
*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*
Putri Aninda Serunai berdiri terpana memandangi wajah pemuda yang katanya adalah kakak tirinya itu. Sebenarnya ia sudah pernah bertemu dengan pemuda berbibir merah itu di Perguruan Tiga Tapak, saat menjemput Putri Sri Rahayu. Namun, saat itu ia terlalu fokus kepada sosok Sri Rahayu yang dibencinya.
Meski tahu sosok cantik berkumis tipis di depannya adalah adiknya dari lain ayah, tetapi Joko Tenang tidak memberi senyum sedikit pun kepada Aninda Serunai. Dipandangnya sejenak tongkat sakti di tangan Aninda Serunai.
“Berhentilah membunuh dan menjadi jahat, Adikku. Kau mempermalukan dan membuat buruk citra leluhur Ratu Bibir Darah,” imbau Joko Tenang.
“Hihihi…! Adikku….” Tertawa Aninda Serunai mendengar perkataan Joko Tenang. Lalu katanya sambil berhenti tertawa tiba-tiba, “Aku tidak pernah merasa punya kakak. Kalian pasti menganggapku anak haram dan tidak akan pernah menganggapku sebagai anak dari Ningsih Dirama. Hanya Prabu Raga Sata yang menganggapku sebagai anak. Ketika aku mencapai kejayaanku sebagai orang tidak terkalahkan di dunia ini, kau tiba-tiba datang dan menyebutku adik. Bahkan kau datang terlambat!”
“Apa hebatnya menjadi orang yang tidak terkalahkan, jika masih berada di bawah perintah orang lain….”
“Siapa yang memerintahku?!” tanya Aninda Serunai membentak marah, memutuskan kata-kata Joko Tenang.
“Orang yang duduk di tahta Kerajaan Siluman. Kau tidak lebih sekedar kacung yang lehernya terikat rantai tahta Istana Siluman!” tandas Joko sengaja memprovokasi.
“Tidak akan aku biarkan. Setelah aku membunuhmu, akan aku rebut tahta Kerajaan Siluman!” teriak Aninda Serunai. Lalu teriaknya lagi, “Matilah kau!”
Zeerzz! Blarr!
Aninda Serunai menghentakkan tangan kanannya yang memegang tongkat. Satu aliran sinar cukup bagi Joko Tenang.
Para permaisuri, pasukan dan orang-orang yang mengenal Joko Tenang menjadi tegang-tegang cemas.
Namun, pemuda berompi merah itu cepat melompat ke samping dan Joko balas menghentakkan tangan kanannya, melepas Lima Jerat Terakhir.
“Bahaya!” pekik Tirana tegang.
Lima aliran listrik warna hijau melesat dari kelima jari tangan kanan Joko Tenang. Kelima sinar itu menjerat tubuh Aninda Serunai. Namun, jeratan sinar hijau milik Joko Tenang tidak membuat Aninda Serunai gelisah ataupun mengejang.
Zerzzz!
Justru dari Tongkat Jengkal Dewa melesat aliran sinar merah yang menjalari kelima sinar Joko dan menelannya.
Kini sebaliknya, lima aliran sinar merah yang balas menyerang dan menjerat Joko Tenang tanpa bisa dihindari.
Namun, semua terkejut, termasuk Aninda Serunai sendiri. Ternyata kesaktian Tongkat Jengkal Dewa tidak mempan kepada Joko Tenang.
“Pasti karena Joko adalah pewaris pusaka itu,” kata Murai Manikam, yang didengar oleh para istri Joko.
“Dua-duanya bisa kebal!” komentar Hantu Kaki Tiga terkejut.
“Kenapa bisa seperti ini?” tanya Aninda Serunai kepada dirinya sendiri. Ia heran.
Joko Tenang dan Tongkat Jengkal Dewa sudah saling berhenti. Pertarungan berhenti sejenak.
Zerzzz!
Karena tidak percaya, Aninda Serunai kembali melesatkan aliran sinar merah dari tongkatnya. Joko Tenang pun tidak menghindar. Sinar merah itu benar menjerat tubuh Joko Tenang, tetapi Joko tidak menjerit atau pun mengejang, apalagi sampai hangus.
