8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Pepes 9: Panen Nyawa


*Perang Pendekar Sanggana (Pepes)*


Di saat Pasukan Siluman Tingkat Dua siap digulung oleh kehadiran tiga tokoh tua sakti, yaitu Tabib Rakitanjamu, Iblis Takluk Arwah dan Dewa Seribu Tameng, ditambah bantuan enam puluh pendekar dari Kadipaten Gunung Prabu, Permaisuri Sandaria dan Serigala Perak sudah dalam posisi mengancam ratusan prajurit pasukan pimpinan Siluman Merah.


Di hadapan sisi utara pasukan pimpinan Siluman Merah, Sandaria dan neneknya telah berdiri di atas punggung serigalanya masing-masing. Sandaria berdiri di atas punggung Satria, sedangkan Serigala Perak berdiri di atas punggung Samudera. Tujuh serigala lainnya telah berbaris di kanan dan kiri dalam posisi siap tempur.


Seribu pasukan itu kini berhenti di tengah-tengah Lereng Tiga Mata. Mereka berhenti hanya karena ada hadangan sembilan ekor serigala di sisi utara.


Yang membuat ketar-ketir para prajurit Kerajaan Siluman di sisi utara adalah keberadaan sinar kuning berwujud diagram. Masing-masing di depan Sandaria dan neneknya, ada lingkaran sinar kuning yang berdiri tegak melayang di udara. Di dalam lukisan lingkaran itu ada lingkaran-lingkaran kecil. Itu adalah ilmu Putaran Dewa Perang. Sebagai nenek dan cucu atau sebagai guru dan murid, tentu keduanya memiliki ilmu yang sama.


Siluman Merah dan para prajuritnya tidak pernah melihat ilmu model aneh seperti itu, tetapi mereka sangat yakin bahwa ilmu yang dikeluarkan wanita buta dan neneknya itu sangat berbahaya.


“Nenek, hari ini kita akan panen nyawa! Hihihi!” teriak Sandaria.


“Ayo kita lakukan!” seru Serigala Perak bersemangat, seolah jiwa mudanya kembali bereinkarnasi.


Namun, belum juga kedua wanita itu bertindak dengan diagram sinar mereka, tiba-tiba semua orang dikejutkan oleh suara yang sangat keras.


Kaaak!


“Kakang Prabu!” pekik Sandaria begitu senang, sambil mendongak ke langit, seolah-olah ia sedang mencari Joko Tenang di angkasa luas dengan mata butanya.


“Kakang Prabu datang!” ucap Ratu Getara Cinta sumringah.


Semua permaisuri tersenyum, kecuali Permaisuri Nara.


Suara koakan Gimba yang sangat keras mengejutkan semua orang, sampai-sampai pertempuran para pendekar terhenti sejenak. Semua orang mendongak ke atas. Seiring itu melintas satu bayangan raksasa, seolah sesuatu yang sangat besar lewat di bawah matahari.


Meski pertempuran jeda, tidak ada seorang pun pendekar yang berbuat curang dengan memanfaatkan lalainya musuh.


Sandaria dan Serigala Perak terpaksa menunda pengoperasian ilmu Putaran Dewa Perang.


Di langit, seekor burung rajawali raksasa datang terbang berputar di atas Lereng Tiga Mata. Di atas pangkal leher Gimba duduk Prabu Dira Pratakarsa Diwana alias Joko Tenang. Sementara di punggung Gimba berdiri Permaisuri Mata Hijau alias Kerling Sukma. Di kaki kanan raksasa Gimba berdiri Pangeran Mabuk dan Pangeran Lidah Putih. Di kaki kiri berdiri Gadis Cadar Maut dan Bidadari Wajah Kuning.


“Hentikan peperangan!” seru Joko Tenang yang mengandung tenaga dalam tinggi, sehingga suaranya menggema hebat seperti menggunakan sound system konser.


Sebanyak enam puluh lima pendekar Pasukan Siluman Tingkat Dua bergerak mundur untuk menciptakan jarak dari pasukan musuh. Sementara pasukan pendekar Sangga Kecil masih ada seratus lima belas orang. Pasukan pendekar Sanggana Kecil kini dipimpin oleh ketiga tokoh tua yang masih segar bugar.


“Aku peringatkan kepada siapa pun yang memimpin pasukan Kerajaan Siluman ini! Tarik pulang pasukan kalian! Jika tidak, kekuatan dahsyat Kerajaan Sanggana Kecil akan memanen nyawa kalian!” seru Joko Tenang memperingatkan.


Peringatan yang mengancam dari langit itu membuat pasukan Kerajaan Siluman terserang wabah ciut. Mereka menilai, kemunculan sang raja dengan rajawali raksasanya terlalu hebat. Mereka sudah membayangkan akan menjadi sekumpulan anak ayam di mata elang ganas.


