
*Darah di Kerajaan Siluman (Darah Keras)*
“Jika sampai Kerajaan Siluman sudah takluk dan aku belum mendapatkan cinta Gadis Cadel, aku akan mengaku kalah!” teriak Joko Tingkir mendeklarasikan komitmennya di hadapan rekan-rekannya dan warga Kademangan Binowengi.
Seorang warga wanita kademangan berusia separuh baya yang berjalan bersama dua ekor kambingnya, hanya memandangi Joko Tingkir sejenak. Ia terus berlalu meninggalkan tempat itu sambil mengarahkan dua kambingnya dengan sebatang tongkat bambu kecil.
Wanita pengangon kambing terus pergi ke sisi kumuh Kademangan. Ia tiba di sebuah lingkungan bertanah merah yang cukup becek. Setelah memasukkan dua kambingnya di kandang, wanita itu segera pergi tanpa sandal ke sebuah tempat yang ramai oleh warga lelaki. Mereka sedang berjudi sabung ayam.
Si wanita mendatangi seorang lelaki berkumis yang duduk bersila di balai bambu yang hanya muat untuk satu bokong. Lelaki berusia empat puluhan tahun itu duduk menghadap serius ke arena sabung ayam, yang berupa ring berpagar bilah-bilah bambu setinggi lutut. Di depan silaannya ada mangkok batok kelapa, di dalamnya terkumpul kepeng-kepeng uang taruhan.
Kaum lelaki itu ramai mendukung salah satu dari dua ayam jago yang beradu. Mereka berdiri di luar pagar.
“Hujam pakai tajimu, Jago Tusuk!” teriak pemilik salah satu ayam.
“Beri Tendangan Dari Langit, Kutuk Menang!” teriak lelaki lain pemilik ayam satunya.
Kaum lelaki yang lainnya pun berteriak-teriak kencang. Meski bukan pemilik ayam, tetapi mereka bertaruh uang untuk kemenangan salah satu ayam. Pokoknya ramai deh.
“Talang Bewok!” panggil si wanita pengangon kambing, ia masih membawa kayu bambunya.
Panggilan itu membuat si lelaki di balai menengok. Meski tidak brewokan, tetapi nama Bewok sudah melekat sekuat lem tikus di namanya.
“Ada apa, Rugiyah?” tanya lelaki yang bernama Talang Bewok.
Wanita bernama Rugiyah mendekatkan bibirnya pada telinga Talang Bewok. Itu artinya, ada berita penting. Padahal sudah cukup lama tidak ada berita penting yang berkait dengan pekerjaan rahasia mereka.
“Ada belasan pendekar berkuda di pusat Kademangan. Salah satunya berteriak tentang ‘Jika sampai Kerajaan Siluman sudah takluk’!” bisik Rugiyah.
“Mereka mampir atau sekedar lewat?” tanya Talang Bewok.
“Mereka sedang mampir beristirahat!” kata Rugiyah yang berbisik tetapi setengah berteriak, karena suara tukang sabung ayam begitu berisik.
“Baiklah,” ucap Talang Bewok seraya mengangguk.
Rugiyah lalu melangkah pergi meninggalkan tempat yang tanahnya lembab dan banyak jejak-jejak kaki yang semrawut.
“Bandeng!” teriak Talang Bewok.
“Iya, Ketua Ayam!” sahut seorang pemuda di antara para tukang sabung.
Meski disebut Ketua Ayam, Talang Bewok tidak marah, itu sebutan yang sudah mensosial. Ia memang dikenal sebagai Ketua Sabung Ayam, tetapi ketika disebut, dipersingkat hanya menjadi Ketua Ayam.
Pemuda berbaju hitam tanpa kancing bernama Bandeng, segera datang ke dekat Talang Bewok.
“Gantikan aku. Aku ada urusan penting!” perintah Talang Bewok.
“Siap!” jawab Bandeng laksana ketua kelas.
Talang Bewok lalu bergerak turun dari tahtanya, meninggalkan mangkok batok kelapa beserta uang taruhannya. Bandeng segera menggantikan.
Talang Bewok segera pergi mendatangi sekumpulan pohon pisang. Ia hanya mengambil selembar daun pisang yang ia kupas dengan pisau miliknya. Setelahnya, dia naik ke dalam rumahnya. Istrinya yang sedang memasak di dapur tidak digubrisnya, apalagi digodanya.
Di dalam kamar, ia menulis sesuatu di selembar daun pisang muda menggunakan ukiran ujung pisau. Ternyata dia mengerti tulis baca. Usai menulis, lembaran itu ia gulung dengan hati-hati sehingga membentuk lintingan yang mungil, tapi tidak semungil Sandaria.
Gulungan tersebut dimasukkan ke sebatang bambu kecil pendek yang hanya memiliki satu lubang ujung. Batang bambu kecil kemudian ia selipkan ke balik pakaiannya.
Talang Bewok kembali keluar. Di belakang rumah, ternyata dia memiliki seekor kuda. Tanpa menggunakan pelana, ia naik ke punggung kuda lalu menggebahnya berlari di tanah liat yang mudah menciptakan jejak, terlebih jejak kaki kuda.
