
*Perang Pendekar Sanggana (Pepes)*
Serombongan orang berpakaian hitam-hitam memacu kudanya meninggalkan kaki bukit kecil yang hijau tersebut. Hawa lembab dan dingin di daerah itu tercipta karena adanya keberadaan air terjun kecil yang lebih tinggi dari puncak bukit. Separuh dari area bukit diselimuti oleh tumbuhan lumut, membuatnya menjadi medan yang berbahaya jika tidak berhati-hati dalam berpijak.
Tiba-tiba di udara tinggi muncul terbang sesosok tubuh berwarna putih seperti kapas, berkepala botak sebagian, karena ia memiliki rambut pada bagian kepala atas berwarna merah dan panjang sampai ke bokong. Sosok kurus tinggi tidak berbaju lengkap itu adalah Jin Gurba.
Ia mendarat di pekarangan kecil sebuah pondok kecil yang ada seorang diri di puncak bukit. Kedatangan Jin Gurba membuat seorang kelaki tua berjubah kuning kunyit mendelik heran. Lelaki bertongkat bambu sepanjang setengah depa itu mengenal orang yang datang. Karenanya, itu membuatnya cukup keheranan dan bertanya-tanya.
“Jin Gurba,” sebut lelaki berambut putih gondrong itu pelan. “Keperluan apa yang kau bawa kepadaku?”
“Aku ingin berdagang denganmu, Ropo Bunang,” jawab Jin Gurba sambil berjalan ke hadapan kakek yang disebutnya bernama Ropo Bunang. Suaranya terdengar besar.
“Kau pikir aku masih butuh harta di usia seperti ini, Jin Gurba?” kata Ropo Bunang dingin.
“Kau memiliki keturunan yang memerlukan harta dan kekayaan,” kata Jin Gurba yang secara tidak langsung memberi ancaman, meski kata-katanya sangat jauh dari nada ancaman.
Ropo Bunang yang mengenal Jin Gurba jelas tahu maksud dari perkataan itu.
“Aku pun akan menawarkanmu Kitab Sentuhan Kuning. Apakah kau tertarik?” kata Jin Gurba. “Kau memang sangat tidak membutuhkan harta dan wanita, tetapi aku tahu kau masih sangat berambisi menjadi yang tersakti.”
“Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Ropo Bunang.
“Sebelum aku memberi tahu, aku ingin tahu lebih dulu, apa keperluan dari para prajurit khusus Kerajaan Siluman itu,” kata Jin Gurba.
“Penguasa baru Kerajaan Siluman mengundangku datang ke Istana Siluman,” jawab Ropo Bunang.
“Hanya itu?” tanya Jin Gurba.
“Ya.”
“Apakah kau tahu siapa penguasa Kerajaan Siluman sebelum Ratu Aninda Serunai?” tanya Jin Gurba.
“Prabu Raga Sata,” jawab Ropo Bunang.
“Bukan. Akulah yang bertahta setelah Raga Sata mati,” jawab Jin Gurba. “Lalu anak setan itu datang dan merebut tahta Kerajaan Siluman!”
“Hahaha!” tawa Ropo Bunang. Lalu tanyanya tidak percaya, “Kau kalah oleh anak kecil?”
“Anak haram Raga Sata itu menguasai Tongkat Jengkal Dewa,” kata Jin Gurba.
“Apa?!” kejut Ropo Bunang, benar-benar terkejut. “Jadi, Ratu Aninda itu adalah keturunan Ratu Bibir Darah?”
“Benar. Jadi sekarang kau diundang oleh orang yang tidak terkalahkan,” kata Jin Gurba. “Kau memiliki Racun Gaib. Aku rasa kau bisa mencoba peluang untuk meracuni Ratu Aninda. Awalnya aku ingin memintamu menyelinap ke Istana Siluman dan meracuninya, tapi ternyata kau justru diundang. Jelas ini kesempatan bagus.”
“Baiklah. Tapi ingat, Kitab Sentuhan Kuning. Gagal atau berhasil, kau harus memberikan harta dan tahta untuk keturunanku,” kata Ropo Bunang.
“Sepakat. Hahaha!” kata Jin Gurba lalu tertawa senang. Ia lalu melesat mundur ke udara lepas dan menghilang begitu saja.
Keesokan harinya, Ropo Bunang pergi ke Istana Siluman.
Setibanya di Istana Siluman, ternyata bukan hanya Ropo Bunang seorang yang diundang datang. Di Istana Siluman, ia bertemu dengan sejumlah pendekar lain aliran hitam yang terkenal sakti, bahkan dua di antaranya adalah ketua sebuah perguruan.
Ada sebanyak delapan orang tokoh aliran hitam yang diminta menunggu sebelum ditemui oleh Ratu Aninda Serunai.
“Hahaha!” tawa lelaki tua gemuk ladang lemak saat melihat kedatangan Ropo Bunang. Lelaki berpakai jubah hitam itu berjalan lambat mendatangi Ropo Bunang, seolah takut jika kaki kecilnya patah karena tidak kuat menahan beban tubuhnya.
“Jangankan Lemak Iblis dan Dedemit Bukit Lumut, Raja Tanpa Istana saja diundang,” kata kakek gemuk bernama Lemak Iblis dengan menyebut julukan Ropo Bunang.
