
*Perang Pendekar Sanggana (Pepes)*
Pagi yang indah dan cerah. Prabu Dira Pratakarsa Diwana sedang bersantai di pinggiran dermaga Telaga Fatara. Ia ditemani oleh tiga orang istrinya, yaitu Ratu Getara Cinta, Permaisuri Tirana dan Permaisuri Sri Rahayu.
Selain menikmati hangatnya sinar matahari pagi agar imun tubuh lebih kuat, mereka juga menikmati pemandangan telaga yang indah.
Di sisi lain dari dermaga, terlihat Ratu Puspa, Abna Hadaya, Permaisuri Yuo Kai, dan Permaisuri Sandaria sedang naik ke atas salah satu perahu. Para junjungan itu mau memancing ikan besar. Bersama mereka ada Garis Merak, Kurna Sagepa dan Swara Sesat.
Hidangan pagi Joko Tenang dan para permaisuri adalah pisang goreng tanduk dan kopi hitam pahit.
Dari arah lain muncul pasangan suami istri yang paling bahagia, yaitu Raja Anjas Perjana Langit dan Ningsih Dirama. Keduanya tampil dengan penampilan layaknya sepasang bangsawan besar. Keduanya berjalan sambil bergandengan tangan, seolah sedang berjalan di atas karpet merah sebuah acara penghargaan.
Joko Tenang dan para istrinya segera berdiri menyambut kedatangan kedua orangtua mereka.
Mereka berempat serta para dayang dan Pengawal Prabu menjura hormat kepada ayah dan ibu dari Joko Tenang tersebut. Mulai pagi ini, Joko Tenang memiliki dua pengawal pribadi, yaitu Siluman Angin Api dan Reksa Dipa.
Cukup mengejutkan ketika Joko Tenang memilih Siluman Angin Api sebagai Pengawal Prabu, sebab pendekar wanita itu jelas baru kemarin menjadi musuh yang ingin membunuh siapa pun dari Kerajaan Sanggana Kecil.
Namun akhirnya, pagi ini Siluman Angin Api bisa berdiri sangat dekat dengan Joko Tenang dan para istrinya. Itu bisa terjadi atas jaminan dari Permaisuri Nara.
“Bangunlah!” kata Anjas dengan penuh wibawa.
“Silakan, Ayahanda, Ibunda!” kata Joko Tenang sebagai penguasa tertinggi di istana itu.
Dengan senyum yang selalu mengembang, Anjas dan Ningsih lalu duduk pada kursi kayu yang menghadap ke arah tengah telaga.
“Wah, kopi hitam!” seru Anjas agak terkejut ketika melihat minuman yang terhidang.
“Dan pahit,” kata Joko Tenang.
“Hahaha!” tawa bersama mereka penuh hangat.
Namun, baru saja mereka semua duduk, terlihat kedatangan Ratu Sri Mayang Sih yang dikawal oleh Lima Pangeran Dua Putri yang tampan-tampan dan cantik-cantik. Hanya Pangeran Mayat yang ketampanannya berkurang, karena memiliki bekas luka cakaran dari Macan Penakluk saat mengeroyok Joko Tenang.
Mereka semua kembali berdiri. Senyum mekar terhias pada wajah Raja Anjas dan Ningsih.
Meski dalam hati Ratu Sri Mayang Sih memendam cemburu melihat kemesraan Anjas dan Ningsih, tetapi dia harus tetap tersenyum.
“Selamat datang, calon istriku!” sambut Anjas mesra.
“Hormatku, Ibunda Ratu,” ucap Joko Tenang seraya menghormat secukupnya kepada ibu mertuanya.
“Hormatku juga, Gusti Prabu, Gusti Ratu,” ucap Ratu Sri Mayang Sih pula. Ia pun menghormat kepada Ningsih Dirama, “Hormatku, Gusti Ratu Ningsih.”
Maka berkumpullah anak, ayah, ibu, menantu, dan mertua dalam satu acara, yaitu ngopi hitam santai di pagi hari.
Kedatangan Ratu Sri Mayang Sih ke tempat itu memang karena diundang, sebab mereka akan membicarakan tentang Kerajaan Siluman.
“Dua pasukan siluman sudah ada di pihak kita. Aku rasa itu adalah separuh dari kekuatan Kerajaan Siluman. Namun, menyerang Kerajaan Siluman bukanlah niatku. Aku hanya ingin merebut Tongkat Jengkal Dewa dari adikku,” ujar Joko Tenang memulai perbincangan serius mereka.
“Aku sepakat dengan putraku. Aku lebih memilih untuk menaklukkan pemegang tahta Kerajaan Siluman dengan memenggal kepala,” kata Anjas. “Prabu Dira kini memiliki kesaktian yang sangat tinggi, lebih unggul daripada aku. Menurutku peluang untuk memenggal kepala ular sangat mungkin.”
