
*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*
Lima wanita berpakaian serba hitam melesat berlari di udara. Kelimanya mengenakan topeng kayu hitam yang menutupi wajah bagian bawahnya, dari hidung hingga dagu. Kelimanya mendarat di mulut gua.
Wusss!
Namun, tiba-tiba segulung angin keras menderu dari dalam gua dan menyerang mereka. Kelimanya bergerak cekatan dengan cara berlindung di balik dinding bibir gua.
Setelah angin itu berlalu, mereka langsung melesat masuk ke dalam gua. Di dalam gua yang hanya punya satu ruangan, mereka langsung mengepung posisi seorang kakek yang baru saja melepaskan angin pukulan. Kakek itu adalah Ki Ageng Kunda Poyo.
Duk! Wess!
Si kakek mengetuk lantai gua dengan ujung tongkat berkepala nanasnya. Satu gelombang tenaga sakti seketika melesat menyebar. Kelima wanita itu kompak melompat ke udara menghindari gelombang tenaga yang menjalar cepat di lantai.
Dadar dadar…!
Ledakan beruntun terjadi di sekeliling Ki Ageng Kunda Poyo, bertepatan ketika kelima wanita itu berada di udara.
“Ki Ageng Kunda Poyo!” sebut seorang wanita. Namun, suara itu bukan milik salah satu dari kelima wanita bertopeng.
Ki Ageng Kunda Poyo yang disebut namanya agak terkejut, karena ia tidak merasakan kedatangan satu wanita lagi. Tahu-tahu wanita itu sudah masuk ke dalam gua.
Wanita yang baru masuk adalah seorang gadis cantik jelita berpakaian serba ungu. Gadis berwajah bulat itu berhidung mancung dengan bibir yang berwarna merah terang tapi tanpa gincu. Rambutnya sebahu yang diperindah dengan dua hiasan jepit rambut dari emas beruntai berlian. Kecantikannya semakin mengundang nafsu dengan kumis yang sangat halus di atas bibirnya. Pakaiannya memiliki sayap tebal di belakang.
Lebih terkejut kakek yang bernama Ki Ageng Kunda Poyo ketika melihat paras cantik wanita itu, terlebih ketika memastikan bahwa bibir gadis itu merah natural.
“Siapa kau? Kenapa kau mirip sekali dengan Ningsih Dirama?” tanya Ki Ageng Kunda Poyo. Ia pernah bertemu dan akrab dengan Ningsih Dirama sebelum ia direkomendasikan sebagai calon selir dari Prabu Raga Sata.
“Aku putrinya, Ki Ageng. Namaku Putri Aninda Serunai. Mungkin Ki Ageng sudah bisa menerka apa tujuanku,” ujar wanita cantik itu.
Mendelik terbelalak Ki Ageng Kunda Poyo. Jika yang datang adalah keturunan dari Ningsih Dirama, pasti tujuan utamanya adalah mengambil pusaka milik leluhurnya, yaitu Tongkat Jengkal Dewa.
“Aku memang menunggu ahli waris dari Tongkat Jengkal Dewa, tetapi bukan kau yang aku tunggu selama ini,” kata Ki Ageng Kunda Poyo.
“Setahu aku, siapa pun keturunan dari Ratu Bibir Darah, dia berhak memiliki pusaka itu. Aku tahu risiko bahaya bagi siapa yang menyentuh pusaka itu, tetapi aku sebagai keturunan Ratu Bibir Darah berhak mencobanya,” kata Putri Aninda Serunai dengan tenang. “Jika Ki Ageng tidak memberikan jalan, terpaksa aku akan mengambilnya dengan cara yang lancang.”
“Kau harus menundukkan aku terlebih dulu, Nak!” tegas Ki Ageng Kunda Poyo
“Baiklah, Ki Ageng. Dengan senang hati,” kata Putri Aninda Serunai. Lalu perintahnya kepada kelima wanita bertopeng, “Lima Siluman Topeng, tekuk lutut tua Ki Ageng!”