“Kurang ajar!” teriak Aninda Serunai memaki.
“Apakah ada harapan untuk menang?” tanya Yuo Kai kepada Murai Manikam.
“Aku tidak tahu. Ini pertama kalinya ada dua ahli waris bagi pusaka itu dan saling berhadapan pula. Namun aku rasa, keuntungan tetap berada di pihak adik karena dia yang memegang tongkatnya,” kata Murai Manikam.
Aninda serunai lalu memendekkan kembali tongkatnya dan ia selipkan di sabuk belakangnya.
“Kau boleh kebal dari tongkatku, tetapi kita lihat, apakah kau juga kebal dengan ilmuku yang lain! Hiaat!” seru Aninda Serunai menghentakkan lengan kanannya.
Wezz! Sep!
Satu larik sinar biru berwujud seperti tombak panjang melesat menyerang Joko Tenang.
Sang prabu cepat melompat satu langkah ke depan lalu melakukan putaran tubuh sehingga punggungnyalah yang menyambut sinar itu. Rompi Api Emas meredam ilmu Aninda Serunai, membuat gadis itu mendelik. Sementara tubuh Joko Tenang sudah melesat maju kepadanya dengan tangan kanan bersinar hijau. Joko Tenang siap menghantamkan Tinju Dewa Hijau.
Blamm!
Ketika Joko Tenang sampai dan hampir menghantamkan tinjunya, tiba-tiba ada ledakan tenaga dahsyat tidak terlihat yang lebih dulu menghantam tubuh Joko Tenang.
Joko Tenang yang terkena ilmu Letupan Bunga Matahari, terpental hebat ke belakang dan jatuh sampai ke depan kaki para istrinya.
“Kakang Prabu!” sebut para istri sambil buru-buru berebut memegangi suaminya dan membantunya berdiri.
“Tidak apa-apa, tidak apa-apa!” kata Joko Tenang seraya tersenyum yang membuat para istri tenang hatinya. “Lepaskan aku, biarkan aku melanjutkan pertarungan!”
Para istri segera melepas tangan mereka dari tangan dan lengan suaminya. Joko Tenang kembali maju. Namun, ketika baru tiga langkah, tiba-tiba ia berhenti. Dari celah bibirnya merembes darah dari luka dalam yang tercipta.
“Tidak apa-apa!” sahut Joko Tenang dengan mulut penuh darah.
Sambil menahan luka dalamnya, ia kembali berlari maju ke arah Aninda Serunai. Namun, ilmu Letupan Bunga Matahari tadi membuat Joko Tenang harus menjaga jarak, demi keselamatan.
Sest!
Dengan kedua tangan yang bersinar hijau mengandung Tinju Dewa Hijau, ketika Joko Tenang mendekati posisi adik tirinya, tiba-tiba dari dalam tubuh Joko melesat benda putih yang menyerang.
Aninda Serunai agak terkejut dengan kemunculan benda yang adalah sebuah pedang buntung. Aninda Serunai cepat melompat menghindari serangan Pedang Singa Suci itu, seolah takut terlukai.
Sest!
Ketika Aninda Serunai mendarat, pedang itu berbalik arah dan menyerang punggung sang putri. Wanita berpakaian ungu itu kembali melompat.
Boom!
Ketika Aninda Serunai kembali melompat, Joko Tenang cepat ambil momentum. Ia maju dengan cepat. Tangan kiri menyambar pedang dan tangan kanan mendaratkan Tinju Dewa Hijau pada tubuh Aninda yang masih di udara.
Suara hantaman tinju itu sampai mengguncang seluruh gua dan bumi, karena Joko Tenang memang mengerahkan kekuatan maksimal. Langit-langit gua di depan dan dalam meruntuhkan rompalan halus, cukup untuk membuat panik para pendekar yang masih terjebak di seberang jurang.
Sementara Aninda Serunai yang terkena pukulan itu, hanya terdorong tiga tindak tanpa jatuh, di saat batu dinding mulut gua hancur sebagian.
