
*Darah di Kerajaan Siluman (Darah Keras)*
“Seharusnya kau tidak melakukan ini, Guru,” ujar Permaisuri Sri Rahayu kepada Siluman Ratu Siluman. Ia menghargai guru adik tirinya dengan menyebutnya Guru pula.
“Maafkan aku, Gusti Putri. Aku harus menjatuhkan tangan maut kepadamu. Aku tahu dengan keputusan yang aku ambil. Berada di belakang muridku yang kini tanpa tanding, merupakan langkah bagus pada waktu yang tepat,” kata Siluman Ratu Siluman.
“Sebagai rasa hormatku kepadamu, aku tidak akan menggunakan ilmu-ilmu warisan Dewa Siluman untuk menghadapimu,” kata Sri Rahayu.
“Sepertinya kau begitu yakin bahwa kesaktianmu yang lain lebih hebat dari ilmu-ilmu yang diturunkan oleh kakakku, Putri,” kata Siluman Ratu Siluman.
“Aku harap Guru tidak terkejut mengetahui perkembanganku,” kata Sri Rahayu.
“Silakan, Putri,” ucap Siluman Ratu Siluman penuh hormat.
Perlu diketahui, guru Sri Rahayu dan guru Aninda Serunai adalah kakak beradik. Namun, guru Sri Rahayu yang bernama Dewa Siluman telah wafat karena kecelakaan uji coba ilmu baru. Ada beberapa kesaktian Dewa Siluman yang diwariskan kepada Sri Rahayu sama dengan kesaktian Siluman Ratu Siluman.
Beberapa ilmu Sri Rahayu yang sama dengan ilmu Siluman Ratu Siluman di antaranya: Dinding Tanpa Wujud, Amarah Siluman, Asap Racun, dan Bibit Kematian.
Selanjutnya, Sri Rahayu melesat maju laksana menghilang, dan tahu-tahu sudah tiba di hadapan Siluman Ratu Siluman. Sri Rahayu langsung melancarkan serangan jarak dekat.
Meski tua, Siluman Ratu Siluman gesit mengelaki semua serangan Sri Rahayu, ia bahkan tidak berani menangkis. Jika kulitnya tersentuh sekali saja, maka racun akan langsung menjalarinya. Meski ia memiliki obat penawar untuk racun kulit tubuh Sri Rahayu, tetapi baginya keracunan adalah perkara yang membuat repot. Bahkan ia tidak berani menangkis serangan Sri Rahayu dengan tongkat kelabangnya yang juga sama-sama beracun.
Gerak hindar Siluman Ratu Siluman terlalu cepat. Tidak satu pun serangan Sri Rahayu yang menyentuh sasaran.
Setelah bermain-main cukup lama, Siluman Ratu Siluman akhirnya memilih melompat mundur beberapa tombak.
Crak! Sreeet!
Siluman Ratu Siluman lalu menancapkan tongkatnya pada lantai Istana. Selanjutnya ia merentangkan kedua tangannya, membuat tongkat itu memunculkan sepuluh tongkat kelabang palsu, yang semuanya melayang di depannya.
Seeet!
Selanjutnya, Siluman Ratu Siluman menggerakkan kedua tangannya, mengendalikan kesepuluh tongkat palsu yang melesat terbang menyerbu Sri Rahayu.
Jres jres jres…!
Namun, Siluman Ratu Siluman dibuat terkejut. Pasalnya, semua tongkat itu musnah ketika menghantam telapak tangan Sri Rahayu yang bersinar hijau menyilaukan mata. Itu bukan ilmu Surya Langit Jagad, tetapi itu ilmu Dewi Bunga Empat.
Tongkat-tongkat itu menabrak telapak tangan Sri Rahayu seperti masuk ke dalam air.
Setelah kesepuluh tongkat itu habis, Sri Rahayu melesat cepat ke arah Siluman Ratu Siluman. Namun, ia langsung disambut oleh lesatan dinding sinar merah bening seperti kaca transparan. Dinding itu bergerak cepat melengkung sehingga mengurung Sri Rahayu dan memaksanya berhenti.
Sreees!
Namun, Sri Rahayu bertindak hanya menempelkan tangan bersinar hijaunya pada dinding itu. Hasilnya, dinding sinar itu seolah tersedot dengan cepat masuk ke dalam telapak tangan. Dalam waktu singkat, dinding kurungan itu terbuka sendiri dan tersedot hingga habis.
Semakin terkejut Siluman Ratu Siluman. Ia tidak pernah melihat ilmu seperti itu, yaitu ilmu yang memakan ilmu lain hanya dengan menyentuhnya.