“Siap!” teriak kelima wanita bertopeng itu serentak.
Tap!
Serentak kelimanya maju sekali lompatan mendekati Ki Ageng Kunda Poyo, tetapi mereka cepat mundur kembali. Ternyata mereka menciptakan satu jejak kaki di sekeliling Ki Ageng Kunda Poyo. Jejak kaki itu berupa cahaya kuning menyala.
Sezz!
Tiba-tiba dari jejak kaki bercahaya itu melesat sinar kuning lurus panjang hingga menyentuh langit-langit gua. Terwujudlah lima tiang sinar yang mengepung Ki Ageng Kunda Poyo, tetapi tidak memenjarakan, karena tiang satu dengan lainnya ada jarak yang renggang.
Duk! Wess!
Dadar dadar!
Ki Ageng Kunda Poyo kembali mencoba mengetuk lantai gua dengan ujung tongkatnya. Satu gelombang tenaga sakti seketika melesat menyebar. Kelima wanita bertopeng itu kompak melompat ke udara, menghindari gelombang tenaga yang menjalar cepat di lantai.
Ledakan beruntun terjadi di sekeliling Ki Ageng Kunda Poyo, bertepatan ketika kelima wanita itu berada di udara.
Sret! Sret!
Sambil melompat menghindari gelombang dilantai. Topeng Satu dan Topeng Dua kompak melesatkan sinar merah tanpa putus berwujud rantai besar. Kedua ujung rantai sinar merah itu lewat di cela antar tiang sinar, menyerang diri Ki Ageng.
Ki Ageng melejit naik lurus ke udara, membuat ujung sinar itu melilit pada tiang sinar.
Sret! Sret!
Trak! Blar!
Topeng Tiga dan Topeng Empat melesatkan serangan serupa dengan kedua rekannya, menargetkan tubuh Ki Ageng di udara. Menggunakan tongkatnya, Ki Ageng menepis satu rantai sinar dan tangan kirinya mengadu dengan sinar biru terang, meledakkan ujung rantai sinar lainnya.
Ketika tubuhnya hendak meluncur turun, Ki Ageng Kunda Poyo terkejut saat melihat di bawah yang sudah tercipta jaring rantai sinar merah yang dianyam antartiang sinar kuning. Jika Ki Ageng turun, pastilah ia akan menginjak rantai sinar yang terbentang di atara tiang sinar.
Ki Ageng Kunda Poyo melesatkan satu sinar hijau berpijar berputar. Ilmu Paksa Hancur itu mengenai titik tengah persilangan rantai-rantai sinar merah di bawah sana. Rangkaian rantai sinar merah itu berhancuran lalu hilang, lantai gua bahkan berlubang kering.
Sress!
Namun, pada saat yang sama dengan ledakan, tahu-tahu dari atas kepala Ki Ageng Kunda Poyo melesat jala sinar merah. Serangan dari atas itu dilakukan oleh Topeng Lima. Serangan itu mengejutkan Ki Ageng.
Wuut wuut!
Ki Ageng Kunda Poyo melemparkan tongkat nanasnya ke atas untuk menghalau jaring sinar merah. Dan itu berhasil melempar jaring sinar merah ke samping.
Sret! Sret! Sret…!
Pada saat bersamaan pula, empat ujung rantai sinar merah melesat dari luar kurungan tiang sinar kuning, menyerang sebelum kaki Ki Ageng menyentuh lantai gua.
Blar! Blar!
Crek! Crek!
“Akk!”
Karena tidak bisa menghindar, Ki Ageng Kunda Poyo meledakkan dua ujung rantai sinar merah dengan sinar biru terang pada kedua pukulannya.
