8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Darah Keras 22: Tantang Satu-Satu


*Darah di Kerajaan Siluman (Darah Keras)*


“Aku ambil Lemak Iblis!” kata Setan Ngompol. Sepertinya ia merasa sepadan dengan Lemak Iblis karena sama-sama gemuk.


“Biar aku yang mengurus Ki Bandel Perawan,” kata Nenek Rambut Merah lalu melangkah maju ke arah Ki Bandel Perawan.


“Silakan Gusti Prabu terus masuk!” kata Setan Ngompol.


“Aku percayakan kepada kalian!” kata Anjas lalu lanjut berjalan pergi meninggalkan ruangan itu.


Namun, ketika baru meninggalkan ruangan besar itu, Anjas dan Ratu Sri Mayang Sih berpapasan dengan Mahapatih Datuk Bibir Kuning dan Raja Tanpa Istana. Di belakang kedua orang itu ada puluhan prajurit.


Petra Kelana manggut-manggut melihat keberadaan Raja Tanpa Istana.


“Hormatku, Gusti Ratu Sri,” ucap Mahapatih Datuk Bibir Kuning. Ia masih menghormati mantan junjungannya.


“Aku menyarankanmu untuk tidak terlibat, Datuk Bibir Kuning,” kata Ratu Sri Mayang Sih.


“Jika itu bisa hamba lakukan, tentu aku akan melakukannya. Namun, maafkan hamba, Gusti Ratu. Hamba tidak punya pilihan lain,” kilah Datuk Bibir Kuning.


“Kami tidak membawa prajurit, biarkanlah para prajurit itu tidak terlibat!” kata Anjas.


“Baiklah. Aku yakin, seribu prajurit pun tidak akan bisa menghentikan kalian,” kata Datuk Bibir Kuning. Lalu perintahnya kepada para prajurit di belakangnya, “Prajurit, jangan ikut menyerang!”


“Wajah kuning dan bibir kuning, tentunya akan menjadi lawan yang cocok,” kata Bidadari Wajah Kuning menantang Datuk Bibir Kuning.


“Bagaimana denganmu, Raja Tanpa Istana? Apakah aku lawan yang pantas untukmu, atau aku terlalu sakti bagimu?” tanya Petra Kelana.


“Lama tidak bertarung dengan lawan sakti sepertimu, Petra Kelana. Dengan senang hati, meski aku tidak yakin untuk menang,” kata Raja Tanpa Istana.


“Hahaha! Kau memang orang jahat yang rendah hati, bertemu denganku yang murah hati!” kata Petra Kelana. Lalu katanya kepada Anjas, “Silakan berlalu, Gusti Prabu!”


Anjas mengangguk.


Menarik. Mahapatih Datuk Bibir Kuning membuka jalan bagi Anjas dan Ratu Sri Mayang Sih serta empat pengawalnya. Ia bahkan tetap menjura hormat.


Namun, setelah meninggalkan tempat itu, Anjas dan Ratu Sri Mayang Sih rupanya telah ditunggu oleh tiga orang pendekar tanpa ada pasukan prajurit. Mereka menunggu di koridor sisi taman tengah Istana. Taman itu minim bunga, lebih banyak batu-batu besar yang memberi kesan seni alam yang unik.


Ketiga pendekar yang menunggu mereka adalah Ropo Bunang yang berjuluk Dedemit Bukit Lumut, Guru Peri Setan dan Putri Mata Merah.


“Waktunya kita bertarung, Sayang,” kata Anjas kepada Ratu Sri Mayang Sih.


“Selama aku bertarung bersamamu, aku tidak akan pernah gentar, sama seperti aku tidak pernah gentar untuk menggodamu,” kata Ratu Sri Mayang Sih.


“Hahaha!” tawa Anjas pelan. Lalu katanya kepada Dua Putri, “Putri Embun, Putri Pelangi, lindungi Ratu!”


“Baik, Gusti Prabu!” ucap kedua pengawal cantik itu bersamaan.


Anjas lalu melesat langsung memilih lawan. Ia mendatangi Ropo Bunang yang langsung menyambut dengan kesaktiannya.


Melihat rekan mereka sudah diserang, Guru Peri Setan juga melesat menyerang Pangeran Basah dan Pangeran Mayat sekaligus.


Sementara Putri Mata Merah datang kepada Ratu Sri Mayang Sih dengan lesatan dua sinar merah melengkung. Putri Embun dan Putri Pelangi cepat maju menangkis kedua sinar merah itu.


Blar blar!


Putri Embun dan Putri Pelangi buru-buru bangkit berdiri.


