
*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*
“Apakah kedelapan istrimu masih hidup, Pratakarsa?” tanya Nara kepada Dewa Kematian dengan menyebut nama asli lelaki gagah tua tampan itu.
“Tinggal empat orang,” jawab Dewa Kematian seraya tersenyum.
“Bukankah ilmu Delapan Dewi Bunga membutuhkan delapan orang istri?” tanya Nara yang tidak terganggu dengan kekalahan ilmu bayangannya di tangan Iblis Timur.
“Sejak aku mengetahui bahwa aku memiliki keturunan yang bisa mewarisi ilmu itu, aku sudah tidak mengganti istri yang mati dengan istri baru. Aku ingin hanya ada satu orang yang memiliki ilmu Delapan Dewi Bunga. Dan kelak itu adalah kau, Joko,” jawab Dewa Kematian. “Aku bersyukur, kau akhirnya menjadi salah satu dewi bunga itu, Nara.”
Nara hanya tersenyum satu sudut bibir. Ia lalu melangkah pergi meninggalkan suaminya bersama Dewa Kematian.
“Mari, Joko!” ajak Dewa Kematian kepada cicitnya.
Joko Tenang lalu mengikuti Dewa Kematian. Ia mengajak Joko Tenang pergi ke rumah Ketua Perguruan Bukit Dalam. Mereka hanya menumpang duduk di teras.
“Kakek Buyut, apakah Nara pernah mendapat tawaran menjadi Dewi Bunga?” tanya Joko Tenang.
“Dia salah satu wanita yang aku cintai, tetapi dia tidak bisa berbagi suami. Justru aku terkejut karena tahu kau bisa menaklukkan hatinya,” kata Dewa Kematian.
“Ada situasi yang memaksanya dan menaklukkan hatinya, tapi tidak bisa aku ceritakan,” kata Joko Tenang.
“Sudah berapa calon dewi bungamu?” tanya Dewa Kematian.
“Tujuh orang. Menurut ramalan Malaikat Serba Tahu, calon dewi kedelapan ada di Jurang Lolongan ini,” jawab Joko Tenang.
“Ki Rawa Banggir memiliki beberapa anak gadis yang cantik jelita dan berkesaktian layak untuk Dewi Bunga, mungkin salah satunya adalah gadis yang dimaksud Malaikat Serba Tahu,” kata Dewa Kematian.
“Sehebat apa sebenarnya ilmu itu?” tanya Joko.
“Delapan Dewi Bunga bukanlah ilmu yang tersakti, tetapi itu sangat sulit dikalahkan oleh ilmu apa pun. Selama aku menguasai ilmu itu, aku belum pernah terkalahkan,” jawab Dewa Kematian.
“Apakah ilmu itu bisa mengalahkan pemilik pusaka Tongkat Jengkal Dewa?” tanya Joko.
Agak mendelik Dewa Kematian mendengar pertanyaan yang membawa nama pusaka sakti yang sedang diperebutkan di Gua Lolongan.
“Belum pernah diadu, tetapi Delapan Dewi Bunga memiliki sifat yang beragam yang mungkin saja bisa mengatasi kesaktian pemilik pusaka itu. Pokok dari kesaktian Tongkat Jengkal Dewa adalah membuat pemiliknya kebal terhadap seluruh jenis kesaktian, tapi tidak memberinya kesaktian baru selain kekebalan. Kesaktian lain hanya ada pada pusaka itu sendiri. Bagaimana kau menanyakan hal itu, sedangkan kau orang yang bisa memiliki pusaka itu?”
“Kakek Buyut tahu?”
“Pusaka itu hanya bisa disentuh oleh si bibir merah seperti dirimu, dari keturunan Ratu Bibir Darah. Bibir merah yang alami, bukan yang bergincu,” kata Dewa Kematian.
“Tetapi, pusaka itu telah dimiliki oleh adik tiriku, seorang gadis berbibir merah,” kata Joko Tenang.
“Oh, seperti itu ya. Hmm, kau tinggal merebut pusaka itu. Sebab pusaka itu tidak akan menyengatmu sebagai pewaris,” kata Dewa Kematian. “Lalu di mana istri-istrimu?”
“Satu orang aku tinggal di Istana untuk mengurus kerajaan. Dia sedang hamil, aku sangat khawatir. Yang lainnya pergi menertibkan kekacauan yang akan dibuat oleh orang-orang Kerajaan Siluman. Adikku akan menggunakan pusaka Tongkat Jengkal Dewa untuk membuat kekacauan,” jawab Joko Tenang.
“Maksudmu, adik tirimu itu adalah orang Kerajaan Siluman?” terka Dewa Kematian.
“Benar. Dia anak haram, Kakek Buyut.”
