
*Perang Pendekar Sanggana (Pepes)*
Ketika Pasukan Kuda Kerajaan Sanggana Kecil muncul menyerang tiba-tiba dari arah belakang, ketika Senopati Siluman Pagar Maut bersama puluhan prajuritnya diterbangkan oleh ilmu Badai Malam Dari Selatan, Ratu Getara Cinta memberikan perintah puncak.
“Permaisuri Asap Racun dan Ibunda Ratu Sri, perintahkan pasukan pendekar Kerajaan Siluman untuk menyerah!” perintah Ratu Getara Cinta.
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Permaisuri Sri Rahayu patuh.
“Para Permaisuri yang mulia, kita tuntaskan peperangan ini!” perintah Ratu Getara Cinta kepada para permaisuri lainnya.
Zersss! Zersss! Zersss…!
Grraur! Kiik!
Tiba-tiba dari dalam tubuh Ratu Getara Cinta keluar makhluk sinar hijau berwujud macan bersayap burung. Kemudian menyusul keluar sinar merah berwujud burung bersayap capung dari dalam tubuh Tirana.
Menyusul makhluk sinar biru berwujud kalajengking bersayap kupu-kupu keluar dari dalam tubuh Nara. Makhluk sinar hitam berwujud naga hitam keluar dari dalam tubuh Kusuma Dewi. Dan makhluk sinar jingga berwujud belalang berekor tiga keluar dari tubuh Yuo Kai.
Makhluk-makhluk sinar penghuni Cincin Mata Langit itu melesat naik ke langit keluar dari dalam hutan. Suaranya yang keras mengejutkan semua pasukan Kerajaan Siluman. Kemunculan makhluk-makhluk aneh itu menambah nyali pasukan lawan semakin ciut.
Makhluk-makhluk itu kemudian berbalik menukik ke dalam hutan. Tirana, Yuo Kai, Nara, dan Kusuma Dewi segera melompat naik ke punggung makhluk miliknya masing-masing.
“Silakan naik, Permaisuri Dewi Ara!” kata Ratu Getara Cinta kepada Dewi Ara.
Dewi Ara lalu melompat naik ke atas punggung makhluk macan sinar hijau. Meski demikian, kendali macan bersayap burung itu ada pada pikiran Ratu Getara Cinta.
Zersss!
Selanjutnya, kelima makhluk itu melesat terbang bersamaan keluar dari hutan. Kelimanya melesat melewati atas arena pertempuran para pendekar dan sisa pasukan pimpinan Siluman Merah.
Pasukan pimpinan Siluman Kaki Baja kompak merunduk ketakutan saat kelima makhluk sinar raksasa itu terbang rendah, seolah berniat menyambar mereka. Namun, para permaisuri itu tidak melakukannya, meski mereka bisa melakukannya yang pasti menimbulkan korban ratusan orang.
Akhirnya, kelima permaisuri itu berhenti melayang bersama tunggangannya di belakang atas Joko Tenang, memberi ancaman kepada pasukan terakhir pimpinan Senopati Siluman Pagar Maut.
Pasukan berkuda Kerajaan Sanggana Kecil telah berhenti di posisi belakang pasukan musuh. Atas perintah Joko Tenang, mereka membatalkan serangan dan lebih memilih berjaga. Itu membuat pasukan musuh tidak memiliki jalan untuk mundur atau melarikan diri.
Bluar!
Ledakan dahsyat dari peraduan dua tenaga sakti terjadi jauh di belakang sana. Kerling Sukma yang tadi melesat mengejar tubuh Senopati Siluman Pagar Maut, telah melesatkan ilmu Api Putih kepada Senopati yang dalam kondisi baru saja bergulingan di tanah.
Siluman Pagar Maut yang baru saja kehilangan kendali atas tubuhnya, hanya bisa menciptakan sinar hitam berwujud lima garis di depan badannya menggunakan kesepuluh jari tangannya. Sinar putih berwujud bola berapi putih menghantam ilmu perisai Siluman Pagar Maut, menciptakan ledakan tenaga sakti yang dahsyat.
Hasilnya, tubuh Siluman Pagar Maut kembali terpental keras lalu jatuh cukup jauh.
“Uhhukr!” batuk Siluman Pagar Maut setelah berhenti terlempar. Dari batuk itu keluar darah segar.
Ia menatap tajam kepada Kerling Sukma yang ternyata memiliki tenaga dalam jauh lebih tinggi darinya. Padahal jelas, Kerling Sukma masih sangat muda dibandingkan dirinya.
Joko Tenang membiarkan istrinya itu bertarung dengan Senopati Siluman Pagar Maut. Sementara pasukan yang ada di hadapan Joko Tenang dan para permaisurinya, telah memutuskan menyerah massal, termasuk pasukan berkuda.
Di tengah Lereng Tiga Mata, Sandaria baru saja mengerahkan ilmu Dewi Bunga Dua, ilmu sinar hijau yang melakukan pemanggangan massal bagi orang-orang yang dikenainya. Belum lagi ditambah unjuk kesaktian para pendekar lainnya.