Namun, dua ujung rantai sinar merah lainnya berhasil melilit kedua kaki Ki Ageng. Ternyata lilitan rantai sinar merah itu mengandung panas yang tinggi. Jeratan pada kakinya membuat Ki Ageng menjerit karena merasakan kulit kakinya langsung terbakar.
Blar! Blar!
Dengan cepat Ki Ageng meledakkan kedua rantai sinar yang menjerat kakinya dengan sinar biru terang.
Sress!
Lagi-lagi dari atas kepala melesat cepat jaring sinar merah. Tongkat kepala nanas KI Ageng sudah disingkirkan oleh Topeng Lima.
Bang!
Ki Ageng cepat melesat untuk keluar dari kurungan formasi tiang sinar kuning, yang membatasi ruang geraknya. Namun, alangkah terkejutnya Ki Ageng, ia menabrak dinding yang tidak terlihat antara tiang sinar.
Seperti kucing menabrak dinding kaca bening, begitulah nasib Ki Ageng Kunda Poyo. Ia terjengkang dan jala sinar merah langsung menciduknya.
Namun, sebelum jala itu membakar dirinya, Ki Ageng cepat melindungi dirinya dengan ilmu pelindung yang bernama Telur Pertapa. Tubuh Ki Ageng kini dibungkus oleh lapisan sinar hijau muda seperti sebuah cangkang telur raksasa. Dengan adanya cangkang sinar hijau itu, tubuh Ki Ageng tidak terkena langsung oleh jaring sinar merah yang bisa membakar.
Sreet! Sreet!
Dua ujung rantai sinar merah menyusul melesat dan kian melilit tubuh Ki Ageng Kunda Poyo, membuatnya semakin tidak berkutik.
Sementara itu, Putri Aninda Serunai yang sejak tadi tidak memeperhatikan pertarungan itu, kini berhenti menghadap kepada sebuah dinding gua yang agak dalam. Sejak tadi ia mencoba meraba-raba di mana kira-kira pusaka Tongkat Jengkal Dewa disimpan.
Melihat Putri Aninda Serunai berdiri di sana, mendelik terkejut Ki Ageng Kunda Poyo.
Bluar!
Tanpa berpikir lama, Putri Aninda Serunai menghentakkan lengan kanannya. Tanpa ada sinar ilmu yang terlihat, tahu-tahu dinding di depannya hancur hebat, menciptakan lubang besar pada dinding gua.
“Oh!” desah Putri Aninda Serunai saat melihat, ternyata di balik dinding itu ada rongga berukuran sedang.
Di dalam ruang kecil itu tampak sebuah benda merah berwujud silinder, berdiri miring bersandar pada dinding.
“Inikah pusaka Tongkat Jengkal Dewa itu, Ki Ageng?!” tanya Putri Aninda Serunai seraya berteriak kepada Ki Ageng.
Belum lagi Ki Ageng Kunda Poyo menjawab, Putri Aninda Serunai sudah bergerak maju meraih benda sepanjang sejengkal itu.
Zreeet!
Tiba-tiba ada aliran sinar merah yang menjalari tubuh sang putri, ketika tangan kanannya menggenggam erat benda yang memang adalah pusaka Tongkat Jengkal Dewa. Aliran sinar itu menjalari tubuh Putri Aninda Serunai lalu meresap masuk.
“Ekkh!” jerit Putri Aninda Serunai karena merasakan seluruh isi tubuhnya tersengat, membuatnya kejang sejenak, karena sengatan itu hanya dua detik. Setelah itu terasa sejuk tubuh sang putri.
Ki Ageng Kunda Poyo hanya bisa terkejut tanpa bisa berkata apa-apa lagi.
“Terima kasih, Ki Ageng. Pusaka ini kini menjadi milikku!” ucap Putri Aninda Serunai lalu ia berjalan cepat menuju ke mulut gua untuk pergi.
Lima Siluman Topeng yang berhasil melumpuhkan tokoh sakti selevel Ki Ageng Kunda Poyo, segera pergi mengikuti tuannya. (RH)