“Ibunda, Aninda Serunai telah membunuh begitu banyak orang. Betapa banyak pendekar yang menjadi korban di Gua Lolongan. Ia pun mengutus pendekar sakti untuk membunuh para tetua dunia persilatan. Dan kemarin kita mau dibunuh semua dengan mengirim ribuan pasukannya,” kata Joko Tenang lembut.
Sedihlah Ningsih mendengar perkataan putranya. Ia tidak bisa membantah. Faktanya Aninda Serunai memang kejam. Ia tidak menyangka bahwa ia akan memiliki seorang keturunan yang berjiwa iblis seperti Aninda Serunai.
“Tapi aku akan berusaha untuk tidak membunuh adikku, Ibunda,” kata Joko Tenang lembut.
“Berjanjilah, kau tidak akan membunuh Aninda, Joko. Biarkan dia hidup!” kata Ningsih Dirama dengan raut wajah yang sedih.
“Iya, Ibunda. Aku berjanji,” tandas Joko Tenang seraya tersenyum kepada ibunya.
“Jadi, apakah kita akan menyerang Kerajaan Siluman dengan pasukan atau…?” tanya Ratu Sri Mayang Sih.
“Aku tidak dengan pasukan!” jawab Joko Tenang. “Bagaimana dengan Ayahanda?”
“Aku pun tidak dengan pasukan. Ratu, kau memiliki pasukan Siluman Generasi Pertama. Apakah kau akan mengerahkannya untuk menyerang kerajaanmu?” kata Anjas.
“Aku tidak memiliki pasukan. Pasukan Siluman Generasi Pertama adalah milik Permaisuri Sri Rahayu. Aku hanya memiliki Lima Pangeran Dua Putri,” jawab Ratu Sri Mayang Sih.
“Bagaimana denganmu, Permaisuri Asap Racun?” tanya Joko Tenang beralih kepada Sri Rahayu.
“Aku pun tidak akan membawa pasukan. Pasukan Siluman Generasi Pertama adalah para pendekar yang sifatnya lebih cenderung pengumpul berita dan mata-mata. Mereka akan terancam jika harus berhadapan dengan Pasukan Siluman Generasi Puncak. Aku tidak ingin kehilangan satu pun pendekar silumanku. Aku pun akan pergi tanpa pasukan,” jawab Sri Rahayu.
“Siluman Mata Setan belum menemuiku. Berita apa yang dia bawa?” tanya Ratu Sri Mayang Sih kepada putrinya.
“Jin Gurba pergi meninggalkan tahta karena kalah dari Aninda Serunai. Itu menunjukkan bahwa Jin Gurba tetap menjadi ancaman bagi tahta. Aninda memanggil gurunya Siluman Ratu Siluman sebagai penasihat,” kata Sri Rahayu.
“Izinkan hamba bicara, Kakang Prabu,” kata Tirana.
“Silakan, Permaisuri Penjaga,” kata Joko Tenang.
“Sejumlah pendekar memiliki dendam kepada Kerajaan Siluman. Apakah tidak sebaiknya Kakang Prabu menawarkan mereka untuk ikut sama-sama menyerang? Aku merasa terlalu berbahaya jika menyerang Kerajaan Siluman hanya dengan beberapa orang saja, meski kita bermodal kesaktian yang tinggi,” tutur Tirana.
“Memang tidak mungkin mengerahkan pasukan militer biasa, karena pasti hanya akan terbunuh. Namun, akan berbeda jika kita mengerahkan pasukan pendekar,” kata Ratu Getara Cinta pula.
“Aku pun tidak akan mengerahkan pasukan pendekar. Para pendekarku banyak yang terluka ketika bertempur melawan Pasukan Siluman Tingkat Dua. Akan sangat berbahaya jika mereka dipaksakan berhadapan dengan Pasukan Siluman Generasi Puncak yang kesaktiannya lebih tinggi,” kata Joko Tenang. “Tapi mungkin aku akan menawarkan kepada beberapa pendekar yang bukan bagian dari pasukan Sanggana Kecil.”
“Lalu kapan kita akan menyerang?” tanya Anjas.
“Penyerangan ke Kerajaan Siluman aku serahkan kepada Ayahanda, sebab aku tidak termasuk bagian dari penyerangan,” kata Joko Tenang.
“Apa?” kejut Anjas dan Ratu Sri Mayang Sih bersamaan.
“Aku tidak berniat menyerang Kerajaan Siluman. Aku hanya berniat menyerang Aninda Serunai, jadi aku tidak akan masuk dalam rombongan Ayahanda,” jelas Joko Tenang. “Aku akan berangkat besok pagi, karena hari ini aku harus meninjau beberapa pekerjaan.”
“Baiklah, Prabu. Aku memimpin penyerangan. Aku, Ratu Sri, Lima Pangeran Dua Putri. Bagaimana denganmu, Permaisuri Sri?” kata Anjas.
“Aku tetap bersama Kakang Prabu,” jawab Sri Rahayu.
“Baiklah, kita akan tetap berangkat bersama!” kata Anjas memutuskan. (RH)