Mereka sama-sama melemparkan pandangan kepada seorang kakek bertubuh tinggi besar dengan rambut putih lurus panjang sepinggang. Kepalanya dililit sebuah topi ala pendekar berbahan kulit harimau loreng. Kakek gagah tanpa kumis dan jenggot itu mengenakan jubah merah gelap. Orang itulah yang disebut Raja Tanpa Istana.
Raja Tanpa Istana sedang bercakap-cakap dengan seorang wanita tua berambut putih keriting, seperti nenek-nenek negeri jauh karena ia memiliki hidung mancung seperti paruh burung pemakan biji-bijian. Ia mengenakan pakaian kombinasi warna hitam dan kuning. Ia membawa pedang yang dijadikan tongkat. Nenek itu bernama Guru Peri Setan, Ketua Perguruan Peri Pemangsa.
“Bagaimana bisa ratu yang muda bisa mengenal orang-orang seperti kita?” tanya Ropo Bunang.
“Oh, jadi ratu itu masih muda?” tanya Lemak Iblis.
“Ya. Anak haram Prabu Raga Sata,” kata Ropo Bunang dengan berbisik.
“Oooh,” desah Lemak Iblis panjang.
Datuk Bibir Kuning muncul dari dalam ruangan. Ia yang datang dengan pakaian kebesarannya sebagai mahapatih mendapat perhatian dari para tamu undangan.
“Para orang sakti yang aku hormati, Gusti Ratu memanggil kalian untuk masuk!” seru Mahapatih Datuk Bibir Kuning.
“Siapa kau?” tanya Raja Tanpa Istana datar sambil datang menghampiri sang mahapatih.
“Aku Mahapatih Datuk Bibir Kuning,” jawab lelaki berjubah hijau terang itu. “Ikut aku!”
Kedelapan tokoh aliran hitam itu berjalan mengikuti Datuk Bibir Kuning.
Orang yang paling muda di antara tamu yang diundang adalah berusia lima puluh satu tahun, namanya Ki Bandel Perawan. Ia tokoh hitam yang sangat suka dengan gadis perawan, tetapi kesaktiannya membatasi hobinya itu. Ia berpantangan memerawani wanita lebih dari satu dalam masa lima purnama.
Mereka ternyata dibawa ke sebuah ruangan yang di dalamnya penuh hamparan jamuan makanan enak lagi lezat tampilannya. Dari daging anak bebek sampai daging babi tersedia, termasuk berbagai macam minuman juga tersedia, dari teh berbahan pucuk daun teh sampai darah segar. Rupanya pihak Istana tahu bahwa ada seorang tamu yang suka minum darah manusia, yaitu Putri Mata Merah.
Putri Mata Merah adalah seorang nenek yang kedua bola matanya bermata merah total, seperti pakai lensa kontak. Meski ia tidak masalah minum air keran tau air PAM, tetapi darah manusia adalah minuman favoritnya. Namun, ia tidak suka minum darah langsung dari daging, harus ditampung di wadah lebih dulu.
“Waw! Hahahak!” sorak Iblis Lemak lalu tertawa terbahak-bahak melihat sajian yang tergelar di atas meja-meja yang sudah di tata.
“Kau tertawa terbahak, aku yang rugi!” maki nenek bertubuh mungil berhidung pesek. Nenek berpakaian hitam itu bernama Nini Jarum Gaib.
“Aku rasa itu bisa dibungkus pulang. Hahaha!” kata Lemak Iblis lagi.
“Silakan, silakan, para pendekar!” kata Datuk Bibir Kuning.
Lebih sepuluh pelayan perempuan segera bekerja melayani. Satu per satu lalu duduk lesehan di belakang meja yang penuh dengan hidangan makanan.
“Gusti Ratu Aninda Serunai tibaaa!” teriak prajurit penjaga pintu dalam.
Semua mata pun memandang ke arah pintu lebar ruangan.
Aroma harum yang lembut lebih dulu menyeruak masuk ke dalam ruangan. Beberapa detik kemudian muncullah Ratu Aninda Serunai yang cantik jelita dengan bibir merahnya mencolok indah. Ia dalam tampilan anggun berwarna kuning, demikian pula dengan jubahnya yang bersulam emas. Ia terlihat begitu berwibawa, menunjukkan kepantasannya sebagai seorang penguasa kerajaan.
Di sisi kanannya berjalan seorang wanita tua bertongkat dan berjubah hitam bagus. Tongkatnya terbuat dari kayu hitam yang berukir seperti badan kelabang raksasa. Rambut putihnya digelung di atas kepala lalu dihiasi dengan tiara kecil dari emas, ditambah tusuk konde dari perak. Nenek bermata tajam terkesan kejam itu tidak lain adalah guru Ratu Aninda Serunai, namanya Siluman Ratu Siluman. Kini ia berstatus sebagai Penasihat Ratu Siluman.
“Ratu Siluman!” ucap sebagian dari tamu, terkejut melihat keberadaan Siluman Ratu Siluman.
Barulah semua tamu itu mengerti, kenapa ratu muda bisa mengundang tokoh-tokoh tua aliran hitam sesperti mereka. Rupanya ada faktor Siluman Ratu Siluman. (RH)