“Sepertinya aku harus bertarung bersama kalian,” kata Ratu Sri Mayang Sih. Jika lawan mereka lebih kuat, tentunya harus dikeroyok.


Sementara di tempat lain, Joko Tenang tidak sulit untuk menemukan Ratu Aninda Serunai.


Kini, Joko Tenang dan Sri Rahayu telah di kepung oleh ratusan Pasukan Pengawal Ratu yang berseragam putih-putih. Para prajurit itu bersenjatakan pedang.


Selain Pasukan Pengawal Ratu, Ratu Aninda Serunai juga dikawal oleh Siluman Satu Rupa dan Siluman Ratu Siluman.


“Pendekar yang penuh keberuntungan!” kata Ratu Aninda Serunai saat bertemu tatap muka dengan kedua kakak tirinya. “Tidak aku sangka kakak bibir merahku tidak mati saat jatuh ke jurang. Benar-benar beruntung. Aku merasa hari ini kau lebih sakti daripada sewaktu di Gua Lolongan.”


“Aku hanya ingin mengambil pusaka milikku yang kau ambil, Aninda. Jika Tongkat Jengkal Dewa sudah ada di tanganku, maka aku tidak akan mempersoalkanmu. Biarkan para pendekar aliran putih atau Ibunda Ratu Sri Mayang Sih yang mengurusmu,” ujar Joko Tenang.


“Hihihi…!” tawa Ratu Aninda Serunai. “Kakakku yang tampan dan kakakku yang cantik, kalian harus bisa menerima kenyataan yang ada. Aku beri satu kemurahan hatiku kepada kalian berdua, kakakku. Pergilah sekarang juga agar aku tidak membunuh kalian langsung!”


Joko Tenang tidak mengindahkan perkataan Ratu Aninda Serunai. Ia justru berseru kepada seluruh orang yang ada di aula utama Istana Siluman itu.


“Aku hanya berurusan dengan ratu kalian. Jika ada yang turut campur, jangan salahkan aku jika harus menurunkan tangan kejam!”


“Aku ingin melihat bukti ancamanmu itu,” kata Ratu Aninda Serunai. Lalu perintahnya kepada Siluman Satu Rupa, “Kenang Indah, Kenang Hati, habisi lelaki itu!”


Terkejut kedua gadis cantik kembar yang berdiri di belakang Ratu Aninda Serunai. Sri Rahayu menatap tajam keduanya. Namun, tanpa menunggu perintah kedua kali, keduanya segera melompat maju ke dalam formasi pengepungan. Mereka berdua berdiri di hadapan Joko Tenang dan Sri Rahayu.


“Pergi cari dan lindungi Ratu Sri!” perintah Sri Rahayu kepada kedua gadis di depannya, yang merupakan pengawal pribadinya sebelum kemudian diambil alih oleh Aninda Serunai.


“Baik, Gusti Putri!” ucap keduanya seraya menjura hormat kepada Sri Rahayu.


Alangkah terkejutnya Ratu Aninda Serunai dan Siluman Ratu Siluman melihat pengkhianatan terbuka yang dilakukan oleh Siluman Satu Rupa.


“Siluman Satu Rupa!” teriak Ratu Aninda Serunai menggelegar penuh kemarahan.


Namun, sebelum sang ratu muda melakukan suatu tindakan penghukuman, Kenang Indah dan Kenang Hati sudah melesat cepat seperti Si Landak Sonic. Beberapa prajurit yang mengepung tahu-tahu terpental keras ke udara karena tertabrak oleh kedua gadis kembar itu.


“Aku tidak akan melepaskan mereka berdua!” teriak Aninda Serunai murka.


Sri Rahayu hanya tersenyum tipis melihat kemarahan Aninda Serunai.


“Semua prajurit yang ingin selamat dari kematian, mundur!” perintah Sri Rahayu, seiring ia mulai melakukan fogging asap merah beracun.


Semua prajurit seketika terkejut, sebab mereka tahu bahwa asap itu benar-benar beracun.


“Mundur! Munduuur!” teriak Siluman Lima Tali, Panglima Pasukan Pengawal Ratu. Ia lebih mementingkan nyawa para prajuritnya.


Siluman Ratu Siluman tidak panik, karena ia memiliki cara sendiri untuk mengatasi asap racun itu. Sementara Joko Tenang dan Ratu Aninda Serunai kebal terhadap racun apa pun.


Akhirnya, tinggallah mereka berempat yang ada di aula utama itu, karena semua prajurit telah mundur meninggalkan tempat itu.


“Guru, bunuh Putri Sri Rahayu!” perintah Ratu Aninda Serunai.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Siluman Ratu Siluman patuh. (RH)