“Apa? Jadi….”
“Raga Sata. Akan aku datangi dia karena telah merusak silsilah keluarga Dewa Kematian!” desis Dewa Kematian mengandung dendam. Ia bicara dengan gigi tetap rapat saling menekan.
“Tapi, Raja Kerajaan Siluman itu sudah mati, dibunuh oleh Ayahanda,” ujar Joko Tenang.
“Oh. Kenapa anak itu tidak langsung melapor kepadaku setelah membunuh Raga Sata?” keluh Dewa Kematian.
“Tapi kematiannya tidak menghentikan rencana besar Kerajaan Siluman,” kata Joko Tenang.
“Siapa yang kini menggantikan kedudukan Raga Sata?”
“Jin Gurba.”
“Hmm, sepertinya Kerajaan Siluman akan bertindak lebih kejam lagi. Aku pernah bertarung sekali dengan Jin Gurba dan dia kalah, tetapi dia berhasil menyelamatkan diri. Kesaktiannya sangat sulit diatasi,” kata Dewa Kematian.
“Apakah itu menunjukkan bahwa dunia persilatan akan memasuki masa kelamnya?” tanya Joko Tenang.
“Tidak jika aliran putih bersatu dan memiliki komando yang jelas. Joko, kini kau adalah pendekar yang didukung oleh berbagai kekuatan. Sebagai raja kau memiliki wilayah, kekayaan dan tentara. Sebagai pendekar kau memiliki kesaktian dan didukung oleh istri-istri yang sakti. Orang-orang terdekatmu pun adalah orang-orang sakti dan disegani seperti Tiga Malaikat Kipas, Ki Ageng Kunsa Pari hingga Dewa Kematian. Turuti kata-kata kakek buyutmu ini. Jika dalam pertemuan nanti para tokoh sepuh menurunkan tugas kepadamu, kau tidak boleh menolaknya.”
“Baik, Kakek Buyut.”
“Jika pusaka yang diperebutkan di Gua Lolongan adalah Tongkat Jengkal Dewa, lebih baik kau segera pergi ke sana untuk menghindari banyaknya korban dan istri-istrimu menemui kematian,” kata Dewa Kematian.
“Apa?” kejut Joko Tenang.
“Kita tidak tahu apa yang direncanakan oleh adik tirimu itu dengan Tongkal Jengkal Dewa. Yang jelas, sesakti apa pun istri-istrimu, mereka tidak akan bisa mengalahkan pemilik Tongkat Jengkal Dewa. Jadi hanya kau yang bisa menyelesaikan kekacauan di sana,” kata Dewa Kematian.
“Baik, Kakek Buyut,” ucap Joko Tenang patuh.
“Pergilah sekarang. Biarkan aku yang menjelaskannya kepada Tiga Malaikat Kipas. Biarkan Nara di sini sebagai wakilmu. Ingat, jika kalian memang tidak bisa mengatasi pemilik Tongkat Jengkal Dewa, jangan memaksakan diri, segera mundur dan datanglah ke mari!” perintah Dewa Kematian.
“Baik, Kakek Buyut,” ucap Joko lagi.
“Pergilah!” perintah Dewa Kematian lagi.
Joko Tenang lalu menjura hormat kepada Dewa Kematian. Setelah itu dia melangkah bergegas menuju rumah panggung panjang tempat Dewi Mata Hati berada.
“Dewi Mata Hati ada di kamar nomor empat belas, Pendekar,” kata murid perguruan yang berjaga di dekat tangga. Ia mengetahui Joko tadi bersama Dewi Mata Hati sebelum Dewa Kematian muncul.
Joko Tenang segera naik ke atas rumah dan melangkah di lorong depan sepuluh kamar yang berjejer. Pada kamar nomor empat belas, Joko Tenang berhenti dan mengetuk.
Namun, belum lagi jari itu mengenai daun pintu kamar, pintu sudah terbuka dengan sendirinya.
“Aku diperintahkan oleh Dewa Kematian untuk segera pergi ke Jurang Lolongan!” ujar Joko kepada Nara yang sedang duduk bersila di atas kasur.
“Aku ikut Kakang Prabu,” kata Nara.
“Tidak, kau tetap di sini untuk menjaga jika aku tidak kembali hingga nanti malam. Kau akan mewakiliku jika itu terjadi,” kata Joko Tenang.
“Baiklah, Kakang. Hati-hatilah, aku menunggu Kakang Prabu di sini!” kata Nara.
Joko Tenang lalu merangsek dan mengecup bibir istrinya itu dengan lembut dan sedikit permainan lidah, membuat Nara menikmati. Selanjutnya, mereka berpisah, tidak bersatu. (RH)