8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mis Kekar 26: Laporan Super Gawat


*Misteri Kematian Pendekar (Mis Kekar)*


Pertempuran di Jalur Bukit akhirnya selesai yang dimenangi oleh kelompok pendekar pimpinan Prabu Dira Pratakarsa Diwana.


Dengan menggunakan ilmu Dewi Bunga Dua dan kesaktiannya yang lain, Permaisuri Kerling Sukma banyak membunuh prajurit Pasukan Khusus Kerajaan Siluman. Bahkan, dua punggawa pasukan itu mati di tangannya. Dua punggawa lainnya mati di tangan Pangeran Mabuk alias Linglung Pitura dan Putri Cemeti Bulan alias Rara Sutri.


Sementara nenek Surti mati di tangan Nenek Rambut Merah. Ia membalaskan dendam Hantu Kaki Tiga.


Meski tidak kebagian jatah membunuh langsung pembunuh gurunya, Lanang Jagad dan Arya Permana tetap terpuaskan bisa menyaksikan empat mayat Lima Siluman Putih.


Joko Tenang harus kehilangan nyawa dua pendekar Pasukan Hantu-nya dan lima prajurit berkudanya.


Hingga pertempuran di kaki bukit itu selesai, Joko Tenang tidak turun tangan, serupa dengan Gadis Cadar Maut dan adiknya, Tembangi Mendayu.


Kerling Sukma menatap tajam kepada Tembangi Mendayu ketika ia melihat gadis yang pernah dikalahkannya itu begitu dekat dengan suaminya.


Tembangi Mendayu yang baru saja kembali menyaksikan keganasan wanita mata hijau itu, jadi lebih memilih menjaga jarak dengan Joko Tenang. Ia harus sadar diri, statusnya bukanlah siapa-siapa Joko Tenang, meski ia masih mencintai pemuda berbibir merah itu.


“Kakang Prabu akhirnya bertemu dengannya,” kata Kerling Sukma dengan wajah datar sambil melirik sejenak kepada Tembangi Mendayu.


“Iya. Tidak mengapa,” kata Joko Tenang seraya tersenyum lembut kepada istrinya. “Tembangi hanya melepas rindu kepadaku.”


“Apakah Kakang Prabu akan menikahinya?” tanya Kerling Sukma.


“Dia tidak mau,” jawab Joko Tenang, tetap tersenyum demi merendam hati Kerling Sukma yang pasti panas, terlebih ia baru saja jadi pembunuh massal.


“Baguslah,” ucap Kerling Sukma.


Sementara itu, mau tidak mau, Joko Tenang harus mengobati Joko Tingkir dan Bidadari Wajah Kuning.


Meski pembawaannya tenang, tetapi ketika mendengar Bidadari Wajah Kuning kembali keracunan, Joko Tenang jadi terkejut. Meski ia dalam hati menaruh curiga, tetapi ia tidak menunjukkan kecurigaan itu. Petra Kelana pun memilih diam, tidak membongkar siasat genit bertaruh maut yang dilakukan oleh nenek cantik itu.


Meski hanya diam ketika diobati di dalam bilik kereta, tetapi di dalam hati Bidadari Wajah Kuning menikmati kebahagiaan itu. Jiwa mudanya tidak pernah hengkang dari dirinya. Padahal ketika diobati, Kerling Sukma hadir menyaksikan di dalam ruangan kereta yang cukup luas itu.


Lagi-lagi harus ada prajurit yang ditugaskan mencari air. Dan lagi-lagi Kerling Sukma harus memberi Bidadari Wajah Kuning pakaian gantinya yang terakhir.


Sementara Murai Manikam yang juga terluka parah, mendapat pengobatan dari Petra Kelana. Alangkah bahagianya kakek muda itu bisa mengobati Murai Manikam, meski hanya menggenggam kedua tangannya tekhnik pengobatan yang ia lakukan, berbeda dengan Joko Tenang yang pakai sentuh-sentih.


Setelah semua urusan terselesaikan, para pendekar non pasukan Sanggana Kecil semua berkumpul dalam satu forum yang dipimpin Joko Tenang dan Kerling Sukma.


“Aku akan kembali ke kediaman guruku,” kata Murai Manikam.


“Aku dan muridku akan ke Sanggana Kecil untuk menjenguk Surya Kasyara,” kata Linglung Pitura.


“Aku dan Tembangi akan pergi untuk urusan yang lain,” kata Gadis Cadar Maut.


“Aku ikut Kakak Gadis Cadar Maut!” sahut Joko Tingkir cepat.


“Kau pasti ingin mengikuti Tembangi Mendayu, bukan Kakak Cadar Maut!” tukas Lanang Jagad.


“Hahaha!” tawa Joko Tingkir. “Aku tidak akan berhenti berusaha.”


“Aku tidak sudi diikuti oleh Joko Tingkir!” tandas Tembangi Mendayu.


“Aku tidak mengikutimu, tapi aku mengikuti kakakmu!” bantah Joko Tingkir cepat.


“Huh!” Akhirnya Tembangi Mendayu hanya mendengus.


“Lanang Jagad, aku sudah datang ke Padepokan Hati Putih meminta tenaga pengajar untuk membuka pendidikan baca dan tulis di Sanggana Kecil, mungkin kau bisa membantu,” ujar Joko Tenang kepada Lanang Jagad.


“Karena kekasihku juga pergi ke sana, aku tentu ke sana juga, Gusti Prabu,” kata Lanang Jagad, membuat Rara Sutri hanya tersenyum malu karena semuanya memandangnya.