“Pasukan Siluman Kaki Baja menyerah!” teriak Siluman Kaki Baja yang sudah mengalami patah-patah tulang akibat ditabrak oleh Gimba.
Mendengar teriakan panglimanya, ratusan prajurit yang masih bertahan segera turun berlutut dan melepas semua senjatanya. Maka, semua pendekar Sanggana Kecil yang memerangi pasukan itu jadi berhenti.
Siluman Angin Api dan pasukan pendekar silumannya terkejut, ketika melihat kedatangan Permaisuri Sri Rahayu dan Ratu Sri Mayang Sih. Ibu anak itu datang dengan mengendarai asap merah tebal yang bergulung-gulung. Asap merah beracun itu meyelimuti tubuh bawah keduanya. Keduanya datang dan melayang di atas kepala pasukan para pendekar Sanggana Kecil.
“Gusti Ratu!” ucap Siluman Angin Api yang mulutnya sudah mengeluarkan darah karena bentrok melawan Iblis Takluk Arwah.
“Siluman Angin Api dan Pasukan Siluman Tingkat Dua! Hentikan perlawanan kalian!” seru Ratu Sri Mayang Sih.
Siluman Api tidak langsung menjawab. Ia justru memandang kepada para pendekar yang sebagian sudah berdarah-darah.
“Lihatlah ke belakang! Semua pasukan Kerajaan Siluman sudah menyerah! Apakah kaliah memilih bertahan hanya untuk mati?” kata Sri Rahayu.
“Lebih baik kami mati sebagai ksatria daripada harus terhina sebagai budak tahanan!” tegas Siluman Angin Api dengan mulut yang penuh oleh darah.
“Beberapa waktu lalu kalian adalah abdi-abdiku!” seru Ratu Sri Mayang Sih.
“Jika kalian menyerah dan mengabdi kepada kami, maka kalian akan diangkat sebagai prajurit Sanggana Kecil, bukan sebagai tahanan. Apa hebatnya kalian memilih bertahan jika hanya untuk mati atau kembali pun, kalian akan mati dibunuh oleh Aninda Serunai?” kata Sri Rahayu. “Kalian sudah melihat kehebatan pasukan Kerajaan Sanggana Kecil.”
“Aku menyerah!” kata sseorang pendekar siluman lalu melempar kedua pedang kecilnya ke tanah. Ia lalu turun berlutut.
“Aku menyerah!” kata seorang pendekar wanita lainnya. Ia membuang trisula dan tombak pendeknya.
Mendelik terkesiap Siluman Angin Api melihat tindakan prajuritnya.
“Aku juga!” kata yang lain.
Akhirnya, semua pendekar siluman yang masih bertahan memilih menyerah. Meski mereka unggul kesaktian secara rata-rata, tetapi jika melawan tiga pendekar tua sakti dan dikeroyok karena kalah jumlah, itu sangat berat.
“Aku akan menjamin nyawa kalian semua selama kalian patuh!” seru Sri Rahayu lantang.
“Baiklah, aku menyerah!” kata Siluman Angin Api akhirnya.
Jauh di belakang sana, Senopati Siluman Pagar Maut masih berusaha bertahan. Dia kini mencoba mengeluarkan ilmu pamungkasnya.
“Heaaa!” teriak Siluman Pagar Maut sambil menghentakkan kedua lengannya ke depan.
Seeets! Dredess!
Dari tubuh Siluman Pagar Maut melesat dua rangkai sinar merah berwujud bentangan pagar panjang. Ujung kedua sinar itu melesat menghantam Kerling Sukma, yang sudah menamengi dirinya dengan ilmu perisai Benteng Tiga Lapis.
Ternyata ilmu pagar Siluman Pagar Maut yang hebat tidak mampu mendobrak sinar benteng Kerling Sukma. Setelah itu, kaki Kerling Sukma bertolak kuat, membuat tubuhnya melesat sangat cepat ke arah Siluman Pagar Maut.
“Hah!” kejut Siluman Pagar Maut.
Sess!
Kerling Sukma datang dengan kedua tangan bersinar ungu menyilaukan mata. Begitu cepatnya lesatan tubuh Kerling Sukma, membuat Siluman Pagar Maut tidak bisa berbuat banyak.
Zes! Bluarr!
Siluman Pagar Maut hanya bisa menahan dengan kedua tangan bersinar merah. Namun, setinggi apa pun ilmu yang dikerahkan olehnya, tetap itu tidak akan bisa mengalahkan ilmu Roh Langit Empat, satu-satunya ilmu Roh Langit Tujuh yang masih tersisa.
Pertemuan dua ilmu itu menciptakan ledakan keras. Siluman Pagar Maut langsung terpental deras dalam kondisi sudah tidak bernyawa. Sementara Kerling Sukma tetap berdiri di tempatnya.
Dengan tewasnya Senopati Siluman Pagar Maut, maka usai sudah peperangan hari itu. Peperangan singkat yang menelan banyak korban. Pasukan Kerajaan Siluman yang menyerah akan menjadi tawanan perang. (RH)