“Jangan takut! Hancurkan pasukan Sanggana Kecil yang kecil! Seraaang!” teriak Senopati Siluman Pagar Maut dari belakang. Teriakan itu mengandung tenaga dalam tinggi, sehingga menggetarkan jantung-jantung pasukannya yang sudah berada di medan perang.


“Hancurkan Sanggana Kecil! Seraaang!” teriak Panglima Siluman Kaki Baja yang seribu pasukannya masih berdiam di tepi timur lereng.


“Seraaang!” teriak pasukan infanteri itu beramai-ramai. Mereka berlari memasuki medan perang.


Melihat Siluman Kaki Baja memajukan pasukannya, Panglima Siluman Merah terpaksa harus bertindak pula.


“Maju sampai ke hutan!” teriak Siluman Merah.


“Seraaang!” teriak pasukan pimpinan Siluman Merah beramai-ramai.


Melihat kebandelan pasukan Kerajaan Siluman, Joko Tenang pun bertitah.


“Ayo menari, Nenek! Hihihi!” teriak Sandaria kepada Serigala Perak, sambil menyentuhkan ujung tongkat birunya kepada diagram sinar kuningnya.


Sementara Serigala Perak menyentuhkan jari telunjuknya kepada sinar kuning diagram miliknya.


Zeeeng! Zeeeng!


Kedua diagram sinar kuning itu berputar kencang pada posisinya, membuat sinar itu kian terang.


Melihat putaran kedua diagram kembar yang bersuara nyaring itu, para prajurit pasukan Kerajaan Siluman jadi gemetar, seolah sedang memandang malaikat maut.


“Satu, dua, sepuluuuh!” teriak Sandaria penuh semangat.


Zeng zeng zeng…!


Blar blar blar…!


Dahsyat kuadrat. Kedua diagram sinar kuning itu menembakkan bola-bola sinar kuning tanpa henti. Benar-benar seperti senjata tempur otomatis.


Jangan dibayangkan seperti apa pembantaian yang dilakukan oleh si imut cantik jelita itu bersama neneknya. Jika bukan dalam kondisi perang, mungkin tidak akan ada yang menyangka bahwa si mungil itu bisa membunuh ratusan orang dengan mudahnya. Dan itu dilakukan dengan riang gembira.


“Mampus aku!” maki Panglima Siluman Merah terkejut melihat pasukannya di sisi utara habis dengan cepat.


“Minggir, Joko Ayaaam!” teriak Ratu Puspa yang tahu-tahu muncul dari balik awan.


Mau tidak mau Joko Tenang dan Kerling Sukma dibuat terkejut. Gimba cepat terbang menghindar daripada terjadi tabrakan di langit.


Laksana seorang penerjun payung tanpa parasut, Ratu Puspa meluncur dalam kondisi berjongkok seperti katak. Posisi itu bisa ia lakukan karena di bawahnya adalah punggung Abna Hadaya.


Kerbau Ganteng itu meluncur deras menuju bumi dengan gaya tupai terbang.


“Kerbau Ganteng, kita beri pasukan cacing itu pukulan yang terindah! Hihihi!” teriak Puspa dalam luncurannya.


“Siap, Bayi Kelinciku!” sahut Abna Hadaya bersemangat. Sepertinya dia menikmati petualangan asmaranya dengan sang ratu liar.


Sess! Sess! Blom! Blom!


Ketika suami istri itu mendekati bumi, dari atas punggung Abna Hadaya, Puspa melesatkan dua balon sinar hijau besar ke bawah. Lesatannya lebih cepat dari luncuran tubuh Puspa dan Abna Hadaya.


Kedua balon sinar hijau itu jatuh di tengah-tengah pasukan pimpinan Panglima Siluman Kaki Baja yang ada di belakang. Dua ledakan dahsyat seketika menghancurkan dan mementalkan puluhan prajurit. Benar-benar seperti rombongan semut yang dilempar dua petasan.


Daya ledak dua bola sinar hijau itu membuat tubuh Puspa dan Abna Hadaya terlempar balik ke atas, tetapi tidak tinggi. Selanjutnya, keduanya kembali jatuh dan mendarat di tengah-tengah pasukan musuh yang jumlahnya ratusan orang.


Sweerrss! Blarblar…!


Semendaratnya di tanah, Puspa langsung menghentakkan kedua lengannya, melesatkan puluhan sinar hijau berwujud daun-daun. Ilmu Gerimis Hijau meledakkan puluhan tubuh prajurit Kerajaan Siluman.


Swing!


Abna Hadaya mengibaskan tangannya bergantian, seperti sedang menebarkan makanan ikan di empang. Yang muncul adalah lesatan butir-butir kecil sinar merah yang jumlahnya ratusan. Sinar-sinar itu menghinggapi tubuh dan wajah para prajurit seperti binatang serangga yang datang melekat.


“Aak! Aak! Akk…!” jerit bersusulan puluhan prajurit. Kulit wajah dan tubuh mereka ditumbuhi totol-totol biru gelap. Mereka keracunan oleh ilmu Wabah Belalang Keramat. (RH)