukanku, ditambah seratus lebih pasukan pendekarku, kalah telak dan takluk oleh pasukan Kerajaan Sanggana Kecil. Aku sebagai orang tersakti di jagad raya ini, tidak masalah jika harus kehabisan prajurit, bahkan tidak memerlukan bantuan siapa pun. Namun, aku ingin tahu, siapa sebenarnya orang-orang yang menjadi sahabatku dan orang-orang yang bukan di dalam kalangan sesama aliran hitam. Aku tidak peduli, apakah dia menyandang embel-embel aliran hitam atau aliran putih, jika bermusuhan denganku, aku akan habisi!” tutur Ratu Aninda Serunai.
“Lalu apa yang kau inginkan dari kami? Kau harus ketahui, Gusti Ratu, aku adalah orang yang tidak suka diperintah,” tanya Raja Tanpa Istana.
“Aku tidak akan menjadikan kalian sebagai orang-orangku, tetapi aku berharap kalian mau bersekutu denganku. Aku perjelas sekali lagi, aku tidak membutuhkan bantuan siapa pun untuk menghadapi serbuan dari para pendekar aliran putih yang akan datang, karena aku adalah orang yang tidak terkalahkan. Namun, aku yang memiliki segalanya, ingin menawarkan apa yang tidak kalian miliki dengan cara bersekutu denganku. Bagaimana?” jelas Ratu Aninda Serunai, lalu ia meraih gelasnya dan meminum.
“Sebenarnya ini kesempatan bagus untuk meracuni minuman Ratu, tetapi keberadaan Siluman Ratu Siluman sangat mengganggu. Ia bisa dengan mudah mengetahui jenis racunku…” batin Ropo Bunang.
“Lalu apa yang Gusti Ratu tugaskan kepada kami sebagai sekutu?” tanya Ki Bandel Perawan.
“Hanya tinggal di Istana ini selama satu purnama. Hanya itu. Segala keinginan kalian akan aku sediakan dan penuhi,” jawab Ratu Aninda Serunai.
“Termasuk, Gusti Ratu akan menyediakan wanita tidak perawan untukku?” tanya Ki Bandel Perawan.
“Ki Bandel, kalau kau memerlukan yang tidak perawan, kau bisa memilih para wanita tua di antara kita!” sahut Gelak Bisu, lalu ia tertawa kuat tanpa ada suara sedikit pun.
“Hahaha!” tawa para lelaki pendekar tua, kecuali Raja Tanpa Istana.
“Nenek Peti Terbang tibaaa!” teriak prajurit penjaga pintu.
Terkejut heranlah sejumlah pendekar tua itu, yang langsung mengenali nama yang disebut.
Tidak butuh waktu lama, dari luar melangkah masuk seorang nenek berjubah hitam. Nenek berpipi kempot itu menyanggul rambutnya yang dihiasi tiga tusuk konde berbeda corak. Nenek itu berwajah lucu karena ia memiliki satu gigi yang tonggos. Ketika ia tidak tersenyum pun, giginya itu tidak tertutup. Nenek itu tidak lain adalah Nenek Peti Terbang, yang saat ini memiliki status sebagai Ketua Utara Barisan Putih.
“Nenek Peti Terbang?” sebut Guru Peri Setan seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Maafkan hamba karena telat datang, Gusti Ratu,” ucap Nenek Peti Terbang yang punya nama asli Kuming Rara.
“Tidak mengapa, Nenek Peti Terbang. Silakan!” kata Ratu Aninda seraya tersenyum senang. Ia lalu mempersilakan Kuming Rara menempati meja makan yang masih kosong.
Kedelapan tokoh hitam itu memusatkan pandangannya kepada Kuming Rara. Setelah duduk, Kuming Rara balas memandang kepada para pendekar tua yang lain.
“Apakah aku terlalu memesona sehingga kalian begitu menatapku?” tanya Kuming Rara dingin.
“Apakah ini langkah tepat mengundang tokoh putih dalam acara ini, Gusti Ratu?” tanya Dedemit Bukit Lumut.
“Nenek Peti Terbang adalah salah satu teliksandi khusus yang sudah lama mengabdi kepada ayahku. Baktinya sudah tidak perlu diragukan. Dia bukan orang yang berpura-pura. Tidak mungkin orang yang berpura-pura berani membuat Perguruan Bukit Dalam dibantai habis,” jelas Ratu Aninda Serunai.
“Apa?!” pekik terkejut beberapa tokoh tua itu.
“Aku suka yang seperti ini,” komentar Gelak Bisu, lalu tertawa tanpa suara lagi.
“Jadi, bukan hanya kalian yang aku undang. Sejumlah tokoh sakti aliran hitam yang tinggal di tempat jauh aku undang datang, seperti Bocah Kuas Hitam dan Pendekar Tanpa Nyawa,” kata Ratu Aninda Serunai.
“Apa? Pendekar Tanpa Nyawa?” kejut sebagian besar pendekar yang hadir.
Disebutnya nama Pendekar Tanpa Nyawa jelas mengejutkan, karena tokoh hitam yang tinggal di Pulau Kesepian itu memiliki sejarah kejayaaan sebelum ia mundur dari dunia persilatan. Hingga ia mundur, belum ada pendekar aliran putih yang pernah mengalahkannya. (RH)
*******************
Seasson Baru
Chapter ini adalah episode terakhir seasson Perang Pendekar Sanggana (Pepes). Chapter berikutnya adalah awal seasson Darah di Kerajaan Siluman (Darah Keras)