
*Bibir Merah Pendekar (BMP)*
“Gurudi! Jangan lancang kepada Prabu Dira!” bentak Putri Sri Rahayu marah.
“Hah! Pepepe… Perabu Dira?”
Gurudi yang awalnya tertawa-tawa jadi terkejut. Ia tidak tahu bahwa Joko Tenang memiliki nama lain dan statusnya sebagai seorang raja.
“Ayo minta maaf kepada Prabu Dira dan Permaisuri Tirana!” perintah Putri Sri Rahayu.
“Tititi… tidak! Dia Jojojo… Joko, bukan rarara… raja! Hihihik!” tandas Gurudi.
“Ini memang Joko, tapi dia juga Prabu Dira!” tegas Putri Sri Rahayu.
“Oh, hihihik!” Gurudi hanya tertawa.
“Bagaimana kau bisa kenal namaku, Gurudi?” tanya Joko Tenang curiga.
“Hihihik! Jojojo… Joko kenal nanana… namaku!” sorak Gurudi sambil tertawa-tawa girang. Ia melompat-lompat kecil di tempatnya, sangat persis dengan tingkah anak kecil, meski hanya fisiknya yang setara dengan anak kecil.
“Kau belum menjawab pertanyaanku, Gurudi,” kata Joko Tenang.
“Kakaka… karena aku pupupu… punya rahasia tentangmu. Hihihik…!” jawab Gurudi girang. “Ayo ikut aku, Jojojo… Joko!”
“Aku harus istirahat untuk bertarung melawan Raksasa Biru,” kata Joko Tenang menolak secara halus.
“Ini pepepe… penting sekali, Joko!” tandas Gurudi.
“Kembalilah, Gurudi! Jangan ganggu Prabu Dira!” perintah Putri Sri Rahayu lalu melangkah pergi meninggalkan Gurudi.
Joko dan Tirana segera mengikuti Putri Sri Rahayu.
“Joko Joko Joko! Ayo….”
“Gurudi, sekali lagi kau bersuara dan lancang, aku hukum kau!” bentak Putri Sri Rahayu mengancam, memotong perkataan Gurudi.
Gurudi akhirnya merengut. Tawanya hilang sudah. Namun, ia tetap mengikuti ketiga orang muda tersebut. Putri Sri Rahayu membiarkannya.
Tidak berapa lama, mereka akhirnya tiba di sebuah ruangan batu besar, tetapi memiliki fasilitas layaknya sebuah ruangan rumah dengan dekorasi indah dan perlengkapan mewah. Di salah satu sudut ada ruangan bertirai merah tertutup yang di dalamnya ada tempat tidur dan perlengkapannya.
“Gurudi, pergilah! Prabu Dira mau istirahat!” perintah Putri Sri Rahayu saat di pintu ruangan yang ada dua orang prajurit Istana berjaga.
“Tapi, Joko. Kau hahaha… harus ikut aku!” kata Gurudi, benar-benar serius.
“Biarkan Permaisuri Tirana yang ikut denganmu, Gurudi. Sebab ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan Putri,” kata Joko Tenang.
“Jika kau tidak suka aku ikut denganmu, maka tidak akan ada yang ikut denganmu,” kata Tirana pula.
“Iya iya iya. Dengan Permaisuri Tirana saja. Hihihik!” jawab Gurudi setelah diam berpikir sejenak. Gurudi kembali tertawa, menunjukkan hatinya kembali hidup.
Tirana pun tersenyum, senang melihat keceriaan Gurudi yang kembali hadir.
“Ayo, Gurudi!” ajak Tirana sambil menarik tangan lelaki kecil itu masuk ke dalam ruangan, bukannya pergi meninggalkan ruangan.
Gurudi mendelik tanpa berteriak karena ditarik masuk ke dalam ruangan. Ia mengikuti saja mau Tirana.
“Kita diawasi!” bisik Tirana kepada Gurudi.
Gurudi akhirnya mengerti. Ia pun tidak menolak di tarik oleh Tirana.
Bress!
Di dalam, Tirana melepas ilmu Lorong Laba-Laba-nya ke dinding ruangan. Ia langsung menarik lompat Gurudi masuk ke dalam sinar jaring laba-laba yang durasi tampilnya sangat singkat. Keduanya masuk menghilang ke dalam jaring sinar di tembok.
Joko Tenang dan Putri Sri Rahayu lalu masuk pula ke dalam ruangan dan menutup pintunya.
Menurut sudup pandang prajurit, tidak mungkin Joko dan Putri Sri Rahayu melakukan “ehem-ehem” di dalam ruang yang tertutup karena tidak ada orang ketiga alias setan, tetapi yang ada adalah pihak kelima. Namun, mereka tidak tahu bahwa dua orang lagi sudah tidak ada di ruangan itu, yang artinya akan ada orang ketiga alias setan.
Jika sepasang kekasih sudah tinggal berdua di dalam ruang tertutup, segala sesuatu bisa saja terjadi, terlebih salah satunya sudah pengalaman dan profesional dalam bercinta.