“Guru, aku ikut ke Sanggana Kecil, aku ingin bertemu dengan adikku,” kata Limarsih kepada Nenek Rambut Merah yang kemudian hanya mengangguk.


“Kau mau ke mana, Bidadari?” tanya Petra Kelana kepada Bidadari Wajah Kuning.


“Awalnya aku berniat mengunjungi adikku, tapi karena aku keracunan dua kali, aku masih khawatir ada reaksi susulan dari racun itu. Jadi, aku harus ikut Gusti Prabu,” jawab Nenek Wajah Kuning.


Petra Kelana jadi mencibir mendengar jawaban Bidadari Wajah Kuning.


“Karena kau memilih ikut Gusti Prabu, aku memilih mengikutimu,” kata Petra Kelana.


“Eh! Kenapa kau mengikutiku?” sentak Bidadari Wajah Kuning cepat dengan mata mendelik.


“Karena aku takut kau menjadi permaisuri berikutnya!” teriak Petra Kelana kepada si nenek cantik.


“Alasan saja jika kau jatuh cinta kepadaku. Hargaku terlalu mahal untukmu. Katakan saja kau berniat bertemu dengan Dewi Ara. Ingat, Petra, Dewi Geger Jagad itu sudah menjadi permaisurinya Gusti Prabu. Apalagi mereka sudah punya anak!” tuding Bidadari Wajah Kuning.


“Hahaha!” tertawa rendahlah mereka mendengar pertengkaran kedua orang tua berfisik muda itu.


Tiba-tiba pertemuan itu diusik oleh suara lari kuda dari kejauhan. Kuda itu berlari sekuat tenaga, sehingga dalam waktu singkat sudah tiba di dekat mereka berkumpul. Penunggang kudanya adalah seorang prajurit berseragam hitam, bermodel seperti pakaian prajurit Sanggana Kecil. Selain wajah berpeluh keringat, tampak ekspresinya begitu tegang, seolah ia membawa kabar tidak bagus.


“Lapor, Gusti Prabu!” teriak prajurit itu kencang, terbawa suasana jiwa dan pikirannya. Napasnya terengah-engah, seolah ia benar-benar usai berlari kencang di atas kuda.


“Katakan!” perintah Joko Tenang.


“Kerajaan diserang oleh pasukan Kerajaan Siluman, Gusti Prabu!” lapor prajurit utusan itu.


“Apa?!”


Yang memekik terkejut adalah Kerling Sukma, tapi yang lainnya ikut tegang. Sementara Joko Tenang sebagai raja hanya terdiam.


“Seberapa banyak?” tanya Joko Tenang kemudian.


“Sekitar lima ribu kekuatan. Tapi mereka memiliki ratusan pasukan pendekar,” jawab prajurit itu.


“Mereka memasuki wilayah pemakamannya,” ucap Joko Tenang serius.


Sementara itu, di saat yang sama di Istana Sanggana Kecil.


Ratu Getara Cinta dan ketujuh permaisuri lainnya sudah bersiap menghadapi perang.


“Lapooor! Pasukan musuh sudah memasuki hutan, Gusti Ratu!” teriak seorang prajurit yang datang dengan berlari.


“Ayo, kita buat ladang pembantaian bagi orang-orang yang berani menyerang Sanggana Kecil!” seru Ratu Getara Cinta lantang, lalu ia melangkah menuju ke luar.


Permaisuri Nara dan permaisuri lainnya mengikuti di belakangnya.


Setibanya di pelataran Istana, mereka melihat sekitar seribu pasukan militer telah siap dalam barisan yang rapi. Ada sebanyak dua ratus pasukan berkuda yang semuanya menunggu perintah. Pasukan Pengawal Bunga, Pasukan Hantu Sanggana, Pasukan Pedang Putri, dan Pasukan Penjaga Telaga juga sudah bersiap dalam barisannya masing-masing.


Belum pulangnya Senopati Batik Mida dari bulan madu, membuat Mahapati Turung Gali yang diserahi tugas untuk memimpin pasukan.


Ratu Puspa dan suaminya, Ki Renggut Jantung alias Abna Hadaya, sudah bersiap. Permaisuri Sri Mayang Sih juga sudah siap bersama Lima Pangeran Dua Putri. Tabib Rakitanjamu, Iblis Takluk Arwah dan Anyam Beringin alias Dewa Seribu Tameng hadir. Mantan Senopati Kerajaan Baturaharja Duri Manggala juga hadir bersama dua bawahannya, yaitu Tepuk Geprak dan Sepak Bilas. Serigala Perak berdiri dikawal oleh sembilan serigala besar.


Di sepanjang sisi atas benteng Istana telah berbaris pasukan panah. Gerbang besar benteng dalam kondisi tertutup rapat. Saat itu, jembatan utama atas parit yang mengelilingi Istana sedang di angkat, sehingga tidak ada jalan untuk keluar atau masuk ke dalam lingkungan Istana yang luas.


Sementara itu jauh di luar benteng Istana. Sekitar seribu pasukan berseragam warna hijau gelap sedang bergerak hati-hati di dalam hutan, yang membentang di depan benteng Istana Sanggana Kecil. (RH)


*****************


Seasson Baru


Chapter ini menjadi akhir dari seasson Misteri Kematian Pendekar (Mis Kekar). Chapter berikutnya akan menjadi awal seasson terbaru, yaitu Perang Pendekar Sanggana (Pepes).