Joko Tenang terus maju sambil mengibas-ngibaskan Pedang Singa Suci dengan gerakan cepat. Aninda Serunai melesat terbang mundur tapi rendah ke dalam gua. Melihat Aninda Serunai begitu menghindari Pedang Singa Suci, membuat Joko Tenang menduga bahwa pedang itu bisa melukai adiknya tersebut. Hal itu membuat Joko bernafsu untuk melukai Aninda dengan pedang.
“Kakang Prabu! Jangan masuk!” teriak Tirana cepat, yang menilai Joko Tenang telah masuk perangkap.
Mendengar teriakan Tirana, Joko Tenang jadi terkejut. Namun, justru itu membuat Aninda Serunai tertawa.
“Hihihi! Maafkan aku, kakakku yang tampan!” kata Aninda Serunai setelah tertawa, sambil tubuhnya melompat bersalto menghindari serangan pedang Joko.
Yang menjadi masalah adalah Aninda Serunai bersalto melewati atas kepala Joko Tenang dan mendarat tidak jauh dari mulut gua. Kini posisi Joko Tenang sama seperti posisi Tirana sebelum dia jatuh ke jurang.
Zoss! Zoss!
Graurrr!
Aninda Serunai memunculkan dua sinar biru muda menyilaukan pada kedua telapak tangannya.
Joko Tenang yang sudah sadar bahwa ia masuk dalam perangkap Aninda Serunai, cepat mengutus Macan Penakluk yang keluar dari cincin dan langsung menyerang adiknya.
“Hihihi!” tawa Aninda Serunai yang membiarkan tubuhnya diterkam dan diamuki macan sinar merah itu.
Namun, pada akhirnya Macan Penakluk hancur dengan sendirinya tanpa mampu melukai Aninda Serunai.
Bluar bluar!
Pada saat itu juga, Aninda Serunai melepas dua sinar di tangannya, seperti melepas merpati. Dua sinar biru menyilaukan dari ilmu Dua Matahari itu, naik ke udara lalu meledak dahsyat dengan sendirinya.
Kekuatan dua ledakan itu menghancurkan dinding, lantai, dan langit-langit gua. Pada saat yang sama kuatnya daya ledak dua sinar itu menghantam Joko Tenang yang tidak bisa mengelak, mementalkan tubuhnya dengan semburan darah yang parah.
Memandang Joko Tenang yang terpental ke dalam jurang melalui samarnya udara gua yang berdebu tebal, Aninda Serunai melambaikan tangan tanda perpisahan seraya tersenyum.
“Kakang Prabuuu!” teriak Putri Yuo Kai, Kerling Sukma, Sandarian, dan Sri Rahayu histeris bersamaan. Mereka semua menangis, termasuk Tirana yang sudah menduga akan seperti itu kondisi yang menimpa Joko.
“Akan aku bunuh kau, Wanita Iblis!” teriak Kerling Sukma sangat marah lalu hendak berkelebat pergi ke gua.
“Jangan, Mata Hijau!” seru Tirana sambil mencekal lengan Kerling Sukma yang menangis histeris. “Kakang Prabu tidak akan pernah mati jika jatuh ke jurang!”
Terdiamlah Kerling Sukma.
“Bidadari, cegah Kusuma Dewi!” teriak Sandaria.
Kusuma Dewi yang sedang bersama kakaknya, Limarsih, berlari terhuyung menuju mulut gua sembil menyeret pedang samurainya.
Clap!
Sri Rahayu tahu-tahu menghilang dan sekejap kemudian Kusuma Dewi juga menghilang.
“Munduuur!” teriak Tirana dengan suara yang bergetar menahan tangis. Hatinya terasa sakit sekali harus menerima kenyataan itu, meski ia begitu yakin bahwa suami mereka tidak akan mati.
“Munduuur!” teriak Senopati Batik Mida menguatkan perintah itu.
“Yakinlah, Kakang Prabu tidak akan mati!” bisik Sri Rahayu yang membawa tubuh Kusuma Dewi. Ia lalu memberi Kusuma Dewi pil penawar racun setelah menurunkannya.
Murai Manikam dan Dewi Bayang Kematian ikut rombongan para permaisuri mundur menjauhi mulut gua dan meninggalkan para pendekar yang masih banyak. (RH)