Tirana dan Gurudi tahu-tahu muncul dari dalam sebuah dinding setelah muncul jaring sinar merah. Tidak ada prajurit yang berjaga atau berkeliaran di tempat mereka muncul.
“Hihihik!” tawa Gurudi cekikikan pelan karena menahan suara tawanya.
Gurudi sejenak memperhatikan tempat itu guna mengenalinya.
“Ayo ikut, Tititi…. Tirana!” ajak Gurudi jadi gantian menarik tangan Tirana, seperti anak menarik tangan ibunya. “Aku tatata… tahu jalan rahasia.”
Pada sebuah sudut tembok yang sepi, Gurudi masuk begitu saja ke dalam tembok. Tirana mengikuti. Tembok itu hakikatnya adalah pintu kosong tanpa tembok. Siapa pun bisa masuk ke dalam tembok yang tampilannya hanya ilusi yang tampak nyata. Sudut tembok itu letaknya memang akan jarang didekati oleh manusia, karena itu adalah sudut buntu. Hanya orang-orang yang tanpa sengaja bersandar pada sudut tembok itu yang akan masuk. Gurudi sendiri tahu pintu itu dari Nganinem, pelayan senior di dapur Istana.
Kini Tirana dan Gurudi berada di dalam sebuah lorong batu yang gelap dan remang-remang. Ada bagian yang gelap, ada bagian yang remang-remang karena hanya diterangi oleh obor batu berapi kecil, letak obor pun teratur masing-masing dalam jarak tertentu.
“Gurudi, siapa kau sebenarnya?” tanya Tirana.
“Pamannya Jojojo… Joko. Hihihik!” jawab Gurudi lalu tertawa.
“Pamannya?” kejut Tirana tidak percaya.
“Hihihik! Kakaka… karena dulu aku yang dididi… dikencingi oleh Jojojo… Joko! Hihihik!”
“Berarti kau tahu ibu Kakang Prabu?” tanya Tirana cepat.
“Hihihik…!” Gurudi justru tertawa panjang.
“Tertawamu menunjukkan bahwa kau memang tahu tentang ibu Kakang Prabu.”
“Aku mau pepepe… pertemukan Joko dengan ibunya.”
“Apa?!” kejut Tirana, sampai-sampai ia berhenti melangkah.
“Ayo!” Gurudi kembali menarik tangan Tirana.
“Adanya pengawasan membuat Kakang Prabu tidak bisa bebas, biarkan aku yang nanti menyampaikannya,” kata Tirana.
Mereka berjalan lebih cepat.
“Bagaimana bisa kedua orangtua Joko berpisah, Gurudi?”
“Pepepe… Perabu Raga jajaja… jahat!” dengus Gurudi.
“Jadi ada hubungannya dengan Prabu Raga Sata? Atau, selir yang dimaksud Putri Sri Rahayu adalah ibunya Kakang Prabu?” terka Tirana dengan ekspresi wajah yang serius, satu ekspresi yang jarang tergambar di wajah jelita itu.
“Bebebe… betul!”
“Apakah Ibunda Kakang Prabu punya anak dari Prabu Raga Sata?” tanya Tirana bersemangat, seolah takut kehilangan kesempatan.
“Ada, nanana… namanya Putri Aninda Sesese… Serunai!”
“Pantas bibir adik Putri Sri Rahayu juga merah seperti bibir Kakang Prabu,” ucap Tirana. “Sejak melihat Putri Aninda Serunai di Perguruan Tiga Tapak, aku sudah penasaran dengan warna bibirnya.”
Akhirnya mereka bertemu dengan sebuah tembok yang menjadi kebuntuan bagi lorong itu. Namun, Gurudi terus berjalan menabrak tembok di depannya. Tirana pun mengikuti. Sama seperti ketika pertama mereka masuk ke jalan rahasia, mereka tembus masuk begitu saja ke dalam tembok. Tahu-tahu mereka sudah keluar ke satu tempat kosong dan sepi.
Tirana lalu mengikuti Gurudi yang mengetahui jalan yang harus diambil.
Tanpa menemui kesulitan, keduanya akhirnya tiba di depan Istana Terlarang.
“Tititi… Tirana tidak bisa mamama… masuk. Istana Tetete… Terlarang dibungkus pagar gagaga… gaib. Tututu… tunggu di sini, aku akan papapa… panggilkan Ningsih ibunya Jojojo… Joko!” kata Gurudi kepada Tirana.
Gurudi lalu berjalan memasuki gapura. Orang yang bisa memasuki Istana Terlarang itu hanya dua orang, yaitu Prabu Raga Sata dan Gurudi.
“Ningsih Ningsih Ningsih!” teriak Gurudi sambil berlari riang menuju ke kolam ikan.
Di pinggir kolam itulah duduk Ningsih Dirama yang sedang memberi makan ikan.
Bress!
Alangkah terkejutnya Ningsih Dirama saat di tanah seberang kolam muncul sinar merah berbentuk jaring laba-laba. Lalu muncullah Tirana.
“Tirana bisa mamama… masuk!” pekik Gurudi terkejut. (RH)