“Ilmu apa itu? Berarti, ilmu apa pun yang aku lepaskan, akan bisa dimakan,” pikir Siluman Ratu Siluman. “Coba, apakah ilmu itu juga akan memakan Kiamat Pagi.”
Sebelum penyedotan ilmu kurungan itu, Siluman Ratu Siluman bergerak melayang naik ke udara. Seiring itu, sebola besar sinar merah muncul di atas kepalanya. Sinar itu bisa dikatakan sebesar rumah, lebih besar dari tubuh si nenek.
Besarnya bola sinar merah dan dahsyatnya kekuatan yang terkandung di dalamnya, membuat Sri Rahayu jadi kurang yakin pula, apakah ilmu Dewi Bunga Empat bisa mengatasi ilmu itu.
Joko Tenang yang sedang bertarung cukup jauh di sisi lain melawan adik tirinya, cukup terkejut melihat Siluman Ratu Siluman sudah mengeluarkan satu ilmu yang terlihat begitu menyeramkan. Namun, ia tetap yakin bahwa Sri Rahayu bisa mengatasinya.
Bzersss! Sreeess!
Dan akhirnya, Siluman Ratu Siluman mengayunkan kedua tangannya yang di atas ke depan. Bola sinar merah besar itu melesat ke arah Sri Rahayu.
Kedua telapak tangan Sri Rahayu masih bersinar hijau menyilaukan mata. Kedua tangan itu dihentakkan perlahan ke arah sinar merah yang datang.
Siluman Ratu Siluman seolah berubah frustasi, karena ilmu dahsyat Kiamat Pagi jadi tertahan di tengah jalan dan disedot dari jarak jauh.
“Hiaaat!” teriak Siluman Ratu Siluman sambil menatap tajam kepada tongkat kelabangnya.
Seet!
Karena kedua tangannya yang bersinar hijau menyilaukan itu sedang bekerja keras, Sri Rahayu terpaksa mengerahkan ilmu Dewi Bunga Enam pada saat yang bersamaan untuk mengatasi serangan tongkat kelabang.
Tahu-tahu di sekeliling tubuh Sri Rahayu muncul delapan sinar hijau berwujud kuncup kelopak bunga besar yang terkatup. Masing-masing memiliki batang tangkai yang pangkalnya bermuara pada punggung Sri Rahayu.
Kraukr!
Satu sinar kelopak bunga bergerak secepat kilat mencaplok tongkat itu, seperti hewan menyambut makanan yang dilemparkan kepadanya. Terdengar jelas bahwa tongkat itu hancur dalam kunyahan kuncup bunga pemangsa itu.
Hal itu sangat mengejutkan Siluman Ratu Siluman.
“Ilmu macam apa itu?” ucap Siluman Ratu Siluman. Ia sedikit pun tidak pernah berurusan dengan ilmu aneh semacam itu.
Apa yang ia saksikan membuatnya jadi bingung harus mengeluarkan ilmu apa. Satu kuncup bunga saja sudah seganas itu, bisa menghancurkan tongkat kelabangnya yang beracun, apalagi jika kedelapan kuncup itu bergerak bersamaan.
Akhirnya, Sri Rahayu bisa menyedot habis sinar merah besar dari ilmu Kiamat Pagi. Itu benar-benar dinilai tidak masuk akal oleh Siluman Ratu Siluman.
Sri Rahayu memilih menonaktifkan ilmu Dewi Bunga Enam.
Mau tidak mau, Siluman Ratu Siluman harus terus mencoba untuk mengatasi Sri Rahayu.
Wuss!
Satu gelombang angin dahsyat, yang panas lagi beracun, dilepaskan oleh Siluman Ratu Siluman. Namun sayang, hasilnya tetap sama. Angin itu tersedot masuk ke dalam kedua telapak tangan Sri Rahayu yang bersinar hijau menyilaukan mata.
Clap!
Kemudian Siluman Ratu Siluman memilih menghilang dari pandangan mata normal. Ia masuk ke alam gaib. Jelas itu langkah sia-sia, karena melihat ke alam gaib adalah salah satu kemampuan Sri Rahayu. Ia bisa dengan jelas melihat Siluman Ratu Siluman yang bergerak cepat ke sana ke sini, berusaha untuk mencari sudut yang tepat guna menyerang Sri Rahayu dari belakang.
Sri Rahayu berdiri diam menghadap ke satu arah, membiarkan Siluman Ratu Siluman berbuat sesukanya.
Pada satu kesempatan, Siluman Ratu Siluman melesat cepat dari sisi atas Sri Rahayu dengan kedua tangan menggenggam sinar merah, yang merupakan ilmu dari Amarah Siluman. Ilmu itu juga dimiliki oleh Sri Rahayu, hanya saja ilmu Amarah Siluman versi guru pasti lebih hebat. (RH)