Talang Bewok pergi ke ujung Kademangan lalu terus pergi ke sebuah hutan kecil di kaki bukit. Setibanya di hutan, ia terus masuk. Tidak terlalu lama, ia tiba di sebuah pondok kayu yang cukup tersembunyi.
“Pesan untuk Istana!”
Hanya itu kata-kata Talang Bewok kepada Rembang Seto, lelaki gagah penghuni hutan. Ia memberikan potongan bambu kecil berisi lintingan daun pisang yang dibawanya. Setelahnya, Talang Bewok langsung pergi. Tugasnya selesai sebatas itu.
Rembang Seto lalu masuk ke dalam rumah. Di dalam, ia mengeluarkan lintingan daun pisang, tapi tidak membuka gulungannya. Ia kemudian mengambil satu anak panah dari bumbung bambu yang tergantung di tiang rumah. Lintingan daun pisang diikat di batang anak panah.
Setelahnya, Rembang Seto mengambil busur. Dengan berbekal busur dan satu anak panah saja, ia keluar.
“Sayang, aku pergi ke jurang sebentar!” kata Rembang Seto kepada istrinya yang sedang menjemur kulit kijang.
“Iya. Hati-hati, Kakang!” sahut sang istri.
Rembang Seto pergi dengan berlari cepat di antara pepohonan hutan. Tidak butuh waktu lama untuk tiba di sebuah bibir jurang. Di bawah adalah aliran sungai curam. Di seberang adalah sama-sama tebing jurang yang di atasnya berhutan.
Sebagai orang yang banyak menghabiskan hidupnya di hutan, Rembang Seto sudah terbiasa menaiki pepohonan. Dengan cekatan segesit kera, lelaki itu memanjat sebatang pohon hingga ke dahan tertinggi yang kuat menahan berat tubuhnya.
Rembang Seto berdiri gagah di atas dahan. Ia menarik senar busurnya yang sudah dipasang anak panah. Ia mengeker dengan seksama ke arah seberang jurang.
Set!
Anak panah itu melesat jauh, menyeberangi atas jurang sampai ke dalam hutan seberang jurang.
Teb!
Jika panahan biasa umumnya sejauh sekitar seratus meter, tetapi yang ini lebih dari dua ratus meter.
Anak panah itu menancap di sebuah papan persegi empat yang dipaku di ketinggian pohon. Pada papan itu ada gambar buah apel berwarna hitam di tengah-tengahnya. Anak panah menancap tepat di gambar buah apel, menunjukkan kwalitas memanah Rembang Seto.
Suara tancapan anak panah yang keras terdengar oleh seorang lelaki yang sedang memancing di sebuah kolam, tidak jauh dari batang pohon tempat anak panah menancap di atasnya.
Lelaki bercaping berusia separuh abad itu memutuskan menarik kailnya keluar dari air. Tidak ada ikan yang tersangkut di mata kail, kecuali cacing tanah yang belum dimakan. Ia meletakkan pancingnya begitu saja di pinggir kolam yang tidak begitu besar.
Lelaki itu lalu melompat seperti bola bekel yang memantul-mantul ke atas dan terus ke atas. Ia berhenti pada dahan besar, tempat yang membuatnya bisa menggapai anak panah yang menancap cukup dalam. Untuk mencabutnya, ia harus mengerahkan sedikit tenaga dalam.
Setelahnya, ia kembali melompat turun ke dahan demi dahan hingga ke tanah hutan. Ia lanjutkan dengan melesat pergi, menunjukkan ilmu peringan tubuhnya yang cukup tinggi.
Tidak terlalu jauh tempat yang ditujunya. Tempat itu adalah sebuah menara kayu yang tingginya tidak kalah dengan tinggi pepeohonan hutan pada umumnya. Di atas menara ada sebuah busur raksasa yang dipasang kuat pada menara.
Di atas menara tidak ada sesiapa, karena memang hanya dialah penjaga menara itu. Karenanya ia dikenal dengan nama Penjaga Menara Panah.
Ia kemudian memasang sebuah anak panah sebesar tombak pada busur raksasa. Untuk memasangnya, Penjaga Menara Panah harus mengerahkan tenaga dalam agar senar busur tebalnya bisa ditarik maksimal ke titik kuncian. Setelah terpasang, panah itu terkunci tanpa disentuh.
Penjaga Menara Panah kemudian mengikatkan panah kecil yang dibawanya pada batang tombak panah, seperti anak dan emak.
Arah panah tidak perlu diseting lagi, karena setelannya sudah baku.
Ceklek! Set! Tseb!
Ketika Penjaga Menara Panah menarik tuas kecil, maka lepaslah kuncian. Panah raksasa itu melesat sangat jauh dan mendarat di sebuah lahan kosong.
Suara tancapan yang keras, menarik perhatian dua lelaki yang berjaga. Ternyata di tempat itu ada juga sebuah menara yang di atasnya ada alat yang sama.
Panah pembawa pesan itu nanti akan ditembakkan lagi dari menara ke arah lingkungan Istana Siluman.
Seperti itulah salah satu pengiriman pesan rahasia yang bisa memangkas waktu satu hari perjalanan berkuda. (RH)